Galilea: Tempat Kita Berjumpa Kembali dengan Tuhan
Karena di sanalah mereka pertama kali bertemu dengan Tuhan…
Mungkin kita tidak perlu pergi jauh…
Tuhan sedang menunggu kita di “Galilea” hidup kita sendiri.
👉Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Senin, 06 April 2026 – Senin Oktaf Paskah
Warna Liturgi: Putih
Daftar Bacaan:
Kis 2:14.22-32
Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11
Mat 28:8-15
Ayat Emas:
"Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." (Mat 28:10)
Renungan:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diliputi ketakutan: takut gagal, takut ditolak, takut menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Tanpa kita sadari, kita pun bisa perlahan menjauh dari Tuhan, kehilangan kehangatan relasi dengan-Nya. Hati menjadi dingin, doa terasa hambar, dan hidup berjalan seakan tanpa arah yang jelas.
Dalam Injil hari ini, para perempuan datang ke kubur dengan hati yang hancur.... harapan mereka seolah ikut mati bersama Tuhan Yesus.
Namun, di saat kondisi batin mereka terpuruk, Tuhan Yesus sendiri datang menjumpai mereka dan berkata: “Jangan takut!” Sabda ini menenangkan hati yang gelisah sekaligus memulihkan keberanian yang telah runtuh.
Tuhan Yesus kemudian berkata: “Pergilah ke Galilea, di sanalah mereka akan melihat Aku.” Galilea adalah tempat awal para murid dipanggil, tempat mereka pertama kali mengalami kasih Tuhan. Di sanalah mereka pernah jatuh cinta kepada Tuhan. Kini, mereka diajak kembali.
Galilea menjadi lambang tempat perjumpaan kembali dengan Tuhan. Bukan sekadar tempat geografis, tetapi tempat hati kembali kepada Allah. Dan yang menarik, Galilea adalah kehidupan sehari-hari.....bukan pusat religius. Artinya, Tuhan yang bangkit menunggu kita bukan di tempat yang jauh, tetapi dalam keseharian kita yang sederhana.
Di sinilah kita melihat wajah kasih Allah. Ia tidak menunggu kita menjadi kuat atau sempurna. Ia datang menjumpai kita dalam ketakutan, dalam luka, dan dalam keraguan. Ia memanggil kita kembali, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan. Bahkan ketika kita pernah jatuh, Allah tidak berhenti pada masa lalu kita. Ia selalu membuka jalan baru dan menantikan kita kembali kepada-Nya.
Melalui kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa maut bukanlah akhir. Ia hidup, dan Ia mengutus kita untuk menjadi saksi. Dari Galilea.....dari hidup kita sehari-hari.....kita diutus untuk membawa kabar baik kepada sesama. Pertemuan dengan Kristus yang bangkit selalu melahirkan perutusan.
Hari ini, Tuhan Yesus berkata kepada kita: “Jangan takut.” Kembalilah ke “Galilea-mu”.....ke kehidupanmu sehari-hari, ke relasi-relasi yang nyata, ke tempat di mana hatimu pernah dekat dengan Tuhan. Di sanalah Ia menunggumu untuk berjumpa kembali dengan-Nya. Dari perjumpaan itu, hidup baru perutusanmu dimulai.
Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.
Marilah Berdoa:
Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau telah membangkitkan Putra-Mu, Tuhan Yesus,
dan mengalahkan kuasa maut demi keselamatan kami.
Bimbinglah kami untuk kembali kepada-Mu,
terutama saat hati kami menjauh dan menjadi dingin.
Tolonglah kami menemukan Engkau kembali
dalam kehidupan kami sehari-hari.
Jadikanlah kami saksi kasih-Mu,
yang berani hidup dalam terang kebangkitan-Mu
dan mewartakan Injil kepada sesama kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Kebangkitan Kristus tidak hanya merupakan peristiwa iman, tetapi juga dasar perjumpaan pribadi dan perutusan. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 641) ditegaskan bahwa para murid menjadi saksi kebangkitan setelah berjumpa langsung dengan Kristus yang bangkit. Perjumpaan ini mengubah hidup mereka dan mengutus mereka untuk mewartakan Injil. Demikian pula setiap orang beriman dipanggil untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan menjadi saksi-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar