Jam Tiga Malam: Allah yang Tidak Tinggal Diam
Renungan Rabu Masa Natal, 07 Januari 2026
Peringatan Fakultatif Santo Raimundus dari Penyafort, Imam
Warna Liturgi: Putih
- Bacaan I: 1Yohanes 4:11–18
- Mazmur Tanggapan: Mazmur 72:1–2.10–11.12–13
- Bait Pengantar Injil: 1Timotius 3:16
- Injil: Markus 6:45–52
Ayat Emas:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan, sebab kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1Yoh 4:18)
RENUNGAN:
Malam telah larut.
Angin sakal bertiup kencang.
Perahu kecil terombang-ambing di tengah danau.
Para murid mendayung dengan susah payah.
Yesus tidak ada bersama mereka di dalam perahu.
Ia tinggal sendirian di darat.
Injil hari ini menggambarkan pengalaman iman yang sangat dekat dengan hidup kita. Para murid baru saja menyaksikan mukjizat besar: lima ribu orang dikenyangkan. Namun pengalaman iman yang agung itu tidak membuat mereka kebal terhadap badai. Ketaatan tidak menjamin hidup tanpa kesulitan. Mereka justru menghadapi angin sakal ketika sedang menjalankan perintah Yesus.
Bukankah ini juga pengalaman kita?
Kita berusaha setia.
Kita melayani.
Kita berdoa.
Namun badai tetap datang.
Dan Tuhan terasa jauh.
Namun Injil mencatat satu detail yang menentukan—detail yang mengungkapkan hati Allah.
“Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air.” (Mrk 6:48)
Yesus datang bukan karena murid-murid memanggil-Nya,
bukan karena iman mereka kuat,
bukan pula karena mereka sudah mengerti.
Yesus datang karena Ia melihat.
Di sinilah Injil menyingkapkan wajah Allah yang sejati:
inisiatif penyelamatan selalu datang dari Allah.
Sebelum doa terucap, sebelum iman kokoh, bahkan sebelum pengertian sempurna,
Allah lebih dahulu melihat, tergerak, dan bertindak.
Ini bukan kisah tentang manusia yang hebat,
melainkan tentang Allah yang mengasihi.
Namun ketika Yesus mendekat, para murid justru takut.
Mereka mengira Ia hantu.
Ketakutan membuat mereka gagal mengenali kehadiran Tuhan.
Betapa sering dalam hidup,
kasih Allah hadir dalam bentuk yang tidak kita pahami,
dan justru kita tolak karena rasa takut.
Lalu terdengarlah sabda yang menembus gelap dan badai: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Badai belum langsung reda.
Tetapi ketakutan mulai disapa.
Dalam terang inilah, kata-kata Rasul Yohanes hari ini menjadi sangat nyata: Allah adalah kasih.
Kasih Allah bukan teori,
melainkan tindakan yang mendahului ketakutan manusia.
Kasih yang melihat lebih dulu.
Kasih yang datang lebih dulu.
Kasih yang tidak menunggu manusia sempurna.
Yohanes berkata dengan jujur dan tajam:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan.”
Ketakutan bukan terutama soal badai di luar,
melainkan soal apakah kita sungguh percaya bahwa kita dikasihi.
Ketika kasih Allah belum sungguh kita terima,
kita mudah panik,
mudah curiga kepada Tuhan,
mudah mengeraskan hati.
Marilah sejenak kita merenungkan:
Sejenak kita diam dan jujur di hadapan Tuhan:
- Ketakutan apa yang sedang menguasai hidupku hari-hari ini?
- Dalam badai itu, apakah aku percaya bahwa Tuhan sedang melihat dan sedang datang, meski belum kupahami caranya?
- Apakah aku memberi ruang bagi Yesus untuk naik ke dalam “perahuku”, atau aku lebih memilih mendayung sendiri?
Sering kali kita meminta Tuhan segera menghentikan badai,
padahal yang paling Ia rindukan adalah
kepercayaan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada ketakutan kita.
Para murid tercengang dan bingung,
sebab hati mereka masih degil—
bukan karena jahat,
melainkan karena belum sepenuhnya percaya akan kasih Allah.
Renungan ini mengajak kita bertobat secara sangat konkret:
Bertobat dari iman yang hanya kuat ketika hidup tenang.
Bertobat dari doa yang hanya menuntut pertolongan, tetapi sulit mempercayai kehadiran.
Bertobat dari ketakutan yang kita pelihara lebih lama daripada iman.
Hari ini Yesus tidak berkata, “Tenanglah, badai akan segera berlalu.”
Ia berkata: “Tenanglah. Aku ini.”
Dan itulah kasih, seharusnya itu cukup untuk kita.
DOA PENUTUP
Tuhan Yesus,
Engkau melihat kelelahan dan ketakutanku bahkan sebelum aku berseru.
Engkau datang ketika imanku masih rapuh.
Ajari aku percaya bahwa kasih-Mu selalu lebih dahulu,
mengusir ketakutanku,
dan menenangkan hatiku.
Naiklah ke dalam perahu hidupku, redakan hatiku yang gelisah, dan jadikanlah aku saksi kasih-Mu di tengah badai dunia. Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar