Ia Menjamah yang Najis, Ia Memberi Hidup

Hidup kekal bukan dimulai ketika kita mati, tetapi ketika kita berhenti berdamai dengan dosa dan membiarkan Yesus mentahirkan hidup kita.


👉 Baca selengkapnya:



Renungan Jum'at Masa Natal, 09 Januari 2026


Warna Liturgi: Putih

Bacaan Liturgi:
Bacaan I: 1Yoh 5:5–13
Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12–13.14–15.19–20
Bait Pengantar Injil: Mat 4:23
Injil: Luk 5:12–16


Ayat Emas: 

“Aku mau, jadilah engkau tahir!”
(Luk 5:13)


Renungan

Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan seorang yang penuh kusta. Ia bukan hanya sakit secara fisik, tetapi juga terbuang secara sosial dan religius. Kusta membuat seseorang najis, tidak boleh disentuh, dijauhkan dari komunitas, dan hidup dalam kesendirian yang menyakitkan.

Orang ini datang kepada Yesus, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak-Nya, dengan satu kalimat yang sederhana namun penuh iman:

“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Dan Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan:
Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu.

Dalam dunia religius saat itu, menjamah orang kusta berarti ikut menjadi najis. Tetapi Yesus tidak takut pada kenajisan manusia. Justru sebaliknya, kekudusan Yesus mengalahkan kenajisan. Sentuhan-Nya bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga memulihkan martabat, mengembalikan manusia pada kehidupan.

Di sinilah Injil hari ini bertemu dengan Bacaan Pertama. Rasul Yohanes menegaskan bahwa hidup kekal ada di dalam Anak Allah. Bukan sekadar hidup nanti setelah mati, tetapi hidup yang mulai sekarang: hidup yang dipulihkan, dimurnikan, dan disatukan kembali dengan Allah.

Mazmur hari ini mengajak kita memegahkan Tuhan, sebab Dialah yang menyampaikan firman-Nya, yang memberi kesejahteraan, dan yang memberkati umat-Nya. Allah bukan hanya Allah yang jauh, tetapi Allah yang hadir dan bertindak.


Mari kita refleksikan dalam diri kita. 

Jika kita jujur, kita pun sering seperti orang kusta itu.
Ada bagian dalam diri kita yang najis, yang kita sembunyikan.
Luka batin, dosa lama, kebiasaan buruk, kepahitan, kemunafikan rohani.
Sering kali kita merasa: “Aku tidak layak disentuh Tuhan.”

Melalui Injil hari mari kitapun berani datang kepada Yesus.
Ia datang untuk mencari dan menyembuhkan yang hilang, menunggu kita untuk ditahirkan dan menjadi sembuh.

Pertanyaannya bukan lagi: Apakah Yesus mampu?


Melainkan: Apakah aku mau datang dan berserah seperti orang kusta itu?

Sabda Tuhan mengajak kita pada pertobatan yang nyata secara terus menerus setiap hari,  datang dengan rendah hati, mengakui kenajisan diri,
dan membiarkan Yesus menjamah bagian terdalam hidup kita.

Orang kudus bukanlah orang yang tidak pernah jatuh,

melainkan orang yang segera menyadari dosanya,

dengan rendah hati memohon ampun,

datang pada sakramen rekonsiliasi,

dan dengan pertolongan rahmat Tuhan berjuang memperbaiki hidup serta meninggalkan dosa.

Sebab barangsiapa memiliki Anak Allah, ia memiliki hidup.
Dan hidup itu tidak mungkin berdamai dengan dosa.


Doa Penutup

Tuhan Yesus,
aku datang kepada-Mu dengan segala kelemahan dan kenajisanku.
Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.

Jamahlah hatiku yang keras,
sembuhkanlah luka-luka batinku,
dan pulihkanlah hidupku agar sungguh-sungguh hidup di dalam Engkau.

Ajarku untuk bertobat dengan jujur,
taat dengan setia,
dan hidup sebagai saksi bahwa Engkau adalah Anak Allah,
sumber hidup kekal. Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati