Menginjili Diri Sendiri dan Menjadi Keluarga yang Bermisi

Keluarga bukan hanya tempat berlindung,
tetapi unit misi yang menghadirkan pengharapan dan perdamaian.
Mari berjalan bersama sebagai keluarga sinodal.


Renungan Jumat, 02 Januari 2026
👉 Baca selengkapnya;

Renungan Jumat Masa Natal - 02 Jan 2026

PW S. Basilius Agung dan S. Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I: 1Yoh 2:22-28
Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4
Bait Pengantar Injil: Ibr 1:1-2
Bacaan Injil: Yoh 1:19-28

Tema Renungan

Menginjili Diri Sendiri dan Menjadi Keluarga yang Bermisi


Ayat Emas

“Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”
(Yohanes 1:26c)


Seruan Yohanes Pembaptis hari ini menggema keras di awal tahun baru.
Ini bukan hanya persoalan iman pribadi, melainkan diagnosis sosial dan spiritual zaman kita.

Tahun 2026 kita awali dengan dunia yang semakin bising:
opini berserakan, kebenaran dipelintir, dan identitas diproduksi lewat algoritma.
Yang lantang dianggap benar,
yang viral dianggap bernilai,
yang menguntungkan dianggap bijaksana.

Dalam iklim seperti ini, Kristus tetap hadir,
tetapi sering tidak dikenali,
karena Ia tidak mengikuti logika pasar,
tidak tunduk pada kekuasaan dunia,
dan tidak bernegosiasi dengan ketidakadilan.

Kita hidup dalam masyarakat yang mudah menyebut nama Tuhan,
namun menyingkirkan wajah-Nya dari kebijakan publik, relasi sosial, dan kepekaan nurani.
Keadilan disuarakan, tetapi belas kasih dilupakan.
Kesalehan dipamerkan, tetapi tanggung jawab sosial dihindari.

Surat Yohanes mengingatkan kita dengan tegas:
penyesatan tidak selalu datang dari luar Gereja,
melainkan bisa tumbuh dari dalam
ketika iman dipisahkan dari kebenaran dan kasih.

Di awal tahun ini, Gereja tidak dipanggil untuk menjadi lebih populer,
melainkan lebih jujur.
Bukan lebih keras berteriak,
tetapi lebih jernih bersaksi.


Keluarga Sinodal dan Jalan Evangelisasi

Tema Pastoral Keuskupan Bogor tahun 2026:
“Membangun Keluarga Sinodal yang Menciptakan Misi Pengharapan dan Perdamaian.”

Dalam Surat Gembala, Bapa Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, mengingatkan bahwa Paus Paulus VI melalui seruan apostolik Evangelii Nuntiandi (1975) menegaskan panggilan Gereja untuk mewartakan Injil di dunia modern.
Karena itu, Keuskupan Bogor memakai dokumen ini sebagai dasar pemantapan iman dan misi umat melalui Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP).

KEP membantu umat — secara pribadi dan sebagai keluarga — untuk kembali kepada inti iman:
bukan opini,
bukan kebiasaan turun-temurun,
melainkan Yesus Kristus yang hidup dan menyelamatkan.

Melalui KEP, keluarga tidak hanya mendengar,
tetapi mengolah, menghayati, dan membiarkan Sabda tinggal
dalam keputusan, relasi, dan cara hidup sehari-hari.

Di sinilah keluarga sungguh menjadi subyek pastoral,
sebagaimana ditekankan oleh Keuskupan Bogor:
keluarga sebagai pelaku evangelisasi
yang menciptakan pengharapan dan perdamaian, mulai dari rumah sendiri, lingkungan, hingga masyarakat yang lebih luas.


Kesaksian Pribadi

Saya sendiri merasakan bagaimana Tuhan memulihkan hidup saya
ketika mengikuti KEP pada tahun 2007.

Melalui langkah-langkah evangelisasi yang diajarkan —
misalnya Langkah I: berteman dengan orang-orang
saya bukan hanya belajar membuka percakapan
dan mengidentifikasi relasi dengan bantuan kerangka FOR SINNERS,
tetapi mengalami perubahan batin yang nyata.

Relasi dengan keluarga menjadi lebih baik,
padahal sebelumnya saya merasa semuanya baik-baik saja.
Di sanalah saya sadar:
sering kali kita merasa sudah mengenal Kristus,
padahal Ia sedang berdiri di tengah hidup kita
dan belum sungguh kita kenal.


Spiritualitas Yohanes Pembaptis

KEP juga membentuk spiritualitas Yohanes Pembaptis, yang berkata dengan jujur dalam Injil hari ini:

“Aku bukan Mesias.” (Yohanes 1:20)

KEP menolong peserta untuk mengalami pertobatan ini:

  • meninggalkan keakuan rohani,
  • melepaskan iman yang merasa “sudah cukup”,
  • belajar menunjuk kepada Kristus, bukan kepada diri sendiri.

Inilah spiritualitas keluarga bermisi:

  • suami–istri belajar rendah hati dan saling mengampuni,
  • orang tua belajar menjadi saksi, bukan hanya pengajar,
  • anak-anak melihat iman yang dihidupi, bukan sekadar diajarkan.


Sabda hari ini dan tema pastoral mengantar kita pada pertanyaan:

  1. Apakah keluarga kita sudah sungguh mengenal Kristus,
    atau hanya mengenal kegiatan Gereja?
  2. Apakah saya — secara personal — bersedia menginjili diri sendiri
    melalui KEP,
    atau merasa iman saya sudah selesai?

Kristus tidak pernah jauh dari keluarga kita.

Ia berdiri di tengah rutinitas, percakapan, dan luka-luka yang belum disembuhkan.

Namun sering kali, kita terlalu sibuk untuk mengenal-Nya.

Menginjili diri sendiri adalah keputusan pertobatanmembiarkan Kristus tinggal, membentuk, dan mengutus kita sebagai anggota Gereja dan keluarga sinodal yang bermisi.


Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus,
Engkau berdiri di tengah hidup dan keluarga kami,
namun sering kali kami tidak sungguh mengenal-Mu.

Ampunilah kami
ketika iman kami hanya tinggal dalam kata-kata,
tetapi belum sungguh menjadi cara hidup.

Tinggallah di dalam diri kami, tinggallah di dalam keluarga-keluarga kami.
Bentuklah kami melalui pertobatan yang sejati,
terutama saat kami berani menginjili diri sendiri.

Melalui karya Roh Kudus,
jadikanlah keluarga kami keluarga sinodal
yang berjalan bersama-Mu,
bersama sesama,
dan menjadi unit misi
yang menghadirkan pengharapan dan perdamaian
di tengah dunia.

Bunda Maria, Bunda Evangelisasi,
doakanlah kami.
Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati