Kembali kepada Allah yang Mengasihi

 

Sering kali kita mencari banyak hal dalam hidup, tetapi pada akhirnya hati manusia hanya dapat beristirahat di dalam Allah.

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Jumat, 13 Maret 2026 – Jumat Prapaskah III

Warna Liturgi: Ungu

Daftar Bacaan:
Bacaan I: Hos 14:2-10
Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17
Bait Pengantar Injil: Mat 4:17
Bacaan Injil: Mrk 12:28b-34


 Ayat Emas:

“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk 12:30)


Renungan:

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali tanpa sadar mencari tempat bergantung yang keliru. 

Kita terlalu mengandalkan banyak hal: kekuatan diri, harta, jabatan, pengakuan manusia, bahkan relasi dan status sosial. Tanpa sadar, semua itu bisa menjadi tempat kita menggantungkan rasa aman.

Tanpa sadar sedikit demi sedikit, hati kita bisa melekat pada “tuhan-tuhan kecil” yang kita ciptakan sendiri. Semakin mengarahkan hati kesana, kita seperti orang yang terjebak dalam pasir hisap. Semakin kita berusaha menyelamatkan diri dengan kekuatan sendiri, semakin kita tenggelam lebih dalam.

Kita tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Di situlah manusia dikatakan  'tergelincir' seperti bangsa Israel pada zamannya. Harus ada penolong supaya ia dapat selamat. 

Melalui nabi Hosea, TUHAN memanggil umat-Nya untuk kembali. Mereka diajak mengakui kesalahan dan meninggalkan berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri. TUHAN berkata bahwa Ia akan memulihkan umat-Nya, menyembuhkan penyelewengan mereka, dan mengasihi mereka dengan sukarela. Allah tidak hanya menuntut pertobatan, tetapi juga menjanjikan pemulihan dan kehidupan baru bagi mereka yang kembali kepada-Nya.

Mazmur hari ini mengingatkan bahwa Allah terus berseru kepada umat-Nya: Dengarkanlah suara-Ku. 

Dalam setiap zaman, suara itu tetap bergema di dalam hati manusia. Allah tidak berhenti memanggil, mencari, dan menantikan anak-anak-Nya yang tersesat. 

Pertobatan itu sebenarnya adalah respon manusia saat berhenti sejenak, mendengarkan suara Allah, dan berani melangkah kembali kepada-Nya. 

Umumnya saat peristiwa pertobatan dialami seseorang, itu menjadi titik balik, hidup yang lama diubah menjadi hidup yang baru.

Dalam kehidupan iman, pertobatan bukan hanya sebuah peristiwa sesaat, tetapi sebuah perjalanan. Allah terus bekerja dalam hidup kita, membentuk hati kita melalui banyak pengalaman, sehingga sedikit demi sedikit kita semakin kembali kepada-Nya. 

Dalam Injil, Tuhan Yesus menyingkapkan inti dari seluruh hukum Allah: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Tuhan Yesus datang bukan hanya untuk mengajarkan hukum itu, tetapi untuk memulihkan hati manusia agar mampu hidup dalam kasih. 

Melalui hidup dan pengorbanan-Nya, Ia mencari yang hilang, menyembuhkan yang terluka, dan mengembalikan manusia kepada Allah.

Masa Prapaskah mengundang kita untuk melihat kembali hati kita. Mungkin ada “berhala-berhala kecil” yang diam-diam menguasai hidup kita.

Tetapi jangan takut, kabar baik Injil telah nyata, bahwa  Allah tidak pernah berhenti mencari kita. Ketika kita kembali kepada-Nya, kita seperti anak domba yang hilang telah ditemukan-Nya, digendong dan dikasihi-Nya. 

Dari kasih itulah lahir pertobatan yang sejati, yang memungkinkan kasih itu bekerja dalam diri kita untuk mengasihi sesama, seperti diri kita sendiri. 

“Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.”

 Augustine of Hippo


Marilah Berdoa:

Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau mengenal kelemahan hati kami yang sering tergoda mencari sandaran di luar diri-Mu.
Ampunilah kami ketika kami menjauh dan mengikuti jalan kami sendiri.

Bukalah hati kami untuk mendengarkan suara-Mu yang memanggil kami kembali.
Pulihkanlah hidup kami dengan kasih-Mu,
agar kami mampu mengasihi Engkau dengan segenap hati
dan mengasihi sesama dengan tulus.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat:

Pewartaan Injil selalu dimulai dengan ajakan untuk bertobat dan kembali kepada Allah.  Gereja mengajarkan bahwa inti Injil adalah pewartaan keselamatan dalam Yesus Kristus yang mengundang manusia untuk bertobat dan mengalami kehidupan baru. Injil bukan pertama-tama sebuah tuntutan moral, tetapi kabar gembira bahwa Allah lebih dahulu mengasihi manusia dan memanggilnya kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya. (EN.10)


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati