Mengapa Kita Sulit Mengampuni?
Renungan Harian – Selasa, 10 Maret 2026 – Selasa Prapaskah III
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan:
Bacaan I: Daniel 3:25.34-43
Mazmur Tanggapan: Mazmur 25:4b-5b.6.7c.8-9
Bait Pengantar Injil: Yoel 2:12-13
Bacaan Injil: Matius 18:21-35
Ayat Emas:
“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22)
Renungan:
Dalam perjalanan hidup, setiap orang pernah mengalami luka hati. Kita disakiti, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil. Luka-luka itu sering tinggal lama di dalam hati.
Kadang kita ingin memaafkan, tetapi tidak mudah. Ada bagian dalam diri manusia yang ingin menuntut keadilan, bahkan membalas. Dalam pergulatan batin seperti ini, kita menyadari betapa rapuhnya hati manusia dan betapa sulitnya mengampuni dengan tulus.
Sabda Tuhan hari ini menyingkapkan pergulatan yang sama. Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni?” Bagi orang Yahudi saat itu, mengampuni tujuh kali sudah dianggap sangat murah hati.
Namun Tuhan Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Artinya, pengampunan dalam Kerajaan Allah tidak dihitung dengan angka, tetapi lahir dari hati yang terus diperbarui oleh kasih Allah.
Dalam Bacaan Pertama, Azarya berdoa dari tengah api dengan “jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah.” Ia menyadari dosa bangsanya dan memohon belas kasihan Allah.
Doa ini menunjukkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Allah tidak menolak hati yang hancur karena pertobatan. Ia selalu membuka pintu rahmat bagi mereka yang kembali kepada-Nya dengan kerendahan hati.
Injil hari ini memperlihatkan kontras yang sangat kuat. Seorang hamba dihapuskan hutangnya yang sangat besar oleh rajanya. Itu adalah gambaran betapa besar belas kasih Allah kepada manusia.
Namun hamba itu justru tidak mau mengampuni kawannya yang berhutang kecil kepadanya. Di sinilah Tuhan Yesus menegaskan bahwa orang yang sungguh mengalami belas kasih Allah seharusnya memancarkan belas kasih itu kepada sesama.
Perumpamaan ini mengundang kita untuk berefleksi dengan jujur dalam hati kita:
Apakah kita hanya menerima pengampunan Allah, tetapi belum menghidupinya?
Apakah kita masih “mencekik” orang lain dalam hati melalui kepahitan dan penolakan?
Sering kali kita tidak mencekik secara fisik, tetapi kita bisa melakukannya dalam hati: dengan terus mengingat kesalahan orang lain, menutup hati, atau menolak berdamai. Di situlah Injil hari ini menantang kita untuk mengambil sebuah pilihan.
Orang yang sungguh mengalami belas kasih Allah akan perlahan menjadi orang yang penuh belas kasih.
Masa Prapaskah adalah waktu rahmat untuk membiarkan hati kita disembuhkan oleh belas kasih Allah. Ketika kita sungguh menyadari betapa besar dosa yang telah diampuni oleh Tuhan, perlahan hati kita menjadi lebih lembut untuk mengampuni orang lain. Pengampunan bukan sekadar kewajiban moral, tetapi buah dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.
Allah tidak pernah lelah mengampuni manusia; justru manusialah yang sering lelah untuk kembali dan mengampuni sesamanya.
Injil tidak berhenti pada teguran. Di baliknya ada kabar baik yang diwartakan.
Jika Tuhan Yesus mengajarkan pengampunan tanpa batas, itu berarti Allah sendiri lebih dahulu mengampuni tanpa batas.
Karena itu kita tidak perlu takut datang kepada-Nya.
Allah tidak menunggu manusia menjadi sempurna. Ia hanya menunggu hati yang bersedia kembali dan berubah.
Belas kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia, dan pengampunan-Nya selalu membuka jalan baru bagi hidup kita.
Marilah Berdoa:
Ya Allah Bapa yang penuh belas kasih,
Engkau tidak menolak hati yang remuk redam dan yang kembali kepada-Mu.
Ampunilah dosa-dosa kami dan lembutkanlah hati kami yang sering keras dan mudah menyimpan luka.
Ajarlah kami untuk mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami.
Semoga dalam hidup sehari-hari kami mampu menjadi saksi belas kasih-Mu bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Gereja mengajarkan bahwa pengampunan adalah inti kehidupan Kristen. Dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, kita memohon: “ampunilah kami seperti kami pun mengampuni.” Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa tidak ada batas bagi pengampunan yang berasal dari Allah, dan hati manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam belas kasih itu dengan mengampuni sesamanya. Hati yang menolak mengampuni menutup diri terhadap rahmat Allah, sedangkan hati yang mengampuni menjadi tempat di mana belas kasih Allah bekerja dan memulihkan kehidupan manusia. (Katekismus Gereja Katolik, KGK 2840–2845).
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar