Tuhan akan Datang, kamu persiapkan jalan atau menutup jalan?


Suara yang berseru itu menjadi penunjuk jalan bagi kita.

Renungan Selasa Masa Adven – 23 Desember 2025

Warna Liturgi: Ungu

PF S. Yohanes dari Kety, Imam
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Mal 3:1-4;4:5-6
Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4bc-5ab.8-9.10.14
Bacaan Injil: Luk 1:57-66

Ayat Emas

“Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku.”
(Mal 3:1)



Allah tidak pernah datang tanpa peringatan, Ia selalu lebih dahulu mengutus, memberi tanda, membuka ruang, dan memanggil manusia untuk bertobat. 

Melalui nabi Maleakhi, Tuhan menyatakan kehendak-Nya dengan sangat jelas:
“Aku menyuruh utusan-Ku.”
Bahkan ditegaskan lagi:
“Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan.”

Artinya sederhana namun serius:
Tuhan memberi waktu sebelum Ia datang.
Ia tidak ingin manusia terkejut, tetapi siap.

Namun rahmat ini menuntut jawaban dari manusia.

Elia dan Yohanes Pembaptis bukan sekadar tokoh masa lalu. Dalam iman Gereja, mereka adalah simbol suara profetis yang terus diutus untuk  menjadi penunjuk jalan, hadir di kehidupan kita dengan tenang namun mengusik jiwa melalui: 

  • Sabda Tuhan yang mengajak kita menata ulang hidup,
  • ajaran Gereja yang menuntun, meski tidak selalu nyaman,
  • suara hati nurani yang menegur dengan lembut tetapi jujur,
  • peristiwa hidup dan relasi yang memanggil kita untuk berubah.

Allah seringkali berbicara dan selalu berbicara, namun yang sering bermasalah bukan suara-Nya, melainkan kesediaan kita untuk mendengar.

Maleakhi menggambarkan kedatangan Tuhan seperti api tukang pemurni logam.
Api ini membakar supaya kerak-kerak kehidupan yang  membuat tidak murni, dipisahkan dari hidup kita.

Ini keseriusan Allah mengasihi Manusia, agar :

  • memurnikan iman dari sekadar rutinitas,
  • membersihkan ibadah dari kepentingan diri,
  • menyentuh relasi yang tampak baik-baik saja tetapi rapuh di dalam.

Api ini tidak untuk menghanguskan melainkan karena Allah tidak mau manusia hidup dalam kepalsuan.

Injil hari ini memberikan gambaran yang jelas, Zakharia adalah imam yang saleh dan setia. Ia berada di Bait Allah. Ia mengenal doa dan hukum Tuhan. Namun ketika Sabda Allah melampaui logikanya, ia ragu.

Akibatnya, ia menjadi bisu.

Kebisuan ini bukan hukuman semata, melainkan cermin iman yang belum sepenuhnya percaya.

Baru ketika Zakharia taat sepenuhnya pada kehendak Allah— menuliskan nama Yohanes, bukan nama pilihannya sendiri—
mulutnya terbuka dan pujian pun mengalir.

👉 Ketaatan membuka suara yang dibungkam ketakutan.


Adven, masa penantian akan kedatangan Tuhan hampir berakhir.

Suara yang dikumandangkan itu menjadi penunjuk jalan bagi kita

Maka Natal bukan lagi soal apakah Tuhan datang,
melainkan apakah Ia menemukan jalan yang terbuka dalam hidup kita, atau kita masih menutup jalan bagiNya?

Natal bukan pertama-tama tentang palungan di Betlehem,
tetapi tentang hati yang bersedia menjadi tempat tinggal-Nya.

Jika jalan tidak disiapkan,
Tuhan tetap datang —
tetapi Ia hanya akan lewat begitu saja

Hari-hari terakhir Adven bukan waktu untuk menambah kesibukan rohani, melainkan waktu untuk kejujuran batin.

Bila ada Sabda yang mengusik, relasi yang perlu dipulihkan, kebiasaan yang perlu diubah, atau dosa yang perlu dilepaskan—

itulah suara utusan Tuhan.

Menanggapi dengan ketaatan berarti membuka jalan.
Menunda berarti menutup pintu bagi Natal yang sejati.


Marilah berdoa:

Tuhan yang setia,
Engkau mengutus sebelum Engkau datang.

Berilah kami kepekaan untuk mendengar suara-Mu,
kerendahan hati untuk bertobat,
dan keberanian untuk membuka jalan bagi-Mu.

Datanglah, ya Tuhan,
dan tinggallah bukan hanya dalam perayaan,
tetapi di dalam hati kami yang Engkau murnikan.
Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati