Sukacita Bapa atas satu jiwa yang kembali


Kadang tak sadar, kitalah domba itu.

Yang hilang, Yang dicari, Yang ditunggu untuk kembali.

Baca renungan hari ini. Tuhan sedang mencarimu....




Renungan Selasa, 09 Desember 2025

Masa Adven II
PF Yohanes Didaci Cuauhtlatoatzin
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Yes 40:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-2.3.10ac.11-12.13
Bacaan Injil: Mat 18:12-14


Ayat Emas

“Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:14)


Renungan

Injil hari ini sering dipahami sebagai perumpamaan belas kasih Allah. Namun jika dibaca dalam konteks pasal 18 keseluruhan, sebenarnya Yesus sedang berbicara tentang wajah Gereja

Ia mengajarkan bahwa komunitas murid-murid-Nya harus meniru hati Bapa yang tidak menghendaki satu pun hilang. 

Inilah fondasi dari apa yang disebut Paus Fransiskus sebagai “Gereja yang keluar” (Evangelii Gaudium).

1. Yesus menolak mentalitas “99 aman”

Yesus memulai dengan pertanyaan sederhana:
“Bagaimana pendapatmu?”
Ia mengajak kita mengevaluasi cara kita hidup sebagai Gereja. Apakah kita hanya sibuk merawat mereka yang sudah hadir, sudah aktif, sudah dekat, sementara yang terseok-seok tidak terlihat?

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bahaya nyata Gereja adalah merasa nyaman dengan 99 domba yang aman. Itu berarti:

  • Kita puas dengan kelompok yang rajin,
  • Kita menjaga struktur dan rutinitas,
  • Kita merasa sudah cukup karena banyak aktivitas,
  • Tapi lupa memikirkan mereka yang perlahan menjauh.

Yesus menunjukkan bahwa cara berpikir seperti itu bukan cara Allah bekerja.

2. Gembala itu pergi — mengambil inisiatif, bukan menunggu

Yesus menggambarkan Bapa sebagai Gembala yang meninggalkan 99 dan pergi mencari yang satu. Ini bukan tindakan sembrono; ini adalah tindakan kasih yang radikal.

Inilah inti Evangelii Gaudium:
Gereja dipanggil untuk keluar, bukan menunggu datang.

Keluar berarti:

  • Mencari yang terluka,
  • Mendekati yang merasa tidak layak,
  • Mendatangi mereka yang kecewa pada Gereja,
  • Merangkul mereka yang hidup dalam situasi kompleks, jatuh, atau jauh.

Paus Fransiskus berkata:

“Saya lebih menginginkan Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena turun ke jalanan daripada Gereja yang sakit karena tertutup dan nyaman.” (EG 49)

Gereja yang sehat bukan yang steril, tetapi yang berani mendekati penderitaan dunia.

3. Perhatian pada “yang kecil” sebagai inti komunitas murid

Pasal 18 mengawali pengajarannya dengan anak kecil—lambang kerendahan hati, kelemahan, dan ketergantungan. Dengan kata lain:
Gereja dinilai bukan dari bagaimana ia memperlakukan yang kuat, tetapi yang lemah.

Domba yang hilang dalam Injil hari ini adalah mereka yang:

  • sedang goyah iman,
  • tidak lagi berani ke Gereja,
  • merasa tidak pantas,
  • tersakiti oleh pengalaman masa lalu,
  • berada di pinggiran sosial, ekonomi, atau spiritual.

Mereka bukan beban; mereka adalah prioritas.

4. Sukacita Bapa atas satu jiwa yang kembali

Yesus menutup dengan kalimat kuat:
“Lebih besar kegembiraannya atas yang satu itu.”

Ini cara Yesus mengatakan:
Setiap orang unik. Setiap orang bernilai. Setiap orang patut dicari.
Gereja tidak diukur dari berapa banyak orang hadir, tetapi bagaimana ia memperjuangkan satu orang yang jauh.

Di sinilah kita melihat jantung Injil:
Belas kasih selalu bergerak, mencari, dan memulihkan.



Injil hari ini mengundang untuk bertanya pada diri kita:

  • Siapakah “domba satu itu” dalam hidup kita?
  • Dalam komunitas kita, adakah yang hilang tetapi tidak kita cari?
  • Apakah kita lebih sibuk menjaga kegiatan internal daripada menyentuh mereka yang terluka?
  • Apakah kita menjalani iman sebagai museum orang suci atau rumah sakit bagi mereka yang membutuhkan penyembuhan?

Yesus mengajarkan bahwa Gereja-Nya tidak boleh menjadi tempat yang hanya nyaman bagi yang kuat. Gereja harus menjadi Gembala yang berjalan, bukan menunggu. 

Gereja harus berani “memar dan kotor” demi menggapai mereka yang hilang—sebab Bapa tidak menghendaki seorang pun hilang.


Doa

Tuhan Yesus, Engkau adalah Gembala yang baik yang selalu mencari kami ketika kami hilang. Bentuklah hati kami agar menyerupai hati-Mu—hati yang tidak puas dengan 99 yang aman, tetapi selalu memperjuangkan satu yang hilang. Jadikanlah Gereja kami, keluarga kami, dan diri kami pribadi yang berani keluar, mendekati, dan merangkul mereka yang terluka. Semoga kami menjadi saksi belas kasih-Mu yang hidup. Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati