Iman yang Berserah, Bukan Sekadar Praktik Lahiriah

 

Allah tidak menunggu kita semakin sibuk berdoa, tetapi semakin berani membiarkan diri diubah oleh kasih-Nya.

👉 Baca selengkapnya:



Renungan Harian Katolik

Kamis, 15 Januari 2026 – Pekan Biasa I


Warna Liturgi: Hijau

Bacaan Liturgi:

  • Bacaan I: 1 Samuel 4:1–11
  • Mazmur Tanggapan: Mazmur 44:10–11.14–15.24–25
  • Bait Pengantar Injil: Matius 4:23
  • Bacaan Injil: Markus 1:40–45

Ayat Emas:

“Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
(Markus 1:40)


Renungan :

Ada saat-saat dalam hidup ketika iman kita diuji bukan oleh penderitaan, melainkan oleh cara kita memandang Allah

Dalam Bacaan I, bangsa Israel mengalami kekalahan dalam peperangan. Mereka bertanya, “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah?” Namun pertanyaan itu tidak membawa mereka pada pertobatan, melainkan pada jalan pintas rohani: mereka mengambil Tabut Perjanjian, seolah-olah kehadiran tanda suci itu dapat menjamin kemenangan.

Tabut yang sejatinya adalah tanda kehadiran TUHAN dan perjanjian-Nya, dipahami secara keliru menjadi alat pengaman diri. Mereka bukan lagi mencari kehendak Allah, tetapi sebaliknya 'memaksa' Allah untuk mendukung rencana manusia. Akibatnya tragis: kekalahan semakin besar, tabut dirampas, dan umat semakin terluka. Jeritan Mazmur pun menggema: “Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu?” Sebuah seruan yang lahir dari iman yang terluka dan kebingungan batin.

Di hadapan kisah ini, Injil menampilkan wajah iman yang sangat berlawanan. Seorang sakit kusta datang kepada Tuhan Yesus. Ia tidak membawa apa-apa, tidak menuntut, tidak mengatur. Ia hanya bersujud dan berkata dengan iman yang tulus dan rapuh: “Kalau Engkau mau…” Ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya ke dalam kehendak Allah. Dan justru iman seperti inilah yang membuat Tuhan Yesus berbelas kasihan. Ia menjamah yang najis, mendekati yang disingkirkan, dan memulihkan martabat manusia.

Di titik inilah Sabda hari ini menegur kita dengan lembut. Betapa mudahnya iman tergelincir dari relasi menjadi rutinitas, dari penyerahan menjadi pengamanan diri

Tanpa sadar, praktik-praktik lahiriah dan sarana rohani yang seharusnya menuntun kita kepada Allah justru kita gunakan untuk menenangkan kecemasan kita sendiri. Doa  diucapkan, simbol iman dipegang, liturgi yang, namun hati tertutup dan tidak sungguh-sungguh menyediakan ruang bagi Allah. Allah tetap kita sebut, tetapi kehendak-Nya tidak sungguh kita dengarkan.

Bacaan Liturgi hari ini mengajak kita merenungkan sejenak dan bertanya dengan jujur pada diri kita: apakah doa-doa kita masih lahir dari kerinduan akan kehadiran Allah, atau sekadar kebiasaan agar hidup terasa aman? Apakah kita sungguh membuka hati untuk disentuh dan diubah, atau hanya berharap masalah segera disingkirkan? Tuhan Yesus tidak mencari doa yang panjang dan fasih, melainkan hati yang terbuka dan berserah.

Di sanalah kehadiran Allah sungguh dapat kita alami—bukan semata-mata karena praktik lahiriah dan sarana rohani, melainkan karena Yang Kudus berkenan hadir dan mengubah kita dari dalam.

Allah tidak menanti kita semakin sibuk secara rohani, tetapi semakin jujur untuk membiarkan diri diubah dari dalam.


Marilah Berdoa:

Allah Bapa yang Maharahim,
kami mengakui bahwa sering kali kami datang kepada-Mu
bukan untuk mendengarkan kehendak-Mu,
melainkan untuk meminta-Mu mengikuti kehendak kami.

Sucikanlah hati kami dari iman yang dangkal dan terburu-buru.
Ajarlah kami berdoa dengan hati yang sungguh hadir,
berserah dengan rendah hati,
dan membuka diri untuk disentuh serta diubah oleh kasih-Mu.

Pulihkanlah relasi kami dengan-Mu,
agar dalam setiap doa kami sungguh mengalami kehadiran-Mu.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat:

  • Gereja menegaskan bahwa praktik lahiriah iman harus disertai disposisi batin yang benar, agar sungguh berbuah sebagai perjumpaan dengan Allah
    (Sacrosanctum Concilium, SC 11).

  • Iman dapat menyimpang bila praktik keagamaan dipisahkan dari penyerahan kepada Allah, sehingga sarana rohani berubah menjadi pengaman diri
    (Katekismus Gereja Katolik, KGK 2111–2112).


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati