Datanglah dengan Apa Adanya.....
Renungan Harian – Rabu, 22 April 2026 (Paskah III)
Warna Liturgi: Putih
Daftar Bacaan:
Kis 8:1b-8
Mzm 66:1-3a.4-5.6-7a
Yoh 6:35-40
Ayat Emas:
"Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi." (Yoh 6:35)
Renungan:
Pernyataan Yesus, “Akulah roti hidup,” dalam ayat 35 dari Injil Yohanes yang sudah kita dengarkan kemarin, hari ini ditampilkan kembali. Ini bukan kebetulan.
Gereja sengaja mengulangnya untuk menegaskan inti iman kita: bahwa Yesus bukan sekadar pemberi berkat, melainkan sumber hidup itu sendiri. Ia adalah pusat dari segala yang kita cari, bahkan ketika kita sendiri belum sepenuhnya menyadarinya.
Setelah menyatakan diri sebagai Roti Hidup, Yesus tidak berhenti pada identitas-Nya. Ia melangkah lebih jauh.... memanggil setiap hati hati datang kepada-Nya.
Di sinilah Sabda hari ini menjadi sangat pribadi: bukan lagi soal apa yang kita cari, tetapi tentang apa yang Tuhan lakukan ketika kita datang kepada-Nya.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering merasa ada “lapar” yang tidak pernah benar-benar terpuaskan. Kita mengejar banyak hal....keamanan, pengakuan, kenyamanan, bahkan berkat-berkat rohani....namun tetap ada kekosongan yang diam-diam tinggal di dalam hati. Karena ruang hati itu hanya bisa dikenyangkan oleh Sang Roti Hidup.
Yesus tidak hanya berkata bahwa Ia adalah Roti Hidup, tetapi juga menyingkapkan kehendak Bapa: agar setiap orang yang datang kepada-Nya tidak hilang, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Ini adalah kabar sukacita yang besar....tidak ada seorang pun yang datang kepada Yesus akan ditolak.
Ini keselamatan, bukan hasil usaha manusia semata, tetapi karya kasih Allah yang aktif mencari, menerima, dan memulihkan. Bahkan ketika kita jatuh berulang kali, Tuhan tidak berubah dalam sikap-Nya. Ia tetap setia menghendaki kita kembali.
Lebih dari itu, Yesus memberikan janji yang melampaui hidup sekarang: hidup kekal dan kebangkitan. Ia tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi membawa kita masuk ke dalam kehidupan yang tidak berkesudahan. Inilah kepenuhan dari “Roti Hidup” itu....bukan hanya mengenyangkan hari ini, tetapi memberi hidup untuk selamanya.
Maka hari ini, undangan itu menjadi sangat pribadi, yaitu penggilan untuk datang kepada Sang Sumber Hidup. Apakah kita sungguh mau datang kepada-Nya? Datanglah bukan dengan kekuatan kita, melainkan dengan kejujuran hati. Membawa seluruh hidup....termasuk luka, kegagalan, dan dosa....serta percaya bahwa Ia tidak akan menolak.
Karena sering kali yang menghalangi kita bukan Tuhan yang jauh, melainkan hati kita yang ragu. Kita takut ditolak, padahal Yesus sudah lebih dahulu berkata: “Aku tidak akan membuang siapa pun yang datang kepada-Ku.” Di sinilah langkah iman itu dimulai....bukan karena kita sudah layak, tetapi karena kasih Allah yang lebih dahulu bekerja, menarik kita untuk kembali pulang kepada-Nya.
Jangan tunda untuk datang kepada Yesus....Ia menantimu, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberi hidup.
Marilah Berdoa
Bapa yang penuh kasih,
sering kali aku ragu untuk datang kepada-Mu
karena aku melihat kelemahanku sendiri.
Namun hari ini Engkau mengingatkanku
bahwa Engkau tidak pernah menolak aku.
Tariklah aku semakin dekat kepada Putra-Mu, Yesus,
agar aku berani datang apa adanya
dan percaya pada kasih-Mu yang setia.
Tuntunlah aku menuju hidup yang kekal.
Amin.
Catatan Katekese Singkat
Evangelii Nuntiandi (Paus Paulus VI) menegaskan:
“Tidak ada penginjilan sejati jika nama, ajaran, kehidupan, janji-janji, Kerajaan, dan misteri Yesus dari Nazaret, Putra Allah, tidak diberitakan.” (EN 22)
Iman kita berpusat pada pribadi Yesus. Dialah yang kita datangi, yang menerima kita, dan yang menyelamatkan kita.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar