Terang yang Menuntun Langkah dan Mengubah Arah
Kalender Liturgi – Minggu, 25 Januari 2026 - Pekan Biasa III
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Yesaya 8:23b–9:3
Mazmur Tanggapan: Mazmur 27:1.4.13–14
Bacaan II: 1 Korintus 1:10–13.17
Bait Pengantar Injil: Matius 4:23
Bacaan Injil: Matius 4:12–23
(atau bacaan singkat: Matius 4:12–17)
Ayat Emas:
“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.”
(Yesaya 9:1)
Renungan:
Bacaan pertama hari ini berakar dari situasi yang sungguh gelap. Nabi Yesaya berbicara kepada bangsa yang hidup di daerah pinggiran, wilayah Zebulon dan Naftali, tanah yang direndahkan, terluka, dan lama berada di bawah penindasan.
Mereka bukan hanya mengalami kegelapan lahiriah, tetapi juga kegelapan batin: kehilangan arah, kehilangan harapan, dan tidak lagi mampu menyelamatkan diri mereka sendiri. Kuk penindasan terlalu berat, dan masa depan tampak tertutup.
Justru kepada bangsa seperti itulah TUHAN mewartakan janji yang mengejutkan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.”
Terang itu bukan hasil usaha manusia, melainkan murni inisiatif Allah. Keselamatan tidak berasal dari kekuatan manusia, tetapi berakar pada kasih Allah yang setia. Ketika manusia sampai pada batas kemampuannya, Allah sendiri yang bertindak.
Janji tentang terang yang besar ini digenapi sepenuhnya dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Ia tidak memulai karya-Nya di pusat kekuasaan atau tempat yang dianggap penting, melainkan di Galilea, wilayah yang sama—daerah yang terpinggirkan dan dipandang rendah.
Dengan demikian dinyatakan bahwa Allah sungguh masuk ke dalam kegelapan manusia, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Seruan Tuhan Yesus, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat,” adalah undangan untuk berpaling dari kegelapan dan membuka diri bagi terang Allah.
Dalam kehidupan kita pun, sering ada saat ketika kita merasa seperti seseorang yang tersesat di malam hari di jalan yang gelap.
Kita tidak mampu menemukan jalan keluar sendiri. Namun ketika cahaya kecil menyala dari kejauhan, kita tahu ke mana harus melangkah. Terang itu tidak serta-merta menghilangkan seluruh kegelapan, tetapi cukup untuk menuntun langkah demi langkah kita.
Demikian pula karya keselamatan Allah dalam hidup kita: Ia tidak selalu langsung mengubah keadaan, tetapi selalu memberi terang yang cukup agar kita tidak berhenti berjalan.
Dalam perjalanan iman, saya teringat kembali saat menjadi peserta Kursus Evangelisasi Pribadi, khususnya ketika memasuki Bab 6.
Di sana saya diajak untuk dengan jujur menggali “nilai-nilai ketuhanan” yang selama ini saya utamakan dalam hidup—apakah itu kesehatan, uang, status sosial, pekerjaan, kenyamanan, atau ambisi—hal-hal yang tanpa disadari dapat menjadi “tuhan” kecil, bahkan berubah menjadi berhala dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Kursus Evangelisasi Pribadi, saya belajar menetapkan kembali arah hidup: membangun perisai iman dan motto hidup, bukan sekadar sebagai slogan rohani, melainkan sebagai kompas iman yang menuntun langkah dari “tuhan” yang semu menuju Tuhan yang sejati.
Di sanalah saya disadarkan bahwa hidup beriman bukan hanya soal percaya, tetapi tentang kepada siapa dan kepada apa hati ini sungguh diarahkan.
Dengan perisai iman dan motto hidup sebagai arah hidup, kita dimampukan untuk tetap melangkah menuju terang Injil, bahkan ketika situasi hidup tampak gelap dan tanpa harapan. Keselamatan selalu berawal dari inisiatif Allah, namun menuntut jawaban iman manusia.
Terang yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama kini digenapi dalam Yesus Kristus, Sang Terang dunia, yang hadir bukan hanya untuk menerangi sejarah keselamatan, tetapi juga mengubah arah hidup kita hari ini.
Karena itu, marilah kita berani hidup dalam terang Injil. Jangan kembali menjadikan “tuhan” kecil sebagai pusat hidup kita, tetapi tetapkan bahwa Tuhan sebagai tujuan dan arah hidup.
Setiap langkah kecil yang diambil dalam iman adalah jawaban atas terang yang telah dinyalakan Allah—dan di situlah hidup baru perlahan bertumbuh, menuju kepenuhan keselamatan dalam Kristus.
Marilah Berdoa:
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau tidak meninggalkan kami
ketika hidup kami diliputi kegelapan.
Dalam kasih-Mu, Engkau mengutus Putra-Mu, Tuhan Yesus Kristus, Sang Terang sejati.
Bimbinglah langkah hidup kami, agar kami berani meninggalkan “tuhan-tuhan” semu
dan menjadikan Engkau satu-satunya tujuan hidup kami.
Teguhkanlah iman kami, supaya kami setia melangkah dalam terang Injil dan menjadi saksi harapan bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
“Kristus adalah terang para bangsa” (Lumen Gentium, 1). Gereja mewartakan bahwa terang sejati yang menyelamatkan manusia bukan berasal dari dunia, melainkan dari Kristus sendiri. Dialah yang menerangi setiap kegelapan manusia dan menghimpun umat Allah dalam satu persekutuan keselamatan.
Dalam terang Kristus, manusia diajak meninggalkan segala “tuhan” semu yang menyesatkan hati dan mengarah kembali kepada Allah sebagai tujuan hidup yang sejati. Gereja, sebagai umat Allah, dipanggil bukan untuk menjadi sumber terang itu, melainkan menjadi sakramen dan sarana yang memantulkan terang Kristus kepada dunia (bdk. LG 1; 9).
Melalui pendampingan iman—seperti dalam Kursus Evangelisasi Pribadi—umat dibantu untuk menata kembali arah hidup, membangun perisai iman, dan memberi jawaban iman atas terang yang telah lebih dahulu dinyalakan Allah dalam Kristus, Sang Terang dunia.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar