Diutus dengan Iman yang Dikobarkan

 

Tuaian memang banyak, pekerja sedikit. Bukan karena panggilan kurang, melainkan karena keberanian sering kalah oleh ketakutan. Temuan kekuatan perutusan dalam renungan 

👉 Baca selengkapnya:



Renungan Senin, 26 Januari 2026 - Pekan Biasa III

PW Santo Timotius dan Titus, Uskup
Warna Liturgi: Putih

  • Bacaan I: 2Tim 1:1-8 (atau Tit 1:1-5)
  • Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-2a.2b-3.7-8a.10
  • Bait Pengantar Injil: Luk 4:18-19
  • Injil: Luk 10:1-9

Ayat Emas:

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
(2 Timotius 1:7)


Renungan:

Panggilan untuk mewartakan Injil tidak lahir dari keberanian manusia semata, melainkan dari iman yang dihidupkan dan terus dikobarkan oleh Allah sendiri. Itulah yang diingatkan Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya. 

Iman Timotius bukan iman yang tiba-tiba muncul; iman itu berakar dalam sejarah, hidup dalam keluarganya, diteruskan dengan kesetiaan, lalu diperteguh oleh penumpangan tangan dan pengutusan Gereja.

Namun Paulus juga menyadari bahwa iman dapat mengalami kerapuhan. Karunia bisa melemah. Ketakutan bisa menyelinap. Maka Timotius diingatkan untuk mengobarkan kembali karunia Allah—bukan dengan mengandalkan diri, tetapi dengan membuka hati pada Roh yang memberi kekuatan, kasih, dan ketertiban.

Injil hari ini menampilkan wajah lain dari pengutusan itu. Tuhan Yesus mengutus tujuh puluh murid, bukan sebagai orang-orang yang serba siap, melainkan sebagai anak domba di tengah serigala

Mereka diutus dalam kerentanan, tanpa jaminan kenyamanan, tanpa bekal berlebih. Yang mereka bawa bukan kekuasaan, melainkan damai sejahtera; bukan kepastian hasil, melainkan ketaatan.

Demikianlah kenyataan dinamika pewartaan Injil: tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit, bukan karena panggilan kurang, melainkan karena keberanian sering kalah oleh ketakutan. 

Kita sering menunggu menjadi “siap” sebelum melayani, padahal Tuhan Yesus justru mengutus sambil membentuk, menyertai sambil memurnikan.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan kehidupan lebih mendalam:

  • Apakah iman yang dulu menyala kini mulai redup?
  • Apakah panggilan yang pernah menggugah kini terasa berat?
  • Apakah kita lebih sibuk menjaga rasa aman diri untuk diam daripada bergerak melakukan perutusan?

Tuhan Yesus tidak menuntut kesempurnaan. Ia meminta kesediaan kita untuk pergi melakukan perutusan. 

Ia mengutus kita supaya kita boleh mengalami bahwa Kerajaan Allah sudah dekat—bagi kita dan bagi orang-orang yang kita jumpai dalam perjalanan hidup.

Dan di sanalah, dalam kesetiaan yang kecil dan keberanian yang sederhana, kita mengambil bagian dalam perutusan murid Kristus, sebagai penuai di ladang-Nya.

Maka marilah kita tidak menunda panggilan ini. Dengan iman yang terus dikobarkan, kita melangkah keluar, percaya bahwa Allah yang mengutus juga akan menyertai setiap langkah perutusan kita.


Marilah Berdoa:

Allah Bapa yang Mahabaik,
Engkau memanggil dan mengutus kami
bukan karena kekuatan kami,
melainkan karena kasih dan rahmat-Mu.

Sering kali kami membiarkan iman kami meredup,
takut melangkah, ragu bersaksi,
dan lebih sibuk menjaga kenyamanan
daripada setia pada panggilan-Mu.

Hari ini kami mohon,
kobarkan kembali karunia Roh-Mu dalam diri kami.
Bebaskan kami dari roh ketakutan,
dan penuhilah kami dengan kekuatan, kasih, dan ketertiban.

Utuslah kami, ya Bapa,
menjadi pembawa damai,
saksi Kerajaan Allah
di tengah dunia yang haus akan harapan.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.


Catatan Katekese Singkat: 

  • Misi Gereja adalah partisipasi dalam perutusan Tuhan Yesus sendiri, yang mengutus murid-murid-Nya dalam kesederhanaan dan kepercayaan penuh kepada Allah (bdk. Luk 10:1-9; Evangelii Nuntiandi art. 14).
  • Setiap orang beriman dipanggil menjadi pekerja tuaian, sesuai panggilan dan konteks hidupnya masing-masing.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati