Belajar Mendengarkan Allah di Tengah Kesibukan
Allah tidak berhenti memanggil,
Maukah kita mendengar-Nya?
Renungan Rabu -Pekan Biasa I, 14 Januari 2026
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan-bacaan:
Bacaan I: 1 Samuel 3:1–10.19–20
Mazmur Tanggapan: Mazmur 40:2.5.7–8a.8b–9.10
Bait Pengantar Injil: Yohanes 10:27
Bacaan Injil: Markus 1:29–39
Ayat Emas
“Bersabdalah, ya TUHAN, hamba-Mu mendengarkan.”
(1 Samuel 3:10)
Renungan
Pada masa Samuel kecil, firman TUHAN jarang terdengar (1Sam 3:1). Ungkapan ini tidak berarti bahwa Allah berhenti berbicara, melainkan bahwa pewahyuan kenabian meredup di tengah krisis kepemimpinan rohani Israel.
Dalam situasi itulah Samuel dipanggil: ia belum mengenal TUHAN secara pribadi, tetapi hatinya terbuka dan siap belajar mendengarkan.
Samuel beberapa kali keliru mengenali suara yang memanggilnya. Ia mengira itu suara Eli. Kekeliruan ini sangat manusiawi. Dalam hidup beriman, kita pun kerap salah menafsirkan suara Allah dan mengiranya sekadar tuntutan kewajiban, suara tradisi, atau tekanan lingkungan.
Namun Allah tidak berhenti memanggil. Ia sabar menuntun, mengulangi panggilan-Nya, hingga manusia siap mendengarkan dengan hati yang terbuka.
Ketika Samuel akhirnya menjawab, “Bersabdalah, ya TUHAN, hamba-Mu mendengarkan,” relasi itu pun mulai terbangun.
Mendengarkan di sini bukan hanya soal telinga, melainkan sikap batin yang siap menerima, taat, dan menyerahkan diri. Inilah dasar sejati panggilan: kesiapsediaan menjadi hamba yang taat pada kehendak Allah.
Mazmur hari ini memperdalam sikap tersebut. Allah tidak terutama menghendaki kurban dan persembahan lahiriah, melainkan telinga yang terbuka dan hati yang siap melakukan kehendak-Nya. “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Ketaatan menjadi bentuk ibadah yang sejati dan hidup.
Injil Markus menampilkan, Tuhan Yesus yang hidup sepenuhnya dari relasi dengan Bapa. Ia menyembuhkan dan melayani banyak orang, namun Ia juga bangun pagi-pagi benar untuk berdoa di tempat sunyi.
Dari keheningan itulah arah pelayanan-Nya diteguhkan. Yesus tidak digerakkan oleh popularitas atau tuntutan manusia, melainkan oleh kehendak Bapa yang dihayati dalam doa.
Renungan ini mengajak kita berkontemplasi: di tengah hiruk-pikuknya kehidupan kita. Oleh karena pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai suara yang menuntut perhatian, apakah kita masih menyediakan ruang untuk mendengarkan Allah? Ataukah kita lebih sering terlena oleh kesibukan kita? Bahkan waktu berdoapun seadanya karena terlalu capek , berusaha hening sebentar tetapi pikiran loncat-loncat oleh banyak hal yang dipikirkan, sehingga tidak bisa fokus dan tanpa ada ruang untuk mendengar.
Seperti Samuel, Allah memanggil berkali-kali, kitapun juga dipanggil-Nya.
Jadi Pertanyaannya apakah kita juga mendengar seperti Samuel? Meskipun pertama, kedua, ketiga salah respon, tetapi oleh kesalahanpun Samuel menemukan kebenarannya.
Kitapun demikian, penting untuk sediakan ruang untuk mendengar, panggilan-Nya, melalui peristiwa sederhana, doa, membaca Sabda Tuhan , atau bahkan melalui suatu peristiwa kegagalan.
Mungkin kita tidak selalu langsung mengenali suara Allah. Mungkin kita sering keliru, ragu, dan lambat memahami kehendak-Nya. Namun seperti Samuel, Allah tidak lelah memanggil. Ia setia menunggu sampai hati kita siap mendengarkan.
Hari ini, di tengah kesibukan dan kelelahan hidup, Ia kembali mengundang kita untuk diam sejenak dan berkata dengan rendah hati: “Bersabdalah, ya TUHAN, hamba-Mu mendengarkan.”
Dari sanalah Allah mengundang manusia masuk dalam relasi kasih dengan-Nya
Marilah Berdoa:
Allah Bapa yang Maharahim, sering kali hidup kami terlalu bising sehingga kami sulit mendengarkan suara-Mu. Ajarlah kami untuk menyediakan ruang hening di hadapan-Mu, agar peka terhadap kehendak-Mu. Bentuklah hati kami seperti hati Samuel yang siap mendengarkan, dan seperti Putra-Mu, Tuhan Yesus Kristus, yang setia melaksanakan kehendak Bapa. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat:
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, penulisan TUHAN (huruf kapital semua) digunakan untuk menerjemahkan Nama Allah yang diwahyukan kepada Israel, yaitu YHWH, Allah yang mengikat perjanjian dan memanggil umat-Nya.
Dalam iman Gereja, Allah yang sama menyatakan diri-Nya secara penuh dalam Yesus Kristus, mengundang manusia masuk dalam relasi kasih dengan-Nya.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar