Ular Tembaga dan Salib Kristus: Misteri Keselamatan yang Digenapi.

 

Yang dahulu dipandang untuk hidup, kini digenapi dalam salib Kristus.

Di saat kita lelah dan kehilangan arah, jangan lari...., pandanglah Dia yang ditinggikan, maka kamu akan hidup.

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Selasa, 24 Maret 2026 – Selasa Prapaskah V

Warna Liturgi: Ungu

Daftar Bacaan:
Bacaan I: Bil 21:4-9
Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3.16-18.19-20
Bacaan Injil: Yoh 8:21-30


Ayat Emas:

"Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia." (Yoh 8:28)


Renungan:

Pernahkah kita memperhatikan simbol ular yang melilit pada logo apotek atau dunia medis? Bagi banyak orang, simbol itu melambangkan penyembuhan dan harapan akan kesembuhan. 

Namun sedikit yang menyadari bahwa jauh sebelum dunia medis mengenal simbol itu, Kitab Suci sudah menghadirkan gambaran yang serupa: ular yang justru menjadi tanda keselamatan.

Dalam bacaan hari ini, umat Israel yang dipagut ular diselamatkan bukan dengan obat, tetapi dengan memandang ular tembaga yang ditinggikan. Sebuah tanda yang tampak sederhana, tetapi menyimpan misteri iman yang dalam: bahwa Allah dapat mengubah sumber kematian menjadi jalan kehidupan.

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita mengalami kelelahan batin. Ketika harapan tidak terpenuhi, doa terasa tidak dijawab, atau hidup terasa “hambar”, hati kita bisa mulai mengeluh. Tanpa sadar, kita menjadi seperti umat Israel di padang gurun: mudah bersungut-sungut, kehilangan arah, dan mempertanyakan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Sabda hari ini memperlihatkan realitas itu dengan sangat jujur. Umat Israel yang diselamatkan justru memberontak, dan akibatnya mereka mengalami kematian oleh ular-ular. Namun di tengah situasi itu, Allah tidak menutup jalan keselamatan. Ia memerintahkan Musa membuat ular tembaga: siapa yang memandangnya dengan iman, akan tetap hidup. Ini bukan sekadar tindakan fisik, tetapi sebuah undangan untuk percaya dan kembali kepada Allah.

Santo Agustinus mengingatkan bahwa ular tembaga itu melambangkan kematian akibat  dosa, tetapi dalam salib Kristus, Allah menghadirkan keselamatan yang menghidupkan.

Di sinilah kita melihat wajah kasih Allah yang tidak pernah menyerah terhadap manusia. Sekalipun manusia jatuh dalam dosa dan pemberontakan, Allah selalu menyediakan jalan pemulihan. Ia tidak menghapus manusia, melainkan mengangkat manusia kembali melalui tanda keselamatan. Kasih-Nya selalu lebih dahulu hadir daripada hukuman-Nya.

Dalam Injil, Tuhan Yesus menggenapi tanda itu. Ia sendiri akan “ditinggikan”.....di salib.....agar setiap orang yang memandang kepada-Nya dengan iman memperoleh hidup. 

Salib bukan lagi tanda kehinaan, tetapi menjadi sumber keselamatan. Di dalam salib itulah dosa manusia ditanggung dan dikalahkan, sehingga siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. 

Tuhan Yesus datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan, memulihkan, dan membawa manusia kembali kepada Allah.

Masa Prapaskah adalah undangan untuk “memandang kembali” kepada Tuhan Yesus. Bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi memandang dengan hati: mengakui dosa, percaya pada kasih-Nya, dan membiarkan diri diselamatkan.

Sering kali tanpa kita sadari, kondisi umat Israel itu juga kita alami dalam hidup kita.

Kita diberkati, dipelihara tetapi terkadang kita merasa lelah oleh rutinitas bahkan bersungut-sungut. Misalnya, Tuhan telah memberkati kita dengan pekerjaan, ketika menjelang akhir pekan, libur Sabtu-Minggu hati terasa senang, tetapi saat menghadapi hari Senin untuk memulai rutinitas pekerjaan kembali terasa berat. 

Di saat seperti itu, kita diajak berhenti sejenak dan menyadari diri, supaya kita tidak terus-menerus “terpagut” oleh dosa dan sikap hati yang menjauhkan kita dari Allah.

Mari lebih dalam  bertanya dalam hati: bukankah hidup yang sedang aku jalani ini adalah berkat dari Allah? Bukankah melalui pekerjaan, keluarga, dan keseharian ini, Allah sedang memelihara hidupku?

Di sanalah iman mulai tumbuh kembali—bukan karena keadaan berubah, tetapi karena hati kita diarahkan "memandang kembali" kepada Allah.

Memandang Dia yang ditinggikan berarti menghadirkan Dia dalam hal-hal sederhana: dalam pekerjaan yang kita jalani, dalam tanggung jawab yang kita pikul, dan dalam setiap detak kehidupan yang biasa kita alami dalam keseharian. 

Kita belajar mengubah keluhan menjadi syukur, rutinitas menjadi panggilan, dan kelelahan menjadi kesempatan merasakan bahwa Allah mengasihi kita. 

Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.


Marilah Berdoa

Allah Bapa yang penuh kasih,
kami sering kali jatuh dalam keluhan dan dosa,
dan menjauh dari hadirat-Mu.

Ajarlah kami untuk memandang kepada Putra-Mu, Tuhan Yesus,
yang telah ditinggikan demi keselamatan kami.
Berilah kami iman yang teguh,
agar kami tidak binasa dalam dosa,
melainkan memperoleh hidup yang Engkau janjikan.

Pulihkanlah hati kami,
dan tuntunlah kami untuk selalu percaya kepada-Mu
dalam setiap keadaan hidup kami.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa makna sejati Yesus sebagai Mesias baru dinyatakan sepenuhnya melalui salib. Di sanalah Ia memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, dan melalui pengorbanan itu, kasih Allah dinyatakan secara sempurna. Salib menjadi tanda Kerajaan-Nya, yaitu kasih yang menyelamatkan manusia (KGK 440).


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati