Ditolak Bukan Alasan Berhenti Mengasihi
Renungan Harian – Jumat, 27 Maret 2026 – Jumat Prapaskah V
Warna Liturgi: Ungu
Daftar Bacaan:
Bacaan I: Yer 20:10-13
Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc-4.5-6.7
Bait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b
Bacaan Injil: Yoh 10:31-42
Ayat Emas:
“Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah kamu percaya kepada-Ku.” (Yoh 10:37)
Renungan:
Dalam hidup sehari-hari, kita sering berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah: niat baik tidak selalu diterima dengan baik. Bahkan dalam pelayanan, dalam keluarga, atau relasi terdekat, apa yang kita lakukan dengan tulus bisa saja disalahpahami. Dari pengalaman sederhana ini, kita belajar satu hal: tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan.
Seperti pernah direnungkan dalam percakapan sederhana: jika kita berbuat baik, apakah semua orang suka? Tidak. Pasti ada yang tidak suka. Tetapi jika kita berbuat jahat, apakah semua orang tidak suka? Ternyata tidak juga—ada saja yang menyukai atau membenarkannya.
Maka pada akhirnya, apa pun yang kita lakukan, selalu ada dua respons: penerimaan dan penolakan. Kalau begitu, mengapa kita tidak tetap memilih untuk berbuat baik?
Pengalaman ini ternyata sangat nyata dalam Sabda hari ini. Nabi Yeremia menghadapi penolakan bahkan dari orang-orang terdekatnya. Namun ia tetap percaya: “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah.” Ia tidak berhenti karena penolakan. Ia tidak mengubah jalannya demi menyenangkan semua orang. Ia tetap berjalan bersama TUHAN.
Lebih dalam lagi, dalam Injil, Tuhan Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Ia berbuat baik, menyatakan kasih Allah, bahkan melakukan karya-karya yang nyata. Namun Ia tetap ditolak, bahkan hendak dirajam.
Tetapi Tuhan Yesus tidak berhenti mengasihi. Ia tidak menyesuaikan diri dengan keinginan manusia, melainkan tetap setia pada kehendak Bapa.
Di sinilah kita menemukan kedamaian sejati. Bukan ketika semua orang menerima kita, tetapi ketika kita tahu bahwa kita hidup dalam kebenaran, kebaikan, dan kasih. Hati kita damai bukan karena penilaian manusia, tetapi karena kita berjalan sesuai dengan kehendak Allah.
Ketika kita mengasihi, kita sedang melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus: “Hendaklah kamu saling mengasihi.”
Maka hari ini kita diajak untuk tidak takut akan penolakan. Tetaplah berbuat baik. Tetaplah mengasihi. Biarlah ada yang tidak suka—itu bagian dari perjalanan iman. Yang terpenting, kita tetap tinggal dalam kasih Allah dan menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.
Marilah Berdoa:
Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau mengenal hati kami dan setiap niat baik yang kami usahakan.
Ketika kami mengalami penolakan atau disalahpahami,
teguhkanlah hati kami agar tidak menyerah dalam berbuat baik.
Ajarlah kami untuk tetap mengasihi seperti Tuhan Yesus mengasihi,
tidak tergantung pada penerimaan manusia,
melainkan setia pada kehendak-Mu.
Berikanlah kami damai sejati dalam hati,
karena kami berjalan dalam kebenaran dan kasih-Mu.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Dalam Katekismus Gereja Katolik artikel 1825 ditegaskan bahwa kasih Kristiani adalah kasih yang sabar, murah hati, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih ini tidak bergantung pada balasan manusia, melainkan mengalir dari Allah sendiri. Karena itu, umat beriman dipanggil untuk tetap mengasihi, bahkan ketika tidak diterima atau dihargai.

Komentar
Posting Komentar