Nemo Dat Quod Non Habet

Renungan Sabtu, 06 Des 25

Masa Adven I
PF S. Nikolaus, Uskup
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Yes 30:19-21.23-26
Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-2.3-4.5-6
Bait Pengantar Injil: Yes 33:22
Bacaan Injil: Mat 9:35-10:1.6-8


Ayat Emas:

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:8b)


Renungan:

Kita baru dapat memberi ketika kita sudah menerima. Kita baru dapat mengasihi ketika kita lebih dahulu mengalami kasih itu. Inilah inti dari prinsip kuno yang begitu dalam maknanya:

Nemo Dat Quod Non Habet — Seseorang Tidak Dapat Memberi Apa Yang Tidak Ia Miliki.


Dalam bacaan pertama, Yesaya menampilkan wajah Allah yang penuh belas kasih: Ia mendengar seruan umat-Nya, membalut luka-luka mereka, menegakkan yang tertindas, dan menuntun mereka dengan sabda-Nya:

“Inilah jalan, berjalanlah di situ.” (Yes 30:21)


Umat Allah lebih dahulu mengalami kasih, pemulihan, dan bimbingan, baru kemudian mereka sanggup berjalan dalam terang dan melakukan kehendak-Nya.


Dalam Injil, Yesus hadir bukan dari kejauhan. Ia turun ke kota dan desa, menyentuh luka, memulihkan jiwa, dan menyembuhkan penyakit. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan ketika melihat orang banyak yang “lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala.”


Belas kasih itu tidak berhenti pada rasa iba; ia berubah menjadi gerak nyata. Karena itulah Yesus mengutus para murid untuk melanjutkan karya-Nya

Namun sebelum diutus, para murid telah terlebih dahulu menerima: sabda, kuasa, pemurnian hati, pendampingan pribadi, dan kasih dari Sang Guru. Baru setelah itu Yesus berkata:

 “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”


Ayat ini bukan hanya perintah, tetapi sebuah spiritualitas pelayanan.


Ketika Tuhan memberi kita rahmat, pengampunan, penghiburan, dan pemulihan secara cuma-cumatanpa syarat—Ia meminta kita untuk melayani dengan hati yang sama: hati yang digerakkan oleh belas kasihan, bukan oleh kepentingan diri.


Sering kali kita melayani karena “tugas,” “kewajiban,” atau “jadwal.” Namun Injil hari ini mengingatkan:

Kita hanya mampu melayani karena belas kasihan Tuhan yang lebih dahulu menyentuh hidup kita.

Dan kasih yang besar itulah yang harus kita bagikan kepada sesama.


Pelayanan bukan terutama soal kemampuan, melainkan tentang menghadirkan kasih Tuhan. 

Kasih itu tampak dalam sikap, kata-kata, cara kita memperlakukan orang lain, bahkan dalam cara kita memandang sesama.


Kesaksian Iman: 

Suatu ketika, istri saya meminta saya membelikan 30 rosario untuk dibagikan kepada anak-anak yang belajar agama di lingkungan. Sebelumnya, istri dan teman-temannya berkunjung ke tempat dimana mereka belajar dan mendapati bahwa anak-anak itu belum bisa berdoa Rosario. Karena itu, istri saya berjanji akan mengajari mereka.


Saat ia meminta saya membeli rosario, sempat terlintas dalam hati saya: “Mengapa mereka punya kelompok pelayanan, tetapi minta ke saya?”


Namun pada saat itu, saya seperti diingatkan oleh Tuhan:

“Jika sekarang Aku meminta sedikit dari berkat yang telah Aku berikan kepadamu—untuk membuat orang mengenal Aku lebih baik—mengapa engkau tidak mau memberikannya?”

Kata-kata itu menyadarkan saya, bahwa apa yang ada pada saya semuanya adalah pemberian Tuhan. 

Akhirnya rosario itu pun saya belikan, dan terjadilah kegiatan mengajar doa Rosario bagi anak-anak. Sukacita meluap ketika rosario dibagikan satu per satu, dan anak-anak itu berjanji akan menggunakannya untuk berdoa.


Beberapa bulan kemudian, betapa bahagianya hati istri saya ketika bertemu dengan seorang anak yang masih memakai rosario itu sebagai kalung. 

Ia berkata, “Ibu, aku sekarang sudah berani doa Salam Maria waktu dapat giliran saat doa lingkungan!”

Inilah kebahagiaan yang tak ternilai: sedikit berkat yang kita berikan dapat menumbuhkan iman seseorang sedemikian rupa. 


Inilah arti “cuma-cuma” dalam hidup Kita

Kita harus menyadari bahwa segala yang kita miliki—waktu, tenaga, pikiran, hikmat, bahkan rezeki—pada hakikatnya adalah pemberian Tuhan.


Kita menerima semuanya itu dengan cuma-cuma.

Karena Tuhan telah memberikan segalanya kepada kita tanpa syarat, kita pun dipanggil memberikan apa yang telah kita terima kepada orang lain dengan cuma-cuma, melalui pelayanan-pelayanan kita, tanpa menuntut balasan apa pun dari orang yang kita layani.


Yang terutama adalah logika berfikir dan sikap batin yang harus dikoreksi, karena "pelayanan" itu bukan "pekerjaan". 

- Aku melayani bukan untuk menerima, melainkan karena aku telah menerima begitu banyak dari Tuhan.

- Arus rahmat itu tidak boleh berhenti di dalam diriku.

Artinya:

Rahmat mengalir dari Tuhan → kepada kita → dan diteruskan kepada sesama.


Maka, jadikan masa Adven ini sebagai undangan untuk membuka hati, menerima kembali kasih, pemulihan, dan belas kasih Tuhan. Hanya hati yang penuh yang mampu memberi.

Dan hanya hati yang mengalami belas kasih Tuhan yang mampu menjadi saluran belas kasih bagi dunia.


Marilah berdoa:

Tuhan Yesus yang penuh belas kasih,

Pada masa Adven ini kami datang kepada-Mu dengan hati yang rindu diisi dan dipulihkan.

Engkau telah memberi kami segalanya dengan cuma-cuma: hidup, pengampunan, kekuatan, dan kasih-Mu.

Penuhilah kami kembali, sembuhkanlah luka-luka kami, dan teguhkan langkah kami.

Jadikan kami pelayan yang berhati jernih dan tulus,

yang memberi bukan dari kekosongan, tetapi dari kelimpahan rahmat-Mu.

Ajarlah kami membagikan kasih yang telah kami terima,

agar hidup kami menjadi saluran terang dan belas kasih-Mu bagi dunia. Amin.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati