Iman yang Bertahan, Iman yang Melangkah
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Senin Pekan Biasa I, 12 Januari 2026
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan Liturgi:
- Bacaan I: 1 Samuel 1:1–8
- Mazmur Tanggapan: Mazmur 116:12–13.14.17.18–19
- Bait Pengantar Injil: Markus 1:15
- Bacaan Injil: Markus 1:14–20
Ayat Emas
“Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15)
Renungan:
Hana adalah sosok yang setia, tetapi hatinya terluka.
Ia datang ke rumah Tuhan dari tahun ke tahun, bukan sebagai perempuan yang hidupnya utuh dan bahagia, melainkan sebagai pribadi yang menanggung beban yang berat: mandul, diejek, dan dipermalukan.
Doanya belum terjawab, bahkan kehadirannya di tempat ibadah justru menjadi ruang di mana lukanya kembali disingkapkan.
Namun satu hal tidak pernah hilang dari hidup Hana: ia tetap datang kepada Tuhan.
Ia menangis, ia tidak mengerti, ia sedih, tetapi ia tidak menjauh.
Kesetiaannya bukan kesetiaan yang manis, melainkan kesetiaan yang bertahan dalam gelap. Di sinilah iman Hana diuji dan dimurnikan—bukan oleh jawaban cepat, melainkan oleh keheningan waktu Allah.
Mazmur hari ini bergema sebagai doa batin orang yang telah melewati luka:
“Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku?”
Ini bukan syukur yang lahir dari hidup tanpa masalah, tetapi syukur yang tumbuh dari hati yang belajar tetap percaya meski belum melihat hasil.
Bacaan tentang Hana ini sedang membuka jalan menuju Injil. Dalam kesunyian penderitaannya, Allah sedang membentuk ruang batin yang siap taat sepenuhnya. Dan ketika waktunya genap, Allah yang sama akan bertindak dengan cara yang lain.
Injil menampilkan Yesus yang datang dan memanggil.
Ia tidak menunggu murid-murid-Nya berada di Bait Allah atau dalam kondisi rohani yang ideal.
Ia memanggil mereka di tengah pekerjaan, di antara jala, perahu, dan rutinitas harian. Tanpa banyak penjelasan, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku.” Dan mereka segera meninggalkan segalanya.
Di sinilah Sabda Tuhan hari ini bertemu dalam satu tarikan napas rohani:
Hana diajar untuk bertahan dalam ketaatan meskipun terluka, para murid diajar untuk melangkah dalam ketaatan yang berani.
Keduanya dipertemukan oleh satu sikap yang sama: menyerahkan kendali hidup kepada Allah, tanpa kepastian, tanpa peta yang jelas, tanpa jaminan kenyamanan.
Sabda Tuhan ini sangat relevan dengan kehidupan kita.
Di sebuah paroki, ada seorang ibu yang hampir selalu hadir di Misa harian.
Ia ikut doa rosario, adorasi, dan novena. Namun hidupnya tidak mudah. Anaknya jauh dari Gereja, rumah tangganya penuh ketegangan, dan doanya seakan tidak pernah dijawab. Ia tetap datang ke gereja, duduk diam, kadang dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak banyak bicara, tetapi kesetiaannya tidak pernah hilang. Banyak orang tidak tahu pergumulannya. Ia seperti Hana—setia, tetapi terluka.
Di paroki yang sama, ada seorang yang aktif dalam kehidupan meng-gereja.
Ia biasa hadir dalam pertemuan dan doa-doa baik di Lingkungan. ataupun Paroki, melakukan pelayanan, dan membantu dalam kegiatan yang ditugaskan ke Lingkungan ataupun dalam suatu kepanitiaan.
Suatu hari ia terpilih untuk memimpin pelayanan pastoral yang lain. Ia kaget dan merasa belum siap, masih sibuk, masih banyak urusan pribadi.
Tidak ada waktu panjang untuk berpikir. Ia harus memutuskan: mundur dengan alasan yang masuk akal, atau melangkah dengan iman. Ia seperti para murid—dipanggil di tengah kesibukan, diminta meninggalkan “jala” rasa aman.
Keduanya berada di paroki yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama, dan dipanggil dalam iman yang sama.
Yang satu diuji lewat penantian panjang dan luka yang sunyi.
Yang lain diuji lewat keputusan cepat dan tanggung jawab yang berat.
Namun Tuhan tidak sedang membedakan siapa yang lebih rohani.
Ia sedang bekerja dengan cara yang berbeda, untuk tujuan yang sama:
membentuk hati yang taat dan siap diutus.
Ada kalanya Tuhan tidak langsung memanggil kita keluar dari situasi sulit, tetapi justru membentuk dalam kesetiaan. Namun ada saatnya, Tuhan berbicara dengan jelas dan menuntut keputusan: bertobat, meninggalkan jala, dan mengikuti Dia sekarang—bukan nanti.
Pertobatan hari ini bukan sekadar meninggalkan dosa yang kelihatan, tetapi juga melepaskan keterikatan batin:
luka yang terus dipelihara,
rasa aman palsu,
rutinitas rohani tanpa penyerahan diri,
atau ketakutan untuk melangkah ketika Tuhan memanggil.
“Waktunya telah genap"
Sekarang saatnya, mari berani menjawab panggilan-Nya.
Marilah Berdoa:
Tuhan Yesus,
Engkau melihat luka yang kami sembunyikan
dan jala yang masih kami pegang erat.
Ajarlah kami setia seperti Hana,
tetap datang kepada-Mu meski hati kami letih.
Dan berilah kami keberanian seperti para murid,
untuk meninggalkan apa pun yang mengikat kami
ketika Engkau memanggil.
Bentuklah hati kami dalam kesunyian,
dan tuntunlah langkah kami dalam ketaatan.
Kami ingin bertobat,
kami ingin percaya kepada Injil-Mu,
dan kami ingin mengikuti Engkau sepenuhnya. Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar