Tidak Mungkin Diam: Ketika Hati Telah Berjumpa dengan Yesus

 

Sabda Tuhan tidak pernah berhenti.....Ia selalu menemukan jalan untuk diwartakan.

Ketika hati sungguh berjumpa dengan Kristus, kita tidak bisa tidak berkata-kata......

Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Sabtu, 11 April 2026 (Oktaf Paskah)

Warna Liturgi: Putih

Daftar Bacaan:
Kis 4:13-21
Mzm 118:1.14-15a.16a.18.19-21
Mrk 16:9-15


Tema:

Iman sejati tidak bisa disembunyikan.....ia mendorong kita untuk bersaksi.

Ayat Emas:
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!" (Mrk 16:15)


Renungan:

Dalam Injil hari ini, kita melihat bahwa perjalanan iman para murid pun dimulai dari kerapuhan yang sama. Mereka tidak langsung percaya pada kabar kebangkitan. Hati mereka tertutup oleh duka dan ketidakpercayaan. Namun Yesus yang bangkit tidak menjauh dari mereka. Ia datang, menampakkan diri, menegur dengan kasih, dan akhirnya mengutus mereka: “Pergilah ke seluruh dunia…”

Seringkali kita berpikir bahwa pewartaan adalah tugas orang-orang tertentu saja....mereka yang pandai berbicara atau punya pengalaman rohani yang besar. Sementara kita merasa belum siap, belum layak, dan akhirnya memilih untuk diam… menyimpan apa yang sebenarnya Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Kita menunggu saat yang tepat, menunggu diri kita siap, tetapi Sabda Tuhan tidak pernah menunggu.....Ia selalu ingin bergerak dan mencari jalan.

Lima bulan terakhir ini, saya belajar bahwa Sabda Tuhan selalu menemukan jalan-Nya. Dulu, ketika membaca dan mengendapkannya, seringkali hanya berhenti sebagai catatan kecil....di kertas, di handphone, atau tersimpan dalam laptop. Sabda itu tinggal dalam keheningan, menjadi penguatan pribadi.

Namun perlahan saya menyadari, Sabda itu tidak mau berhenti. Ia seperti mendesak keluar. Sampai akhirnya Tuhan membuka jalan.....melalui kesempatan sederhana untuk menuliskannya dan membagikannya lewat sarana digital. Dan apa yang tampak kecil itu, ternyata dipakai Tuhan untuk menjangkau hati banyak orang, bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah saya jangkau.

Di situlah saya mengerti: Sabda Tuhan memang hidup, dan Ia sendiri yang mencari jalan untuk diwartakan.

Seperti para rasul yang berkata: “Kami tidak dapat tidak berkata-kata…” (Kis 4:20), dorongan itu bukan berasal dari diri sendiri, tetapi dari pengalaman akan Tuhan yang nyata. Ketika hati sungguh disentuh, pewartaan bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan.

Di sinilah kuncinya: pewartaan lahir dari perjumpaan. Tanpa perjumpaan, pewartaan akan terasa kering—mudah lelah, mudah kecewa, bahkan marah ketika ditolak. Tetapi dengan perjumpaan, pewartaan menjadi mengalir. Ada kerendahan hati yang dibangun, dan ada sukacita yang lahir dari Roh Kudus (lih. Rm 14:17).

Santo Paus Paulus VI pernah mengajarkan bahwa manusia modern lebih suka mendengarkan kesaksian daripada pengajaran. Dan jika mereka mau mendengarkan pengajaran, itu karena pengajarnya adalah seorang saksi. Dunia tidak kekurangan kata-kata, tetapi kekurangan hati yang telah mengalami Tuhan.

Karena itu, kita tidak perlu menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai bersaksi. Belajarlah seperti Bunda Maria, yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya. Dari hati yang setia merenung, lahir hidup yang siap diutus.

Mulailah sederhana: merenungkan Sabda, menyimpannya, bahkan menuliskannya. Sabda yang kita hidupi hari ini akan menjadi terang bagi orang lain esok hari. Dan tanpa kita sadari, Tuhan sendiri yang akan memakai hidup kita sebagai jalan pewartaan-Nya.

Jika engkau sungguh berjumpa dengan Kristus, pewartaan bukan lagi beban....melainkan luapan kasih yang tak dapat dibendung.


Marilah Berdoa

Ya Bapa yang penuh kasih,
Engkau telah menyatakan Putra-Mu sebagai Tuhan yang hidup.
Datanglah ke dalam hatiku yang sering ragu dan takut.
Ajarlah aku untuk sungguh berjumpa dengan-Mu dalam Sabda-Mu setiap hari.
Bukalah jalan-jalan dalam hidupku agar aku berani membagikan kasih-Mu.
Jadikanlah aku saksi-Mu, dalam kesederhanaan hidupku sehari-hari.
Amin.


Catatan Katekese Singkat

Evangelii Nuntiandi, 41 menegaskan:
“Manusia zaman sekarang lebih suka mendengarkan para saksi daripada para pengajar; dan jika mereka mendengarkan para pengajar, itu karena mereka adalah saksi.”

Pewartaan yang paling kuat selalu lahir dari hidup yang telah mengalami Kristus.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati