Saat Kita Menyangkal, Tuhan Tetap Mengasihi
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Selasa, 31 Maret 2026 – Selasa Pekan Suci
Warna Liturgi: Ungu
Daftar Bacaan:
Bacaan I: Yes 49:1-6
Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17
Bacaan Injil: Yoh 13:21-33.36-38
Ayat Emas:
"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali." (Yoh 13:38)
Renungan:
Dalam perjalanan hidup, kita sering berada di antara niat baik dan kelemahan nyata. Kita ingin setia, tetapi jatuh.
Kita berjanji mengasihi, tetapi dalam tekanan, kita bisa mundur. Ada saat di mana kita merasa telah berusaha, namun hasilnya seakan sia-sia. Bahkan, tidak jarang kita kembali jatuh, dan mengecewakan Tuhan.
Sabda hari ini menyingkapkan kenyataan yang sangat manusiawi: ada pengkhianatan dari Yudas dan penyangkalan dari Petrus. Dua murid yang dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi keduanya jatuh dalam cara yang berbeda.
Tetapi dari Kitab Yesaya kita mendengar panggilan Allah yang penuh kuasa: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.”
Di tengah kegagalan manusia, rencana Allah tetap berjalan......keselamatan tidak berhenti.
Yang menggetarkan hati adalah sikap Tuhan Yesus. Ia tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, Ia tahu siapa yang akan menyangkal-Nya. Namun Ia tidak menolak, tidak membalas, tidak menghancurkan.
Ia tetap mengasihi, bahkan roti yang dicelupkan itu diberikan kepada Yudas......sebuah tanda kasih yang terakhir. Inilah wajah Allah: kasih yang tidak berhenti sekalipun ditolak.
Tuhan Yesus tidak datang untuk mencari murid yang sempurna, tetapi untuk menyelamatkan manusia yang rapuh. Tuhan Yesus tidak mencari manusia yang tanpa kekurangan, tetapi hati yang mau terbuka bagi rahmat-Nya. Petrus yang menyangkal tidak dibuang, tetapi dipulihkan. Yudas pun sebenarnya tetap dikasihi, walau ia memilih jalan gelapnya. Dalam misteri ini kita melihat: keselamatan bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kesetiaan Allah.
Hari ini kita diajak bercermin: apakah kita seperti Yudas yang perlahan menjauh, atau seperti Petrus yang jatuh tetapi masih mau kembali? Injil adalah kabar baik, karena selalu ada jalan pulang. Tidak ada kegagalan yang terlalu besar bagi belas kasih Allah. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang mau kembali dan percaya.
Sering kali tanpa kita sadari, kita pun berada dalam posisi Petrus. Kita merasa kuat, merasa setia, bahkan berani berjanji kepada Tuhan, tetapi dalam kenyataan hidup, kita bisa jatuh dan menyangkal-Nya melalui sikap, pilihan, dan tindakan kita.
Sabda ini mengingatkan kita untuk tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan hidup dalam kerendahan hati dan mengandalkan rahmat Allah. Namun sekaligus menjadi kabar baik: kejatuhan bukanlah akhir, karena Tuhan Yesus tetap mengasihi dan selalu membuka jalan bagi kita untuk bangkit dan kembali kepada-Nya.
Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.
Marilah Berdoa:
Ya Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau mengenal kelemahan kami, bahkan sebelum kami menyadarinya.
Sering kali kami jatuh, menyangkal, bahkan menjauh dari-Mu.
Namun Engkau tetap setia mengasihi kami tanpa syarat.
Ajarlah kami untuk tidak putus asa atas diri kami sendiri,
melainkan berani kembali kepada-Mu dengan hati yang rendah.
Pulihkanlah kami, kuatkanlah kami,
dan jadikanlah kami terang bagi sesama,
seperti kehendak-Mu sejak semula.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Gereja mengajarkan bahwa kasih Allah selalu terbuka bagi semua orang. “Allah tak pernah lelah mengampuni kita; kitalah yang sering lelah kembali kepada-Nya” (Evangelii Gaudium, 3).
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar