Murid yang Dipanggil untuk Membagikan Roti Kehidupan
Renungan Selasa Masa Natal, 06 Januari 2026
Bacaan I: 1Yoh 4:7-10
Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2.3-4b.7-8
Bait Pengantar Injil: Luk 4:18-19
Bacaan Injil: Mrk 6:34-44
Ayat Emas:
“Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10)
Renungan:
Dalam Bacaan Pertama hari ini, Rasul Yohanes menyingkapkan inti pewartaan iman Kristiani: Allah adalah kasih. Kasih bukan sekadar perbuatan Allah, melainkan jati diri Allah sendiri.
Karena itu, setiap orang yang mengasihi adalah lahir dari Allah dan mengenal Allah. Kasih tidak bermula dari usaha manusia, tetapi dari inisiatif Allah yang lebih dahulu mengasihi kita dan mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, agar kita hidup oleh-Nya.
Kasih Allah itu tampak nyata dalam Injil hari ini. Yesus melihat orang banyak dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba tanpa gembala. Ia tidak hanya mengajar mereka dengan Sabda, tetapi juga memperhatikan kebutuhan paling dasar mereka: mereka lapar. Belas kasih Yesus bukan perasaan sesaat, melainkan kasih yang turun ke dalam kenyataan hidup manusia.
Ketika hari mulai malam, para murid mengusulkan solusi yang masuk akal menurut logika manusia: “Suruhlah mereka pergi.”
Namun Yesus menjawab dengan kalimat yang mengguncang:
“Kamu harus memberi mereka makan!”
Yesus tidak sedang meminta para murid menciptakan mukjizat. Ia sedang mengundang mereka terlibat dalam karya kasih Allah.
Ketika para murid menyerahkan apa yang ada pada mereka—lima roti dan dua ikan—Yesuslah yang mengambil, memberkati, memecah-mecahkan, dan menggandakannya. Para murid kemudian membagikan roti itu kepada orang banyak. Mereka bukan sumber roti, melainkan pelayan yang dipercaya untuk membagikan apa yang berasal dari Tuhan.
Peristiwa ini menyingkapkan makna iman yang lebih dalam. Kita tidak diselamatkan oleh kecukupan kita, melainkan oleh Yesus yang menyerahkan hidup-Nya sepenuhnya di kayu salib demi keselamatan kita.
Kasih yang sama itu terus dihadirkan dalam Ekaristi, ketika Kristus memberikan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan bagi umat-Nya. Dari Ekaristi itulah Gereja menerima kekuatan dan perutusan.
Untuk apa Injil hari bagi kita?
Dunia hari ini masih lapar—lapar akan kasih, pengharapan, dan makna hidup.
Dan Yesus tidak berkata kepada para murid-Nya di setiap zaman, “Suruhlah mereka pergi,” melainkan, “Kamulah yang harus memberi mereka makan.”
Kita dipanggil bukan untuk menggantikan Kristus, tetapi untuk membagikan kasih Kristus yang telah kita terima.
Sering kali kita puas hanya dengan menerima: menerima Sabda, menerima Ekaristi, menerima berkat. Namun Injil hari ini menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada penerimaan, tetapi berlanjut pada perutusan.
Bertobatlah dari iman yang hanya menerima Ekaristi, tetapi enggan menjadi murid yang membagikan roti kehidupan kepada sesama.
Apa yang kita terima dari Tuhan tidak untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan—melalui perhatian, pengampunan, pelayanan, dan kasih yang nyata.
Dari yang kecil dan terbatas sekalipun yang kita serahkan, Allah sanggup menghadirkan mukjizat untuk hidup bagi banyak orang.
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus,
Engkau telah lebih dahulu mengasihi dan memberi hidup-Mu bagi kami.
Sering kali kami ingin menerima berkat-Mu,
tetapi ragu ketika Engkau mengutus kami untuk berbagi.
Terimalah hidup kami yang sederhana ini.
Ajarlah kami menjadi murid yang setia,
yang dengan rendah hati mau membagikan
kasih, perhatian, dan pengharapan
yang kami terima dari-Mu.
Semoga melalui hidup kami,
banyak orang merasakan kasih-Mu
yang mengenyangkan dan menghidupkan.
Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar