Pelita Syukur yang Menerangi Hidup
π Baca selengkapnya:
Renungan Kamis, 29 Januari 2026 - Pekan Biasa III
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 2 Samuel 7:18–19.24–29
Mazmur Tanggapan: Mazmur 132:1–2.3–5.11.12.13–14
Bacaan Injil: Markus 4:21–25
Ayat Emas
“Sabda-Mu itu pelita bagi langkahku, dan cahaya bagi jalanku.”
(Mazmur 119:105)
Renungan
Dalam Bacaan Pertama, kita diajak masuk ke dalam keheningan batin Raja Daud. Setelah mendengar janji TUHAN melalui Nabi Natan,
Daud tidak sibuk memikirkan rencana besar atau pencapaian dirinya. Ia justru duduk diam di hadapan TUHAN dan berkata, “Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah?”
Semakin Daud menyadari karya TUHAN dalam hidupnya, semakin dalam pula rasa syukurnya. Kedekatan dengan Tuhan melahirkan kerendahan hati dan syukur yang tulus.
Syukur Daud bukan sekadar ucapan, melainkan pengalaman batin yang diterangi oleh janji TUHAN. Ia menyadari bahwa seluruh hidupnya, baik masa lalu, masa kini, dan masa depan semua ada dalam terang kehendak TUHAN.
Di sinilah kita melihat iman sebagai pelita batin: semakin dekat seseorang berjalan bersama Tuhan, semakin terang ia melihat hidupnya, dan semakin dalam pula rasa syukur yang lahir.
Yesus dalam Injil hari ini menegaskan bahwa pelita tidak dinyalakan untuk disembunyikan, tetapi untuk diletakkan di atas kaki dian. Terang iman tidak dimaksudkan untuk dinikmati sendiri. Apa yang diterangi oleh Sabda Allah di dalam batin, pada waktunya akan terpancar keluar.
Iman yang hidup selalu bergerak dari pengalaman pribadi menuju kesaksian nyata.
Pengalaman ini sangat relevan dalam kehidupan pelayanan Gereja secara luas. Tidak jarang kita terlibat aktif, memberi waktu dan tenaga, bahkan mengalami buah-buah pelayanan yang menggembirakan. Namun semakin seseorang berjalan dekat dengan Tuhan, semakin ia menyadari bahwa semua itu bukan terutama hasil kemampuan pribadi. Pelayanan justru menjadi ruang pendalaman syukur, bukan tempat meninggikan diri. Bahkan ketika pelayanan diwarnai kelelahan, kesalahpahaman, atau kesulitan, pelita iman tetap menyala dan menolong kita untuk melihat semuanya sebagai anugerah yang patut disyukuri.
Pelita itu memberi kita kemampuan untuk melihat kesulitan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai bagian dari jalan yang diterangi oleh Tuhan.
Terang Injil tidak menghapus kegelapan secara instan, tetapi menuntun kita melaluinya. Karena itu, orang yang mengalami terang ini tidak mungkin tinggal diam. Terang yang ditempatkan di atas kaki dian selalu mencari ruang untuk menerangi yang lain.
Bagi kita yang telah mengikuti dan melayani dalam KEP, terang itu adalah kabar baik yang harus dibagikan. Terutama kepada orang-orang terdekat: keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.
Inilah perutusan kita, Kabar Baik yang kita rasakan harus juga dibagikan kepada sesama: menjadi pelita yang menerangi kegelapan, memberikan kesaksian iman dengan kata-kata dan kesaksian hidup melalui perbuatan yang nyata.
Doa
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau telah menyalakan pelita Sabda-Mu
di dalam hati kami.
Ajarlah kami untuk bersyukur dalam segala keadaan,
baik dalam keberhasilan maupun dalam kesulitan.
Teguhkanlah langkah kami
agar terang yang kami terima
tidak kami sembunyikan,
melainkan kami wartakan
melalui sikap hidup dan kesaksian nyata.
Jadikanlah kami pelita
bagi keluarga, komunitas, dan dunia
yang Kaupercayakan kepada kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
-
Iman yang sejati selalu berbuah pewartaan. Pengalaman akan Injil tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mendorong seseorang untuk menjadi saksi bagi sesama.
-
Paus Paulus VI menegaskan:
“Akhirnya: orang yang telah menerima pewartaan Injil, ia juga kemudian mewartakan Injil pada orang-orang lain. Di sinilah terletak ujian kebenaran, batu uji penginjilan: Tak dapat dibayangkan bahwa seseorang menerima Sabda dan memberikan dirinya bagi Kerajaan Allah tanpa menjadi seorang pribadi yang memberikan kesaksian mengenai Kerajaan Allah dan pada gilirannya mewartakannya..” (Evangelii Nuntiandi, 24)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar