Sukacita yang Lahir Saat Harapan Dimurnikan
Tuhan sedang bekerja,meski tidak selalu seperti yang kita harapkan.
Minggu Sukacita mengajak kita percaya:
Kerajaan Allah sungguh hadir di tengah kita.
RENUNGAN MINGGU ADVEN III – GAUDETE
Masa Adven III
Bacaan I: Yes 35:1-6a.10
Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7.8-9a.9bc-10
Bacaan II: Yak 5:7-10
Bait Pengantar Injil: Yes 61:1
Bacaan Injil: Mat 11:2-11
Ayat Emas:
“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat.”(Mat 11:4)
Minggu Adven III adalah Minggu Sukacita, tidak mengajak kita bersukacita karena semua pertanyaan sudah terjawab, melainkan karena Tuhan sedang bekerja, meskipun tidak selalu sesuai dengan harapan kita.
Bacaan Liturgi hari ini mempertemukan janji-janji besar para nabi dengan realitas pelayanan Yesus yang sering kali membingungkan banyak orang, termasuk Yohanes Pembaptis sendiri.
Nabi Yesaya menggambarkan kedatangan Allah sebagai pemulihan besar-besaran: padang gurun berbunga, orang buta melihat, orang lumpuh melompat, dan orang-orang buangan kembali ke Sion dengan sorak-sorai.
Gambaran ini membentuk harapan Mesianik Israel: saat Mesias datang, bangsa akan dipulihkan, musuh dikalahkan, keadilan ditegakkan, dan kemuliaan Israel dipulihkan sebagai Kerajaan Allah di dunia.
Namun ketika Yesus datang, tanda-tanda yang dinanti tidak tampak lengkap. Tidak ada penggulingan penjajah Romawi. Tidak ada tahta politik. Tidak ada pemulihan nasional seperti yang dibayangkan.
Yang ada justru seorang Mesias yang berjalan dari desa ke desa, menyembuhkan orang sakit, menyentuh orang najis, duduk makan bersama pemungut cukai, dan akhirnya Yohanes timbul keraguan, dan menyuruh muridnya bertanya kepada Yesus:
“Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?”
Pertanyaan ini bukan lahir dari iman yang lemah, melainkan dari ketegangan antara janji nabi dan cara Allah menggenapinya. Yohanes melihat mukjizat Yesus, tetapi ia juga melihat bahwa tanda-tanda Mesias sebagai Raja pemulih Israel belum terwujud. Maka muncul keraguan, Apakah ini sungguh Dia?
Jawaban Yesus sangat penting. Ia tidak berkata, “Ya, Aku Mesias, tunggulah sebentar.”
Ia juga tidak berkata, “Engkau salah memahami Mesias.”
Sebaliknya, Yesus mengutip dan menggenapi nubuat Yesaya, tetapi dengan penekanan yang berbeda:
orang buta melihat
orang lumpuh berjalan
orang kusta menjadi tahir
orang tuli mendengar
orang mati dibangkitkan
orang miskin menerima kabar baik
Dengan kata lain, Yesus berkata:
Kerajaan Allah memang datang, tetapi bukan seperti yang kamu bayangkan.
Apakah Mukjizat Yesus dapat diartikan sebagai tanda-tanda Raja yang datang?
Ya, tetapi bukan Raja politik.
Dalam tradisi Kitab Suci, raja sejati Israel adalah wakil Allah yang:
memulihkan kehidupan
membela yang lemah
menegakkan keadilan
membawa damai (shalom)
Mukjizat Yesus bukan sekadar aksi belas kasihan, tetapi tanda kerajaan:
Ia memulihkan ciptaan, membalikkan akibat dosa, dan menegakkan kembali martabat manusia.
Namun Yesus tidak memulai dengan struktur, melainkan dengan hati manusia.
Bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan penyembuhan.
Bukan dengan pedang, melainkan dengan belas kasih.
Inilah sebabnya banyak orang tetap ragu, bahkan ketika mukjizat terjadi.
Mereka melihat tanda-tanda, tetapi tanda itu tidak sesuai dengan peta harapan mereka.
Di sinilah renungan ini menyentuh hidup kita hari ini.
Sering kali kita pun membawa harapan tertentu kepada Tuhan:
pemulihan yang cepat, jawaban yang jelas, perubahan besar yang langsung terasa.
Ketika Tuhan bekerja dengan cara yang lebih halus, memulihkan perlahan, mengubah dari dalam, bukan dari luar, kita mulai pun sering kali meragukan :
“Apakah Tuhan sungguh hadir?”
Minggu Adven III mengajak kita bersukacita bukan karena semua harapan kita terpenuhi, tetapi karena Allah setia pada janji-Nya, meskipun Ia menggenapinya dengan cara-Nya sendiri. Sukacita lahir ketika kita membiarkan harapan kita dimurnikan, dari harapan diri atau 'kerajaan diri' menjadi kepercayaan pada kasih Kerajaan Allah.
Maka kata-kata Yesus menjadi penutup yang tajam dan penuh pengharapan:
“Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Berbahagialah saat ini, kita yang mau menerima Kerajaan Allah yang datang berbeda dari sekedar bayangan, tetapi nyata, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah dalam hidup kita, yang memberikan kekuatan dalam setiap apapun hal yang kita jalani.
Jika anda merasakan itu, artinya anda sudah mengalami 'tanda Kerajaan' itu dan hidup dalamnya, mulai dari saat ini.
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, sering kali kami menantikan Engkau dengan gambaran kami sendiri.
Ketika Engkau datang dengan cara yang berbeda, kami pun ragu.
Bukalah mata iman kami agar kami mampu mengenali tanda-tanda Kerajaan-Mu
dalam pemulihan, dalam belas kasih, dan dalam karya kecil yang sering kami abaikan.
Murnikanlah harapan kami, agar kami tidak mencari Engkau sebagai raja menurut kehendak kami, melainkan menerima Engkau sebagai Raja yang membawa hidup.
Ajarlah kami bersukacita, karena Kerajaan-Mu sungguh hadir di tengah kami. Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar