Jurang yang Tak Terseberangi
Hari ini kesempatan masih ada.Jangan biarkan hati membatu sebelum kasih diwujudkan.
Renungan Kamis, 5 Februari 2026:
RENUNGAN HARIAN – Kamis, 5 Maret 2026 – Kamis Prapaskah II
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Yer 17:5-10
Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2.3.4.6
Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Bacaan Injil: Luk 16:19-31
Ayat Emas:
"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yer 17:7)
Renungan:
Dalam Bacaan I dari Kitab Yeremia, TUHAN menegaskan dua jalan hidup: mengandalkan manusia atau mengandalkan TUHAN.
Orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri digambarkan seperti semak di padang gurun: kering, sepi, tanpa buah. Sebaliknya, yang menaruh harapan pada TUHAN seperti pohon di tepi aliran air: tetap hijau bahkan di musim kering dan tidak berhenti menghasilkan buah. Perbedaannya terletak pada di mana hati kita bertumpu.
Bacaan Injil hari ini menghadirkan gambaran konkret tentang hati yang perlahan menjadi tertutup. Orang kaya dalam kisah Tuhan Yesus bukan digambarkan sebagai pelaku kejahatan yang berat.
Ia hanya hidup dalam kemewahan dan tidak peduli pada Lazarus yang terbaring di depan pintunya. Barangkali ia merasa hidupnya baik-baik saja. Namun dibalik itu, Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa hati yang tidak peka dan menutup diri terhadap sesama menjadi Jurang yang kemudian terbentang setelah kematian
Ini bukan semata-mata soal kaya atau miskin, tetapi soal arah hati dan kepekaan batin. Harta dapat membuat hati menjauh dari Allah ketika kita merasa cukup dengan diri sendiri. Kemapanan dapat membuat kita lupa bahwa kasih harus diwujudkan.
Ketika Tuhan Yesus berkata, “Jika mereka tidak mendengarkan Musa dan para nabi…”, sebenarnya Ia sedang mengingatkan bahwa hukum kasih "mengasihi Allah dan mengasihi sesama", sudah lama dinyatakan dalam seluruh Kitab Suci.
Sabda Allah sudah cukup untuk menuntun hidup dalam kebenaran. Tetapi masalahnya adalah hati yang tidak mau mendengarkan.
Masa sekarang adalah masa dimana kita telah mengenal Kristus yang menyerahkan diri karena kasih-Nya. Jangan sampai hati kita menjadi seperti yang dikatakan Yeremia: licik dan membatu, sehingga tidak lagi tersentuh oleh firman-Nya. Di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi. Ia menyelidiki hati dan menguji batin.
Maka marilah kita membuka diri, melembutkan hati, dan sungguh mendengarkan Sabda, supaya hidup kita menghasilkan buah dalam ketekunan dan mewujudkan kasih yang nyata kepada sesama.
Janganlah kita menjadi seperti orang kaya yang merasa aman, tetapi kehilangan belas kasih. Biarlah akar hidup kita tertanam dalam Allah, sehingga kita sungguh menjadi pohon yang berbuah kasih bagi Lazarus-Lazarus di sekitar kita.
Marilah Berdoa
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau mengenal hati kami lebih dalam daripada kami mengenal diri sendiri.
Sering kali kami merasa cukup dengan kekuatan kami
dan lupa bahwa Engkaulah sumber kehidupan sejati.
Lembutkanlah hati kami yang mudah mengeras oleh kenyamanan.
Bukalah telinga batin kami agar sungguh mendengarkan Sabda-Mu.
Semoga dalam masa Prapaskah ini
kami semakin menaruh harapan hanya kepada-Mu
dan menghasilkan buah kasih dalam hidup sehari-hari.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
- Pertobatan sejati adalah pertobatan hati; pembaruan batin yang lahir dari mendengarkan Sabda Allah.(KGK 1430)
- Karya-karya belas kasih jasmani dan rohani adalah ungkapan konkret kasih kepada sesama; mengabaikan orang miskin berarti gagal menghidupi Injil.(KGK 2447)
- Iman sejati kepada Kristus selalu melibatkan perhatian dan kedekatan nyata kepada mereka yang miskin dan menderita. (EG.193)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar