Sabda Tuhan memiliki kuasa untuk bekerja di hati manusia, meskipun tidak semua menerima dengan seketika.
Tuhan Yesus tetap bekerja dalam diam, menumbuhkan benih yang telah kamu taburkan.
Jangan lelah terus untuk menabur.
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Sabtu, 21 Maret 2026 – Sabtu Prapaskah IV
Warna Liturgi: Ungu
Daftar Bacaan:
Yer 11:18-20 | Mzm 7:2-3.9bc-10.11-12 | Luk 8:15 | Yoh 7:40-53
Ayat Emas:
“Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46)
Renungan:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa kecewa. Kita sudah berbicara dengan niat tulus, berusaha menyampaikan kebenaran, tetapi justru disalahpahami atau bahkan ditolak. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan dalam hati: apakah usaha kita sia-sia?
Injil hari ini menunjukkan bahwa pengalaman itu juga dialami oleh Tuhan Yesus. Ketika Ia mengajar, orang banyak justru terpecah: ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada yang menolak. Bahkan para pemimpin agama menutup hati mereka. Namun di tengah semua itu, muncul kesaksian yang sederhana tetapi sangat kuat: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Sabda Tuhan Yesus memiliki daya yang menyentuh hati, bahkan ketika tidak semua orang siap menerimanya.
Bacaan dari Nabi Yeremia juga memperlihatkan hal yang sama. Ia setia menyampaikan kehendak TUHAN, tetapi justru menghadapi rencana jahat. Meski demikian, ia tidak berhenti. Ia menyerahkan hidupnya kepada Allah yang adil. Kesetiaan tidak selalu menghasilkan penerimaan, tetapi selalu berharga di hadapan Allah.
Di sinilah kita melihat wajah kasih Allah: Ia tidak memaksa manusia, tetapi terus bekerja dengan sabar. Dalam diri Tuhan Yesus, Allah mewartakan keselamatan dengan penuh kelembutan. Ia tahu akan ada penolakan, tetapi Ia tetap datang, tetap berbicara, dan tetap mengasihi. Inilah kabar baik: Allah tidak berhenti menjangkau manusia, bahkan ketika manusia belum siap menerima-Nya.
Pengalaman ini juga nyata dalam hidup Gereja. Dalam Kursus Evangelisasi Pribadi, para peserta diutus untuk melakukan kunjungan rumah sebagai wujud nyata pewartaan. Ada sukacita ketika diterima dengan hangat, tetapi tidak jarang pula ada pengalaman ditolak atau tidak ditanggapi. Dalam momen-momen seperti itu, kita belajar bahwa evangelisasi bukan pertama-tama soal keberhasilan yang terlihat, melainkan kesetiaan untuk hadir dan mewartakan dengan kasih. Kunjungan yang sederhana, sapaan yang tulus, dan kesaksian hidup yang jujur....., semuanya dapat menjadi benih yang dapat bertumbuh.
Sebagai murid-murid-Nya, kita diundang untuk mengambil bagian dalam karya ini. Bukan dengan memaksakan, tetapi dengan kesetiaan. Tugas kita adalah menabur: melalui kata, sikap, dan hidup yang mencerminkan kasih Allah. Hasilnya bukan milik kita. Sabda Tuhan sendiri yang akan bekerja, bertumbuh, dan berbuah pada waktunya.
Maka ketika kita merasa tidak didengar, tidak dimengerti, atau bahkan ditolak, janganlah kita berkecil hati. Mungkin saat itu kita tidak melihat hasilnya, tetapi Allah sedang bekerja dalam hati yang tersembunyi. Tidak ada sabda yang diwartakan dalam iman yang akan kembali dengan sia-sia.
Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, janganlah lelah untuk terus menabur.
— Homili Paus Fransiskus, GBK Jakarta 5 September 2024
Marilah Berdoa:
Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau mengutus Putra-Mu untuk menaburkan sabda keselamatan ke dalam hati manusia.
Ajarlah kami untuk setia mewartakan kebenaran-Mu, meskipun kami tidak selalu melihat buahnya.
Teguhkanlah hati kami agar tidak mudah lelah atau putus asa, dan berilah kami iman yang percaya bahwa sabda-Mu selalu bekerja dalam diam di dalam hati manusia.
Pakailah hidup kami sebagai benih kasih-Mu
bagi dunia di sekitar kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese singkat:
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar