“Saat-Nya Belum Tiba”: Mengapa Kebenaran Tidak Selalu Diterima?
Kasih sejati tidak selalu menyenangkan, tetapi berani menuntun kepada kebenaran.
Mungkin tidak langsung diterima, mungkin bahkan ditolak…
karena saat-Nya belum tiba.
👉Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Jumat, 20 Maret 2026 – Jumat Prapaskah IV
Warna Liturgi: Ungu
Daftar Bacaan:
Keb 2:1a.12-22 | Mzm 34:17-18.19-20.21.23 | Mat 4:4b | Yoh 7:1-2.10.25-30
Ayat Emas:
"Tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba." (Yoh 7:30)
Renungan:
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengalami saat-saat di mana niat baik justru disalahpahami. Ketika kita berusaha hidup benar, tidak jarang kita malah ditolak, dicurigai, atau bahkan disakiti.
Hati menjadi lelah. Muncul pertanyaan: mengapa kebaikan tidak selalu diterima? Di titik ini, kita bisa merasa sendirian dan kehilangan semangat untuk tetap berjalan dalam kebenaran.
Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menggambarkan dengan sangat jujur realitas ini. Orang benar dianggap mengganggu, bahkan menjadi ancaman bagi mereka yang hidup dalam kejahatan.
Kebaikan seolah menjadi “cermin” yang menyingkapkan dosa. Karena itu, orang benar sering kali ditolak, diuji, bahkan dianiaya. Namun di balik semua itu, Sabda Allah menyingkapkan bahwa penolakan manusia tidak pernah menggagalkan rencana Allah.
Dalam Injil hari ini, kita melihat Tuhan Yesus mengalami hal yang sama. Ia ditolak, dicurigai, bahkan hendak ditangkap. Namun ada satu kalimat yang memberi terang: “saat-Nya belum tiba.” Artinya, hidup dan karya Tuhan Yesus sepenuhnya berada dalam rencana Allah Bapa.
Tidak ada kuasa manusia yang bisa menghentikan karya keselamatan sebelum waktunya. Allah tetap memegang kendali, bahkan di tengah ancaman dan kegelapan.
Di sinilah wajah kasih Allah dinyatakan. Allah tidak meninggalkan orang benar dalam penderitaan. Mazmur menegaskan: TUHAN dekat kepada orang-orang yang patah hati. Kedekatan ini bukan sekadar penghiburan, tetapi kehadiran yang menyelamatkan.
Allah melihat, mendengar, dan bertindak. Ia hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai Penyelamat yang berjalan bersama kita, bahkan ketika dunia seakan menolak kita.
Tuhan Yesus datang bukan untuk mencari pengakuan manusia, tetapi untuk melaksanakan kehendak Bapa: menyelamatkan. Ia tidak mundur karena penolakan, tidak berhenti karena ancaman.
Justru melalui jalan salib, yang mulai ditampakan dalam Injil hari ini, Ia membawa keselamatan bagi kita. Kasih-Nya setia, bahkan ketika manusia tidak setia, dan kasih itu tidak pernah gagal menyelamatkan.
Maka hari ini kita diajak untuk tetap setia dalam kebaikan, meskipun tidak selalu dimengerti. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami hal sederhana: ketika seorang teman bercerita, tetapi sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mencari pembenaran atas apa yang sudah ia lakukan.
Saya sendiri pernah berada dalam situasi seperti itu. Karena takut menyinggung perasaan dan khawatir merusak hubungan pertemanan, saya cenderung mengiyakan saja apa yang ia katakan. Seolah-olah menjaga perasaan lebih penting daripada menyatakan kebenaran.
Namun lama-kelamaan saya menyadari bahwa sikap seperti itu justru tidak menolong. Bahkan bisa membuat seseorang semakin terjerumus dan semakin jauh dari jalan yang benar.
Dari situ saya belajar bahwa kasih yang sejati bukanlah selalu menyenangkan, tetapi berani menuntun kepada kebenaran. Maka, dengan cara yang bijaksana dan tetap penuh hormat, saya mulai belajar mengatakan apa yang benar yang seharusnya dilakukan, meskipun tidak selalu menyenangkan dan sesuai dengan keinginan teman tersebut.
Tentu tidak selalu mudah. Ada risiko tidak dimengerti, bahkan mungkin ditolak. Namun di sinilah kita belajar menghidupi sabda hari ini: “saat-Nya belum tiba.” Mungkin saat ini kebenaran itu belum diterima, belum dipahami, atau bahkan ditolak.
Tetapi bukan berarti kebenaran itu sia-sia. Allah tetap bekerja dalam hati setiap orang, dalam waktu-Nya sendiri.
Bukalah hati, dan izinkan Allah menuntun langkah kita. Jangan hanya karena ingin menyenangkan orang lain dan supaya kita diterima, kita menjadi pribadi yang tidak merdeka dan tidak berani menyatakan kebenaran yang sejati. Tetaplah hidup dalam terang, karena di sanalah Allah berkenan tinggal.
Allah tidak pernah lelah menantikan manusia kembali kepada-Nya.
Marilah Berdoa
Ya Allah Bapa yang penuh kasih,
di saat kami merasa ditolak, disalahpahami, dan lemah,
ajarilah kami untuk tetap percaya kepada-Mu.
Teguhkan hati kami agar setia berjalan dalam kebenaran,
meskipun jalan itu tidak mudah.
Dekatkanlah kami kepada-Mu,
terutama ketika hati kami patah dan jiwa kami remuk.
Semoga kami selalu percaya bahwa Engkau bekerja
dalam setiap peristiwa hidup kami,
dan bahwa kasih-Mu tidak pernah meninggalkan kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
Paus Fransiskus menegaskan bahwa Kebaikan selalu cenderung menyebar... siapa pun yang telah mengalami pembebasan mendalam menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.”
Kebenaran dan kebaikan memiliki daya yang terus bekerja dalam hati manusia. Meskipun ditolak pada awalnya, kebaikan tidak pernah sia-sia karena Allah sendiri yang menumbuhkannya.
(Evangelii Gaudium no. 9)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Komentar
Posting Komentar