Jangan menjadi upahan, jadilah Gembala
Renungan Harian – Senin, 27 April 2026 (Paskah IV)
Warna Liturgi: Putih
Daftar Bacaan:
Kis 11:1-18
Mzm 42:2-3; 43:3.4
Yoh 10:11-18
Ayat Emas:
"Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."
Renungan:
Dalam hidup dan pelayanan, tanpa kita sadari, sebenarnya hanya ada dua arah: menjadi semakin serupa dengan Yesus… atau perlahan berubah menjadi seperti “orang upahan”.
Hari ini, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak hanya menyatakan diri sebagai Gembala yang baik....Ia juga menunjukkan kontras yang sangat jelas:
gembala yang baik mengenal, mengasihi, dan rela memberikan hidupnya;
sedangkan orang upahan tetap bekerja selama situasi aman, tetapi ketika ada risiko, ia memilih pergi dan meninggalkan domba-dombanya.
Sabda ini dahulu ditujukan kepada para pemimpin agama yang tampak melayani, tetapi tidak sungguh peduli. Mereka menjalankan tugas, tetapi hati mereka jauh dari umat. Namun Sabda ini tidak berhenti di masa lalu.
Hari ini, Sabda ini juga berbicara kepada kita. Terutama bagi kita yang melayani di Gereja, dalam keluarga, dan dalam komunitas. Kita bisa aktif, sibuk, bahkan terlihat setia… tetapi pertanyaannya sederhana dan jujur: apakah kita sungguh mengasihi, atau hanya menjalankan peran?
Kadang tanpa sadar, kita mulai mencari kenyamanan dalam melayani....hadir selama dihargai, bertahan selama tidak ada risiko. Dan perlahan, pelayanan yang seharusnya menjadi ungkapan kasih berubah menjadi rutinitas tanpa hati.
Tuhan Yesus tidak hanya menunjukkan perbedaan itu, tetapi juga memberikan teladan. Ia tidak lari dari salib. Ia tidak meninggalkan ketika domba-Nya lemah. Ia tetap tinggal, bahkan sampai menyerahkan hidup-Nya. Kasih-Nya setia sampai akhir.
Maka hari ini, undangan itu menjadi sangat pribadi: dalam hidup dan pelayanan kita saat ini, kita sedang berjalan ke arah yang mana?
Adakah sikap seperti “orang Farisi” muncul dalam hati kita....ketika pelayanan menjadi rutinitas tanpa kasih, ketika kita tampak benar di luar tetapi dingin di dalam, ketika kita sibuk untuk Tuhan tetapi perlahan menjauh dari-Nya?
Namun Injil tidak berhenti pada teguran.
Yesus tidak hanya menunjukkan keadaan kita....Ia mengundang kita untuk berubah.
Hari ini, pilihannya tetap terbuka:
tetap menjadi upahan…
atau belajar menjadi gembala.
Ketika kita membuka hati untuk meneladani sikap Sang Gembala, kita tidak berjalan dengan kekuatan sendiri. Yesus sendiri yang menopang dan mengubah hati kita....pelan-pelan, dari dalam.
Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi tentang seberapa dalam kita mengasihi....dalam kesaksian hidup dan kesaksian iman kita.
Jangan hanya melayani karena tugas...belajarlah mengasihi seperti Kristus, Sang Gembala.
Marilah Berdoa
Bapa yang penuh kasih,
Engkau telah memberikan Putra-Mu sebagai Gembala yang baik bagi kami.
Sering kali aku melayani tanpa hati,
melakukan banyak hal tetapi kurang mengasihi.
Aku mudah setia saat semuanya berjalan baik,
namun goyah ketika harus berkorban.
Hari ini aku rindu berubah.
Bentuklah hatiku menjadi seperti hati Yesus,
yang mengenal, mengasihi, dan setia sampai akhir.
Berilah aku keberanian untuk tetap tinggal,
tetap mengasihi,
dan tetap setia dalam setiap pelayanan yang Engkau percayakan kepadaku.
Amin.
Catatan Katekese Singkat
Evangelii Gaudium (EG 24) menegaskan bahwa Gereja adalah komunitas murid yang “keluar”....berani mengambil langkah pertama, terlibat dalam hidup sesama, setia mendampingi, dan berbuah dalam kasih.
Seorang murid Kristus tidak hidup seperti “upahan” yang menjaga jarak, tetapi seperti gembala yang hadir, dekat, dan peduli. Ia tidak menunggu, tetapi mengambil inisiatif; tidak menjaga diri, tetapi memberi diri; tidak lari dari kesulitan, tetapi setia menemani dengan sabar.
Bahkan Paus Fransiskus mengingatkan bahwa para pewarta Injil harus memiliki “bau domba”....hadir di tengah kehidupan umat, dekat dengan mereka, dan sungguh mengasihi mereka.
Inilah wajah Gereja yang sejati: bukan yang jauh dan aman, tetapi yang dekat, terlibat, dan mengasihi....seperti Kristus, Sang Gembala yang baik.

Komentar
Posting Komentar