Mengenali Tuhan yang Datang

“Bagaimana menyambut Dia yang datang dalam hidupmu… tetapi kamu tidak mengenal-Nya? Temukan jawabannya dalam renungan hari ini.”


Renungan Sabtu, 13 Desember 2025

Masa Adven II – PW S. Lusia, Perawan dan Martir

Warna Liturgi: Merah
Bacaan I: Sir 48:1-4.9-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19
Bait Pengantar Injil: Luk 3:4.6
Bacaan Injil: Mat 17:10-13

Ayat Emas:

“Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia.” (Matius 17:12)


Renungan:

Bacaan hari ini mengajak kita melihat bagaimana Allah terus mengarahkan umat-Nya, bahkan ketika manusia sering tidak menyadarinya. Kitab Putera Sirakh menggambarkan Elia sebagai “api yang membakar”, seorang nabi yang dipakai Allah untuk mengoreksi, menegur, dan memulihkan Israel.

Namun dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang menyedihkan:

Elia sudah datang dalam diri Yohanes Pembaptis, tetapi orang tidak mengenal dia.

Yohanes tampil di padang gurun bukan sebagai pahlawan gagah berani, tetapi seorang nabi sederhana, berselubung bulu unta, dan menyerukan pertobatan. 

Ia datang “dalam roh dan kuasa Elia”, tetapi bukan dengan gemerlap mukjizat seperti yang dibayangkan banyak orang. Ia datang untuk membuka jalan bagi Mesias, namun bangsa itu bertanya-tanya:

“Inikah dia? Mengapa tidak seperti yang kami bayangkan?”

Bangsa Israel hidup dalam penantian panjang. Mereka membayangkan Mesias sebagai Raja yang memulihkan kejayaan Israel politik. Mereka menantikan kuasa, kejayaan, dan kemenangan lahiriah. Tetapi Mesias justru datang dengan cara yang sama sekali berbeda.

Ia datang tanpa kereta perang, tanpa pasukan, tanpa mahkota.

Ia datang dengan diam-diam, dalam kesederhanaan, dan berada di tengah orang-orang biasa.

Karena tidak sesuai dengan gambaran mereka, banyak orang menolak.

Dan bukankah kita pun demikian?

Kita menantikan Tuhan, tetapi sering menantikan Tuhan versi kita sendiri, Tuhan yang memberi kenyamanan, menjawab cepat, menyelesaikan masalah tanpa proses, dan tidak mengusik zona nyaman. Ketika Tuhan hadir lewat hal-hal sederhana: teguran lembut, kegagalan, ketenangan doa, atau peristiwa kecil, kita sering tidak mengenalinya.


Pada masa kini, kita sibuk menyiapkan perayaan Natal secara lahiriah:

rumah dirapikan, lampu dipasang, dekorasi dipilih dengan teliti, ornamen digantung indah.

Semuanya baik, tetapi sering kali menjadi “selimut” untuk menutupi kekacauan batin.

Kita ingin tampak merayakan Natal dengan sempurna, tetapi hati kita tetap kosong.


Padahal Tuhan tidak mencari hati yang dihias untuk menutupi dosa.

Ia tidak meminta hati yang tampak suci dari luar.

Yang Ia kehendaki adalah keterbukaan.

Hati yang seperti kandang Betlehem:

gelap, kotor, berantakan, penuh debu, dan rasanya tidak layak.

Tetapi justru di situlah Ia ingin datang.

Hati yang kotor tetapi terbuka lebih berharga bagi Tuhan daripada hati yang tampak rapi tetapi tertutup rapat.


Natal bukan tentang menutupi dosa dengan kemeriahan,

tetapi mengundang Tuhan masuk ke dalam realitas hati kita yang sesungguhnya.


Yesus lahir bukan di istana, tetapi di kandang.

Begitu pula, Ia ingin lahir dalam hati kita apa adanya,bukan hati yang dipaksakan tampak suci,tetapi hati yang jujur dan terbuka kepada-Nya.


Seperti banyak orang tidak mengenali Yohanes dan Yesus karena mengharapkan kemuliaan yang lahiriah, kita pun dapat kehilangan Yesus yang sesungguhnya jika hanya mencari cahaya luar dan melupakan cahaya kecil yang ingin Ia nyalakan di kedalaman hati kita.


Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, bukalah hati kami agar mampu mengenali kehadiran-Mu dalam kesederhanaan hidup sehari-hari. 

Ajari kami untuk tidak menutupi hati dengan kemeriahan luar, tetapi memiliki keberanian membuka hati apa adanya—meskipun kotor, berantakan, dan tidak layak. 

Datanglah, Tuhan, dan lahirlah dalam hati kami yang sederhana, agar Engkau bertumbuh menjadi Juru Selamat yang mengubah hidup kami dari dalam. Amin.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati