Kamu Mencari Berkat… atau Mencari Tuhan?
Bukan tentang kurangnya berkat…
tetapi tentang kerinduan akan Tuhan.
👉 Baca selengkapnya,:
Renungan Harian – Selasa, 21 April 2026 (Paskah III)
Warna Liturgi: Putih
Bacaan:
Kis 7:51–8:1a
Mzm 31:3cd-4.6ab.7b.8a.17.21ab
Yoh 6:30–35
Tema:
Iman sejati bukan mencari pemberian Tuhan, tetapi menemukan Pribadi-Nya.
Ayat Emas:
“Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.” (Yoh 6:35)
RENUNGAN:
Ada lapar yang tidak bisa diisi oleh apa pun di dunia ini.
Bukan lapar tubuh… tetapi lapar hati.
Dan sering kali, tanpa sadar, kita datang kepada Tuhan hanya untuk mengisi “lapar-lapar kecil”...kebutuhan, masalah, harapan....tetapi bukan untuk Dia sendiri.
Kita ingin jawaban, jalan keluar, berkat, mukjizat.
Kita ingin hidup yang lebih baik, lebih aman, lebih nyaman.
Dan itu tidak salah.
Tetapi di kedalaman hati, ada sesuatu yang lebih besar: kerinduan akan makna, akan kasih yang tidak habis, akan kehadiran yang tidak pergi.
Sayangnya, sering kali kita berhenti pada “yang diberikan”, bukan “Si Pemberi”.
Dalam Injil hari ini, orang banyak datang kepada Yesus dan bertanya tentang tanda.
Mereka mengingat manna....roti dari surga di zaman Musa.
Mereka ingin bukti, mereka ingin jaminan, mereka ingin sesuatu yang bisa mereka lihat dan konsumsi.
Tetapi Yesus mengarahkan mereka jauh lebih dalam:
bukan roti yang fana… tetapi roti yang memberi hidup kekal.
Bukan pemberian… tetapi diri-Nya sendiri.
“Akulah roti hidup.”
Di sinilah hati kita dibongkar.
Berapa kali kita beriman secara “transaksional”?
Datang kepada Tuhan supaya diberkati… berdoa supaya dikabulkan… percaya supaya hidup lancar…
Tanpa sadar, Tuhan menjadi “sarana”, bukan tujuan.
Kita mencari roti… tetapi melewatkan Dia yang adalah Roti itu sendiri.
Namun Yesus tidak menolak kita.
Ia tidak mengusir orang banyak yang datang dengan motivasi yang belum murni.
Ia justru mengangkat mereka....dan kita....menuju iman yang lebih dalam.
Dari iman yang mencari berkat… menuju iman yang mencari Pribadi.
Dari kebutuhan sesaat… menuju hidup yang kekal.
Di sinilah transformasi itu terjadi:
dari “Tuhan, berikan aku apa yang aku mau”
menjadi
“Tuhan, jadilah Engkau yang aku cari.”
Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat jujur:
Apakah aku datang kepada Tuhan karena aku membutuhkan sesuatu… atau karena aku merindukan Dia?
Jika hari ini semua doaku tidak dikabulkan, apakah aku tetap ingin tinggal bersama-Nya?
Tuhan, aku tidak hanya menginginkan pemberian-Mu…
aku menginginkan Engkau.
Jangan berhenti pada roti...temukan Dia yang adalah Roti Hidup itu sendiri.
DOA:
Marilah berdoa:
Ya Bapa yang penuh kasih,
sering kali aku datang kepada-Mu hanya dengan daftar kebutuhan dan keinginanku.
Aku mencari tangan-Mu… tetapi melupakan wajah-Mu.
Hari ini, ubahlah hatiku.
Tariklah aku lebih dalam untuk mengenal dan mencintai Putra-Mu, Yesus Kristus, Sang Roti Hidup.
Ajarlah aku untuk tidak hanya mencari berkat,
tetapi tinggal dalam Engkau.
Biarlah Engkau menjadi kepenuhan hidupku,
yang mengenyangkan setiap lapar hatiku.
Amin.
Catatan Katekese singkat:
Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1324) ditegaskan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan kristiani”—artinya, iman kita tidak berhenti pada doa yang dikabulkan atau berkat yang diterima, tetapi mencapai puncaknya ketika kita menerima Yesus sendiri sebagai Roti Hidup. Di sinilah Injil hari ini menjadi nyata: Yesus tidak hanya memberi roti, Ia menjadi Roti itu. Maka setiap kali kita datang ke Ekaristi, kita tidak sedang mencari sesuatu dari Tuhan—kita sedang berjumpa, dipersatukan, dan dihidupkan oleh Dia sendiri.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar