Mimpi Yusuf adalah ruang keheningan tempat Allah berbicara.
Renungan Kamis, 18 Des 2025
Masa Adven
Bacaan I: Yer 23:5-8
Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2.12-13.18-19
Bacaan Injil: Mat 1:18-24
Ayat Emas
“Sesungguhnya, Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud.”
(Yer 23:5)
Renungan
Tentunya kita semua pernah mengalami mimpi. Setelah bangun, kita sering bertanya-tanya: apa arti mimpiku tadi malam? Tidak jarang ketika kita menceritakannya kepada orang lain, kita mendengar jawaban sederhana: mimpi hanyalah bunga tidur.
Namun hari ini, liturgi mengajak kita melangkah lebih dalam: merenungkan mimpi Allah, mimpi yang justru hadir dan menyelamatkan ketika hidup sedang kalut dan gelap.
Di tengah sejarah perjalanan bangsa Israel yang runtuh dan penuh kegagalan, Allah tidak membatalkan janji-Nya. Melalui nabi Yeremia, Tuhan menyatakan bahwa Ia sendiri akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud. Ini bukan sekadar janji politik, melainkan janji keselamatan: seorang raja yang memerintah dengan keadilan, membebaskan umat, dan menghadirkan damai sejati.
Mazmur 72 menggemakan harapan itu dalam doa: raja yang membela orang miskin, menyelamatkan yang tertindas, dan membawa damai sejahtera yang berlimpah. Umat merindukan keadilan, tetapi belum melihat wujudnya.
Injil hari ini mengungkapkan bagaimana janji dan doa itu mulai digenapi—lewat mimpi seorang tukang kayu bernama Yusuf.
Mimpi Yusuf adalah ruang keheningan tempat Allah berbicara. Saat Yusuf berada di persimpangan hidup: terluka, bingung, dan harus mengambil keputusan berat. Ia bisa memilih menjauh. Ia bisa memilih jalan aman. Namun justru ketika ia berhenti mengandalkan rencananya sendiri, Allah masuk dengan panggilan yang jelas: “Jangan takut.”
Dalam mimpi itu, Allah mempercayakan kepada Yusuf sesuatu yang melampaui dirinya: menjaga Maria, menerima Yesus, dan dengan ketaatannya memasukkan Sang Mesias ke dalam garis Daud. Tunas Adil itu mulai bertumbuh bukan lewat kekuasaan, melainkan lewat ketaatan yang sunyi.
Mimpi Yusup adalah panggilan masuk dalam keselamatan Allah, dan tanpa sepatah kata pun dicatat Injil, seluruh hidup Yusuf menjadi jawaban atas panggilan itu.
Di sinilah Injil menyentuh kita sebagai manusia modern. Kita sering mendengar motivasi: “bermimpilah setinggi langit.” Maka kita pun memiliki banyak mimpi-mimpi: rencana, target, ambisi, dan harapan pribadi.
Namun Adven mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah hidup kita hanya mengejar mimpi dari ego kita sendiri, ataukah kita berani memberi ruang bagi mimpi Allah, meski itu mengguncang kenyamanan hidup kita?
Mimpi Allah tidak hadir dari emosi sesaat, dengan dengan keramaian dunia, namun ia hadir dalam keheningan doa, dalam pergulatan batin, dalam ajakan untuk taat ketika situasi tidak ideal. Namun justru di sanalah Imanuel—Allah yang menyertai kita—lahir dan bekerja.
Mari Kita Renungkan Perlahan
- Saat kapan saya berada dalam situasi seperti Yusuf: bingung, terluka, atau ragu?
- Suara apa yang lebih saya dengarkan: ketakutan saya, atau panggilan Tuhan yang lembut dan nyaris tak terdengar?
- Apakah saya berani menanggalkan sejenak mimpi saya untuk memberi ruang bagi mimpi Allah?
Bukan berarti mimpi kita tidak baik. Namun iman mengajak kita membiarkan hidup dipimpin oleh Tuhan, bukan sekadar oleh keinginan kita sendiri.
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” (Amsal 16:9)
Ketaatan seperti ini sering tidak dilihat siapa pun, tetapi sangat menentukan masa depan, karena kita melakukan apa yang dipercayakan kepada kita dengan iman.
Dan tidak jarang, justru di jalan ketaatan itulah Tuhan memberikan lebih dari yang kita harapkan atau impikan:
“Bagi Dia, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”
(Efesus 3:20)
Kita dipanggil bukan sekadar untuk bermimpi seperti Yusuf, melainkan meneladani sikap Yusuf:
mendengar, percaya, dan taat melangkah dengan setia bersama Tunas Adil itu.
Doa Penutup
Tuhan, di tengah kebisingan hidup kami, ajarlah kami mendengar suara-Mu.
Berilah kami hati seperti Yusuf, yang berani taat meski tidak sepenuhnya mengerti.
Semoga dalam ketaatan kami yang sederhana, Tunas Adil-Mu terus bertumbuh, dan Engkau sungguh lahir dalam hidup kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar