Anak Domba Allah: Dari Sungai Yordan Menuju Pertobatan Dunia

 


Yesus dibaptis di Sungai Yordan bukan karena Ia berdosa, melainkan untuk menyucikan air, agar air itu menjadi sarana kelahiran baru bagi kita.

Renungan Sabtu, 3 Januari 2025.
👉 Baca selengkapnya:



Anak Domba Allah yang Menghapus Dosa Dunia

Ayat Emas

"Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yoh 1:29)

Di tepi Sungai Yordan, Yohanes Pembaptis tidak mengajak orang banyak untuk memandang dirinya, juga tidak menjelaskan metode pertobatan. Ia menunjuk dan berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:29). Seruan ini bukan sekadar pengumuman, melainkan pewahyuan. Di tengah umat yang datang membawa dosa, luka, dan kerinduan akan hidup baru, Yohanes menyingkapkan siapa yang sungguh mampu menyelamatkan: Yesus, Anak Domba Allah.

Bagi masyarakat Yahudi, anak domba bukan sekadar simbol kepolosan, melainkan bagian dari ritus korban di Bait Allah. Anak domba dipersembahkan setiap hari sebagai korban pendamaian, yang menutupi dosa dan menjaga relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Namun korban itu harus diulang terus-menerus, sebab darah binatang tidak pernah sungguh mengangkat dosa dari akar hati manusia. 

Karena itu, ketika Yohanes menunjuk Yesus dan berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29), ia sedang mewartakan karya keselamatan yang melampaui seluruh korban Bait Allah: bukan lagi menutupi dosa, tetapi menghapusnya secara tuntas.

Rasul Yohanes menegaskan: “Lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Maka Penghapusan dosa selalu berujung pada pemulihan identitas. Bukan karena kebiasaan religius yang membuat kita merasa benar, melainkan anugerah karena kasih Bapa yang dinyatakan melalui Anak domba Allah ini. 

Peristiwa karya Anak Domba itu tidak berhenti sebagai sejarah.  Santo Gregorius Nazianzenus mengajarkan bahwa Kristus turun ke dalam air bukan untuk disucikan oleh air, melainkan untuk menyucikan air dan seluruh ciptaan. agar air itu kelak menjadi sarana kelahiran baru yang menyentuh hidup kita secara nyata melalui pembaptisan. 

Maka dalam pembaptisan, kita tidak hanya dibasuh secara simbolis, tetapi dibersihkan oleh karya Anak Domba Allah dan dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah (lih. Yoh 1:12).

Identitas baru ini menuntut cara hidup yang baru. “Setiap orang yang tetap berada dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi” (1Yoh 3:6). Ini bukan tuntutan kesempurnaan moral yang kaku, melainkan panggilan untuk hidup setia dalam pertobatan sehari-hari. 

Baptisan bukan garis akhir, tetapi awal perjalanan menuju hidup yang makin serupa dengan Kristus.

Marilah kita menyadari, meneliti batin kita, mana dosa hari yang belum kita sesali tetapi kita normalisasi; yang mana ketidakadilan kita biarkan demi kenyamanan; iman kita rayakan di altar, tetapi kita sangkal dalam relasi keluarga, komunitas, dan masyarakat. 

Anak Domba Allah tidak menghapus dosa dunia dengan membiarkan dunia apa adanya, melainkan dengan memanggilnya untuk bertobat dan berjalan bersama dalam kebenaran.

Di sinilah Injil menjadi profetik selaras dengan tema pastoral bagi kita yang sedang membangun keluarga sinodal yang Menciptakan Misi Pengharapan dan Perdamaian dimulai. 

Keluarga yang berani memulai berjalan bersama di bawah terang Anak Domba Allah, berani melakukan pertobatan, saling mengampuni, saling mengasihi dan menciptakan ruang pengharapan. 

Dari keluarga seperti inilah lahir komunitas yang bermisi, yang tidak menyebarkan kebencian, tetapi menjadi tanda perdamaian di tengah dunia yang terluka. 

Disinilah rahmat bekerja, sebab Anak Domba Allah tidak datang untuk menghancurkan yang rapuh, tetapi untuk menyembuhkan dan memulihkan.

Maka hari ini, seruan Yohanes kembali menggema bagi kita semua — dalam keluarga, komunitas, dan Gereja:

“Lihatlah Anak Domba Allah.”

Bukan hanya untuk dipandang, tetapi untuk diterima; bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk dihidupi.

Sebab hanya dengan tinggal di dalam Dia, kita sungguh menjadi anak-anak Allah yang berjalan bersama sebagai pembawa pengharapan dan perdamaian.

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, Anak Domba Allah, Engkau telah menghapus dosa dunia dengan ketaatan dan kasih-Mu. Bersihkanlah hati kami dari dosa yang kami sembunyikan, dan perbaruilah rahmat baptisan kami agar kami hidup sebagai anak-anak Allah yang setia. Ajarlah kami bertobat dengan rendah hati, berjalan dalam terang, dan menjadi saksi kasih-Mu di tengah dunia. Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati