Allah selalu menunggu kita pulang.


Kadang manusia menjauh dari Allah karena pilihan hidupnya sendiri. Namun Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang sangat indah: Allah tidak pernah berhenti menunggu kita pulang.

Ketika anak yang hilang itu kembali, Bapa berlari menyambutnya dengan pelukan penuh kasih.

👉 Baca selengkapnya: 


Renungan Harian – Sabtu, 7 Maret 2026 – Sabtu Prapaskah II

Peringatan Wajib Santo Perpetua dan Felisitas, Martir

Warna Liturgi: Ungu

Daftar Bacaan:
Mi 7:14-15.18-20
Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Luk 15:1-3.11-32


Ayat Emas:

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:24)


Renungan:

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang manusia mengalami masa-masa tersesat. Ada saat ketika kita merasa jauh dari Allah, jauh dari nilai-nilai yang dahulu kita pegang. 

Mungkin karena pilihan yang keliru, karena godaan dunia, atau karena luka batin yang membuat hati menjadi keras. Namun di saat-saat seperti itu, sering muncul kerinduan yang halus di dalam hati: kerinduan untuk pulang, kerinduan untuk kembali kepada kehidupan yang benar.

Injil hari ini menghadirkan salah satu perumpamaan paling indah tentang kasih Allah: kisah anak yang hilang. Anak bungsu itu memilih meninggalkan rumah, menghabiskan hartanya dalam hidup yang tidak terarah, hingga akhirnya jatuh dalam kemiskinan. 

Namun titik balik terjadi ketika ia menyadari keadaannya dan berkata dalam hati, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku.” Kesadaran ini menjadi awal pertobatan.

Yang paling menyentuh dalam kisah ini adalah sikap sang ayah. Ketika anak itu masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 

Ia bahkan berlari menyambut anaknya, sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi seorang ayah pada zaman itu. Tidak ada kata-kata yang menghakimi, tidak ada hukuman yang dijatuhkan. Yang ada hanyalah pelukan penuh kasih yang memulihkan martabat anaknya. 

Sang ayah segera memerintahkan agar anak itu dikenakan jubah yang terbaik, cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. 

Semua itu menandakan bahwa ia diterima kembali bukan sebagai seorang upahan, melainkan sebagai anak yang dikasihi.

 Beginilah wajah Allah yang diwartakan oleh Kitab Suci: Allah yang tidak memperlakukan manusia setimpal dengan dosa-dosanya, tetapi memulihkannya dengan kasih yang melampaui segala kesalahan. Seperti yang dinyatakan Nabi Mikha, Ia bahkan “melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”

Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus menyatakan misi-Nya: datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Ia makan bersama para pendosa bukan karena menyetujui dosa mereka, tetapi karena Ia ingin memulihkan mereka. Yesus adalah wajah nyata belas kasih Allah yang tidak pernah menyerah terhadap manusia.

Kisah ini sebenarnya adalah kisah kita semua. Dalam berbagai cara, manusia sering berjalan menjauh dari Allah, melalui pilihan yang keliru, kelalaian rohani, atau hati yang perlahan menjadi dingin. Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa pintu rumah Bapa tidak pernah tertutup. 

Ia selalu menantikan saat ketika kita berani berkata dalam hati, “Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku.” Bahkan sebelum kita sampai sepenuhnya, Allah telah melihat kita dari jauh dan tergerak oleh belas kasih. Ia tidak menunggu untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan. Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat untuk melakukan perjalanan pulang itu. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna terlebih dahulu. Ia hanya menantikan hati yang mau kembali kepada-Nya. Dan ketika manusia mengambil langkah kecil menuju Allah, Ia sudah berlari menyambutnya dengan kasih yang memulihkan.


Marilah Berdoa

Ya Allah Bapa yang penuh belas kasih,
Engkau mengenal kelemahan dan kerapuhan kami.
Sering kali kami menjauh dari-Mu dan tersesat dalam pilihan hidup kami sendiri.

Bangkitkanlah dalam hati kami kerinduan untuk kembali kepada-Mu.
Berilah kami keberanian untuk bertobat dan membuka hati bagi kasih-Mu yang memulihkan.

Semoga melalui Tuhan Yesus, kami menemukan kembali sukacita sebagai anak-anak-Mu yang dikasihi.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.


Catatan Katekese Singkat

1. Allah selalu siap mengampuni orang yang bertobat
“Sakramen Tobat memberikan kemungkinan baru untuk bertobat dan memperoleh kembali rahmat pembenaran.”
(KGK 1446)

2. Belas kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia
“Pesan Injil adalah pewartaan tentang keselamatan dan pengampunan dosa.”
(Evangelii Nuntiandi 27)

3. Gereja dipanggil untuk mewartakan belas kasih Allah kepada semua orang
“Tidak ada batas bagi belas kasih Allah bagi mereka yang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.”
(Evangelii Gaudium 3)


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati