Iman yang Membuka Mata Hati
Renungan Jum'at, 05 Des 2025
Masa Adven I
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.4.13-14
Bacaan Injil: Mat 9:27-31
Ayat Emas:
"Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, 'Terjadilah padamu menurut imanmu.'" (Mat 9:29)
Renungan:
Bacaan Injil hari ini menceritakan dua orang buta yang mengikuti Yesus sambil berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Panggilan “Anak Daud” menunjukkan iman mereka: mereka mengenali Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah, keturunan Raja Daud, yang memiliki kuasa ilahi untuk menyelamatkan dan membawa mujizat.
Ketika Yesus bertanya, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?” mereka menjawab mantap, “Ya, kami percaya.”
Iman itu lahir dari kerinduan, doa, kesaksian, dan keberanian untuk mengikuti Yesus. Iman yang hidup membuka jalan bagi mujizat, bahkan bagi hal-hal yang tampaknya mustahil.
Hari ini, mari bertanya pada diri kita: “Di manakah Anak Daud-ku saat ini? Adakah aku juga percaya, seperti orang buta itu percaya, bahwa Yesus dapat melakukan mujizat dalam hidupku?”
Mungkin “kebutaan” kita bukan secara fisik, tapi hati kita bisa buta terhadap pengampunan, kesabaran, atau harapan.
Mungkin kita belum tahu akan masa depan kita; kita “buta” terhadap apa yang akan terjadi.
Iman seperti kedua orang buta itu mengajarkan kita untuk berseru kepada Tuhan, percaya sepenuh hati, dan mengikuti-Nya, meski kita belum melihat hasilnya secara nyata. Percayalah kepada Dia yang bisa “memelekkan mata kita” sehingga kita bisa melihat masa depan yang penuh harapan.
Kesaksian salah satu kebutaan hidup saya;
Tahun 2010, saya mengikuti TC Pengajar Misi Evangelisasi. Di bab 5 materinya berjudul “Berteman dengan Orang-Orang”. Pengajar menjelaskan bahwa bab ini adalah langkah pertama dalam proses penginjilan, menjadi pintu supaya Kabar Baik bisa diwartakan.
Beliau menekankan bahwa ‘berteman’ bukan hanya berarti mengenal orang baru, tetapi juga menjalin hubungan lebih dalam dengan orang yang sudah dikenal. Saat itu, saya tersadar, ternyata mata saya masih tertutup terhadap anak saya yang nomor 2, satu-satunya putri saya. Kami seperti ada sekat. Ada saja alasan baginya untuk menolak ketika saya dalam banyak hal untuk mendekat, bahkan saya mengantar atau menjemputnya di sekolahpun ia tolak.
Pengajaran itu mengingatkan saya bahwa “berteman” juga harus diterapkan di rumah—menjalin relasi yang dekat dan hangat dengan anak sendiri. Setiap kali saya pulang dari pelayanan atau pelatihan, biasanya dia sudah tidur. Maka saya mulai berdoa dan membuat tanda salib kecil di keningnya tanpa dia tahu. Saya percaya, Tuhan akan memulihkan apa yang retak, apa yang menyebabkan semua itu terjadi pada kami. Secara perlahan, hubungan kami mulai berubah. Mata hati kami yang tertutup mulai terbuka, dan relasi kami menjadi lebih dekat.
Hingga sekarang, dia hampir berusia 23 tahun, dan kasih sayang itu tetap ada. Saya menyadari bahwa pengalaman ini adalah bagian dari bagaimana Tuhan membuka mata hati saya: terkadang kita buta terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, tetapi dengan kesadaran, doa, dan tindakan sederhana, Tuhan bisa memelekkan mata kita dan memperdalam relasi kita.
Maka saya sungguh merasa diberkati, ternyata melalui KEP ini Tuhan memulihkan relasi atau "berteman" saya dengan keluarga terlebih dahulu.
Mazmur hari ini juga mengingatkan kita, bahwa Tuhan adalah terang dan keselamatan kita.
Dalam “kegelapan” hidup, iman yang hidup memungkinkan kita “melihat” kasih dan penyelamatan-Nya.
Maka inilah waktu kita untuk meneguhkan iman, berseru kepada Tuhan, dan membiarkan terang-Nya menembus kegelapan hati kita.
Berani untuk percaya, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Dan carilah Tuhan dalam doa, dengarkan melalui Sabda-Nya,dalam pelayanan dan dalam kehidupan sehari-hari, biarkan iman menuntun langkah kita, hingga kita mengalami kesembuhan dari kebutuhan kita.
Marilah berdoa:
Tuhan yang Mahakasih, Terima kasih karena Engkau membuka mata hati kami melalui iman. Tolong kami percaya sepenuh hati, seperti kedua orang buta yang mengikuti-Mu. Bimbinglah kami untuk melihat kasih-Mu di tengah kegelapan hidup, dan kuatkan iman kami agar kami berani bersaksi dan membagikan terang-Mu kepada sesama. Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.

Amin, puji dan syukur bagiMu Tuhan... 🙏
BalasHapusAmen puji Tuhan pak Putrinya pun sdh graduasikan cantik sekali putrinya...
BalasHapusYea berteman juga bermula dari runah memperbaiki dari dalam keluar ahh makasih renungan hari ini...