Terjadilah Padaku Menurut Perkataanmu itu

“Iman sejati bukan memahami segalanya, tetapi berani menjawab panggilan: terjadilah padaku......"


Renungan Sabtu, 20 Des 2025

Masa Adven
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Yes 7:10-14
Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Injil: Luk 1:26-38


Ayat Emas:

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)


Renungan

Sabtu terakhir dalam Masa Adven adalah ambang rohani: kita sudah begitu dekat dengan Natal, namun justru di titik inilah kejujuran iman diuji. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu bahwa Tuhan akan datang, melainkan apakah hidup kita sungguh siap menerima-Nya.

Dalam bacaan pertama (Yes 7:10–14), Raja Ahas diberi kesempatan oleh Tuhan untuk meminta tanda. Ini bukan tawaran biasa: Allah sendiri mengundang Ahas untuk menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya. Namun Ahas menolak dengan alasan yang tampak religius, “Aku tidak mau mencobai Tuhan.” Di balik kata-kata yang kelihatannya saleh ini tersembunyi hati yang menutup diri. Ahas lebih memilih rasa aman menurut perhitungan manusia daripada iman yang bersandar pada Allah.

Sikap Ahas ini sangat dekat dengan pengalaman kita hari ini. Kita pun sering berkata, “Saya percaya Tuhan,” tetapi pada saat yang sama menolak ketika firman-Nya menuntut perubahan konkret: berdamai dengan orang yang melukai kita, meninggalkan kebiasaan dosa yang sudah lama kita pelihara, atau melangkah dalam panggilan yang terasa berat. Kita menolak bukan karena tidak tahu, melainkan karena tidak mau kehilangan kendali atas hidup kita. Inilah awal dari ketertutupan hati yang memerlukan pertobatan.

Namun Allah tidak berhenti. Kesetiaan-Nya melampaui ketidaksetiaan manusia. Tuhan sendiri memberi tanda: seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan Imanuel. Janji ini bukan sekadar nubuat mesianis, melainkan pewahyuan bahwa Allah memilih masuk ke dalam sejarah manusia yang rapuh untuk menyelamatkannya¹.


Mazmur 24 menegaskan konsekuensi rohani dari kedatangan Allah itu. Tuhan adalah pemilik bumi dan segala isinya, tetapi hanya mereka yang bersih tangannya dan murni hatinya yang dapat berdiri di hadapan-Nya. Ini adalah panggilan pertobatan yang sangat konkret: tidak ada ruang bagi Natal tanpa pemurnian hati². 

Kita tidak bisa menyambut Raja Kemuliaan sambil tetap menggenggam kepalsuan, kebencian, dan kompromi dengan dosa.


Injil hari ini (Luk 1:26–38) memperlihatkan jawaban yang berlawanan secara total dengan Ahas. Maria memang bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” tetapi pertanyaannya lahir dari iman yang mencari pengertian, bukan dari penolakan. Ia tidak menutup pintu bagi Allah. Ketika malaikat menyatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, Maria sampai pada penyerahan diri yang radikal: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan.”

Di sinilah titik pertobatan personal itu terjadi. Maria tidak sekadar menerima informasi ilahi; ia menyerahkan seluruh eksistensinya—tubuh, masa depan, kehormatan, dan keamanan hidupnya—kepada kehendak Allah³. Iman sejati selalu menuntut kematian atas ego dan kelahiran manusia baru.

Renungan ini menantang kita untuk bertanya dengan jujur:

  • Di bagian mana dalam hidupku aku masih seperti Ahas—menolak kehendak Allah dengan alasan yang tampak masuk akal dan rohani?
  • Dosa atau kebiasaan apa yang terus kutoleransi sehingga hatiku tidak sungguh bersih dan murni?
  • Apakah aku berani berkata “terjadilah padaku” ketika firman Tuhan menyentuh area hidup yang paling sensitif?

Tanpa pertobatan, iman berubah menjadi pengetahuan kosong. Tanpa ketaatan, doa menjadi rutinitas tanpa daya. Natal tidak pernah lahir di hati yang tertutup, tetapi selalu lahir di hati yang bersedia diremukkan dan dibentuk ulang oleh Roh Kudus⁴.

Hari ini, sebelum palungan Natal dihias dan lagu-lagu dinyanyikan, Tuhan menantikan satu hal: jawaban pribadimu. Bukan jawaban sempurna, melainkan jawaban jujur. Jika kita berani berkata bersama Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan,” maka Kristus sungguh akan lahir—bukan hanya di Betlehem, tetapi di kedalaman hidup kita.


Marilah berdoa:

Tuhan Allah yang Mahasetia, sering kali kami mengenal firman-Mu, namun hati kami masih menolak untuk berubah.
Kami takut kehilangan kenyamanan, padahal Engkau menawarkan keselamatan.

Pada hari ini kami datang dengan kerendahan hati.
Singkapkanlah sikap Ahas dalam diri kami dan ubahkanlah hati kami menjadi seperti hati Maria.
Bersihkan tangan kami dari perbuatan yang tidak berkenan kepada-Mu,
murnikan hati kami dari niat yang tidak jujur.

Ajarlah kami berkata dengan iman:
Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan;
terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Semoga dengan demikian, Putra-Mu sungguh lahir dan hidup dalam diri kami.
Amin.


Catatan Kaki:

1. Inkarnasi sebagai inisiatif kasih Allah: KGK 456–460.
2. Kemurnian hati sebagai syarat perjumpaan dengan Allah: KGK 2518–2520.
3. Ketaatan iman Maria sebagai teladan Gereja: KGK 494; Lumen Gentium 56.
4. Pertobatan sebagai pembaruan batin: KGK 1427–1431.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Tuhan memberkati.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati