Kesetiaan yang Tidak Dimengerti

 

Setia pada kehendak Allah kadang tampak tidak wajar di mata manusia. Namun justru di sanalah rahmat-Nya bekerja.

๐Ÿ‘‰ Baca selengkapnya:


Renungan Sabtu, 24 Januari 2026 – Pekan Biasa II

PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I: 2Sam 1:1-4.11-12.19.23-27
Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3.5-7
Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b
Bacaan Injil: Mrk 3:20-21


Ayat Emas

“Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka: Ia tidak waras lagi.”
(Mrk 3:21)


Renungan

Sabda Allah hari ini mengajak kita masuk ke wilayah kesetiaan yang hening, kesetiaan yang tidak selalu dimengerti dan tidak selalu mendapat pengakuan.

Dalam Bacaan Pertama, Daud meratap atas wafatnya Saul dan Yonatan. Padahal Saul adalah raja yang pernah mengejar dan hendak membunuhnya. Namun Daud tidak bersukacita atas kejatuhan orang yang memusuhinya. 

Ia menangis, berpuasa, dan meratap. Kesetiaan Daud tidak ditentukan oleh perasaan atau pengalaman pahit, melainkan oleh kehendak TUHAN dan penghormatannya pada martabat orang yang telah diurapi-Nya. Hati yang setia kepada Allah mampu mengasihi bahkan saat terluka.

Mazmur menegaskan jeritan umat yang lelah dan tertekan: “Buatlah wajah-Mu bersinar, ya TUHAN, maka kami akan selamat.” Ini bukan doa orang yang merasa kuat, melainkan doa orang yang sadar bahwa keselamatan hanya datang dari TUHAN, bukan dari daya manusia.

Dalam Injil, Tuhan Yesus berada pada tahap awal pelayanan-Nya yang sangat intens. Orang banyak terus berkerumun, tuntutan tidak pernah berhenti, sampai Ia dan para murid tidak sempat makan

Situasi ini memunculkan kesalahpahaman, bahkan dari kaum keluarga-Nya sendiri. Mereka datang hendak mengambil Dia dan berkata, “Ia tidak waras lagi.”

Ungkapan “tidak waras” berasal dari kata Yunani exestฤ“, yang berarti keluar dari diri, kehilangan kendali, atau bertindak di luar kewajaran sosial

Ini bukan penilaian medis, melainkan penilaian sosial. Dalam budaya waktu itu, seseorang yang mengabaikan makan, mengabaikan keluarga, dan terus dikelilingi orang banyak dianggap tidak bijaksana, berlebihan, bahkan membahayakan diri

Tuhan Yesus dinilai dengan ukuran kewajaran manusia biasa, bukan dengan terang iman. Namun justru di situlah Ia sedang setia sepenuhnya pada kehendak Bapa.

Pengalaman ini tidak jauh dari kehidupan  murid-murid Kristus masa kini. Banyak pelayan Tuhan mengalami ketegangan yang sama: di satu sisi panggilan untuk setia melayani, di sisi lain tanggung jawab hidup berkeluarga dan tuntutan profesi dalam pekerjaan. 

Tak jarang, waktu harus “dipersembahkan”, untuk pelayanan hingga istirahat berkurang dan kebutuhan jasmani pun tidak selalu terpenuhi.

Pada masa awal pelayanan evangelisasi di Keuskupan Malaka Johor, kami bergantian berangkat ke Malaysia untuk mengajar Kursus Evangelisasi Pribadi. 

Perjalanan sering dimulai sejak Sabtu pagi-pagi buta, mengajar di beberapa kota dalam sehari sampai larut malam, hari Minggu pagi melanjutkan Misa dan pengajaran KEP di kota lain lagi. Sore hari kembali ke bandara, penerbangan kerap tertunda, tiba di Jakarta lewat tengah malam, sampai di rumah sudah hari Senin dini hari, dan pagi harinya langsung masuk kerja. 

Dalam doa dan syukur, saya sering kagum akan kuasa Tuhan, “Kok bisa ya menjalani semua ini?”  Pengalaman itu semakin membuat saya menyadari bahwa ketika setia kepada perutusan yang Allah percayakan, Dia sendiri yang bekerja, menopang dan menguatkan.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan pada kehendak Allah memang kadang tampak tidak wajar di mata manusia, bahkan melampaui batas kewajaran sosial. Namun justru di sanalah rahmat Allah nyata bekerja.

Sabda hari ini mengajak kita ber-refleksi  dengan jujur: apakah kita sungguh setia kepada kehendak Allah, atau lebih sibuk menjaga kewajaran di mata manusia?

Kesetiaan sejati memang tidak selalu membuat hidup lebih mudah, tetapi selalu membuat hidup ditopang oleh Allah. Di dalam kesetiaan itulah Kerajaan Allah bertumbuh tidak kelihatan dalam diri kita,  namun nyata melalui tindakan/perbuatan dan  kita perkataan kita. 


Marilah Berdoa:

Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau mengenal keterbatasan dan keletihan kami,
juga setiap kesetiaan yang sering tidak dilihat orang lain.

Teguhkanlah kami agar tetap setia kepada kehendak-Mu,
Topanglah kami dengan rahmat-Mu,
seperti Engkau menopang Putra-Mu dalam perutusan-Nya.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa Kristus hidup sepenuhnya taat kepada kehendak Bapa (KGK 606–607). Ketaatan ini bukan ketaatan buta, melainkan ketaatan kasih yang menyelamatkan. Karena itu, murid Kristus dipanggil untuk mengutamakan Kerajaan Allah di atas kenyamanan, pengakuan sosial, dan penilaian manusia (bdk. KGK 2015).


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati