Ketika Tuhan Memanggil Namamu

 

Jika dalam hidupmu kamu sulit bertemu dengan Tuhan, 

“…atau setidaknya terbuka untuk membiarkan-Nya menjumpai kalian…” 
(Paus Fransiskus EG#3)

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Selasa, 07 April 2026 – Selasa Oktaf Paskah

(Peringatan Wajib St. Yohanes Baptista de la Salle, Imam – ditiadakan)
Warna Liturgi: Putih

Daftar Bacaan:
Kis 2:36-41
Mzm 33:4-5.18-19.20.22
Yoh 20:11-18


Ayat Emas:

“Maria!” (Yoh 20:16)


Renungan:

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa kehilangan arah. Kita mencari sesuatu yang berharga....makna hidup, penghiburan, bahkan Tuhan sendiri....namun seolah-olah semuanya hilang. 

Air mata menjadi bahasa yang paling jujur. Seperti Maria Magdalena di depan kubur, kita pun sering berdiri di “kubur-kubur” kehidupan kita: kegagalan, dosa, luka batin, atau harapan yang hancur. Kita menangis… dan bertanya dalam hati, “Di mana Engkau, Tuhan?”

Namun di tengah tangisan itu, Sabda Allah hari ini menyatakan sesuatu yang mengejutkan: Tuhan Yesus sebenarnya tidak pernah jauh. 

Maria tidak mengenali-Nya, padahal Ia berdiri dekat. Bahkan ketika Tuhan Yesus bertanya, “Mengapa engkau menangis?”, Maria masih terjebak dalam kesedihannya. 

Ini adalah gambaran kita juga....sering kali kita tidak menyadari bahwa Allah hadir, karena hati kita dipenuhi oleh ketakutan, kehilangan, dan kekecewaan.

Lalu terjadi momen yang sangat pribadi dan mengubah segalanya. Tuhan Yesus memanggil, “Maria!” Hanya satu kata—namun penuh kasih, penuh pengenalan, penuh keintiman. Allah mengenal kita secara pribadi. Ia memanggil nama kita. 

Dan pada saat itu, mata Maria terbuka. Air mata berubah menjadi iman. Kesedihan berubah menjadi sukacita. Ia tidak lagi mencari mayat, tetapi berjumpa dengan Tuhan yang hidup.

Inilah karya keselamatan Tuhan Yesus. Ia datang bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk mencari yang hilang, menyembuhkan yang terluka, dan memanggil kita kembali kepada kehidupan. Dalam Bacaan Pertama, Rasul Petrus berseru, “Bertobatlah!”....sebuah ajakan untuk membuka hati agar mengalami perjumpaan yang sama seperti Maria. Keselamatan bukan sekadar konsep, tetapi perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang bangkit. 

Seruan pertobatan ini bukan sekadar ajakan moral, melainkan jalan untuk mengalami perjumpaan itu sendiri. Ketika hati dibuka dan berbalik kepada Allah, kita mulai mampu mengenali kehadiran Tuhan Yesus yang sebelumnya tersembunyi di balik kesedihan, luka, atau dosa. Seperti Maria yang akhirnya mengenal Tuhan ketika dipanggil namanya, demikian pula kita—dalam pertobatan, kita tidak hanya mencari Tuhan, tetapi mengalami bahwa kita telah lebih dahulu dikenal, dikasihi, dan dipanggil secara pribadi oleh-Nya.

Paus Fransiskus mengajarkan didalam Evangelii Gaudium (EG 3), " Saya mengajak seluruh umat Kristiani, di mana pun, pada saat ini juga, untuk membarui perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, atau setidaknya terbuka untuk membiarkan-Nya menjumpai kalian"

Bahwa perjumpaan dengan Tuhan Yesus tidak selalu dimulai dari kemampuan kita mencari-Nya, tetapi dari kesediaan hati untuk terbuka. Ketika kita merasa lemah, jauh, atau tidak layak, kita tetap diundang untuk membuka diri, sebab Allah telah lebih dahulu menantikan kita dengan tangan terbuka.

Bahkan langkah kecil menuju-Nya sudah cukup untuk menyadari bahwa Ia sudah hadir, memanggil, dan mengasihi kita. Dalam terang ini, seperti Maria Magdalena yang akhirnya mengenali Tuhan ketika dipanggil namanya, kita pun diajak untuk percaya bahwa perjumpaan dengan Tuhan bukan pertama-tama hasil usaha kita, melainkan rahmat Allah yang menyapa hati yang terbuka.

Hari ini, kita pun diundang untuk mendengar suara Tuhan Yesus yang memanggil nama kita. Mungkin kita masih membawa luka, dosa, atau keraguan. Tetapi jangan takut. Datanglah kepada-Nya, biarkan Ia mengubah tangisanmu menjadi kesaksian. Seperti Maria Magdalena yang akhirnya berseru, “Aku telah melihat Tuhan!”, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi bahwa Tuhan hidup dan bekerja dalam hidup kita.

Belas kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia.


Marilah Berdoa:

Ya Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau mengenal kami lebih dalam daripada kami mengenal diri kami sendiri.
Di saat kami menangis dan merasa kehilangan,
Engkau hadir dan memanggil kami dengan penuh kasih.

Bukalah hati kami agar mampu mengenali kehadiran-Mu,
dan berilah kami keberanian untuk bertobat serta kembali kepada-Mu.
Ubahkanlah kesedihan kami menjadi sukacita,
dan jadikanlah kami saksi kasih-Mu dalam hidup sehari-hari.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat:

Seruan pertobatan merupakan inti dari pewartaan Injil. Katekismus Gereja Katolik 1427 menegaskan bahwa sejak awal Tuhan Yesus mewartakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Pertobatan pertama dan mendasar terjadi dalam Sakramen Pembaptisan, di mana manusia oleh iman meninggalkan yang jahat, menerima pengampunan dosa, dan memperoleh hidup baru dalam Allah. Karena itu, pertobatan bukan sekadar perubahan moral, tetapi masuk ke dalam hidup baru yang dianugerahkan Allah melalui rahmat-Nya.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati