Dari Zona Nyaman Menuju Terang Allah

 

Di gunung Tabor mereka mengalami momen terang yang begitu indah.

Pengalaman rohani bukan untuk membuat berdiam, melainkan kekuatan untuk turun kembali ke lembah kehidupan, membawa terang itu ke dalam kenyataan yang sering gelap dan berat.

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Minggu, 01 Maret 2026 – Minggu Prapaskah II


Warna Liturgi: Ungu

  • Bacaan I: Kej 12:1–4a
  • Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4–5.18–19.20.22
  • Bacaan II: 2Tim 1:8b–10
  • Bacaan Injil: Mat 17:1–9

Tema

Dipanggil untuk Melangkah dalam Iman dan Mendengarkan Tuhan Yesus


Ayat Emas:

“Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5)


Renungan:

Minggu Prapaskah II mengajak kita naik ke gunung, bukan terutama secara fisik, melainkan secara batin. Di sanalah Allah menyapa manusia yang bersedia meninggalkan zona nyamannya, seperti Abram yang taat melangkah tanpa peta yang jelas, hanya berbekal iman kepada sabda TUHAN. Panggilan Abram adalah panggilan untuk keluar: keluar dari rasa nyaman, dari kebiasaan lama, dari ketergantungan pada diri sendiri. 

Dalam Prapaskah ini, Allah juga memanggil kita untuk berani dan percaya seperti Abram, meninggalkan negeri yang merupakan zona nyaman duniawi,  meninggalkan sanak saudara sebagai ikatan lama yang menjerat, serta meninggalkan rumah bapamu untuk menanggalkan identitas lama kita. Dalam iman, ini dibaca sebagai: panggilan untuk pertobatan total dan pembaruan hidup.

Pengalaman pergi itu dinyatakan dalam terang Injil oleh tiga orang murid Tuhan Yesus. Di gunung Tabor mereka mengalami momen terang yang begitu indah, Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Wajah-Nya bercahaya, pakaian-Nya putih bersinar, hingga Petrus ingin berhenti di sana,  menikmati hadirat-Nya. 

Namun pengalaman rohani bukan untuk membuat berdiam, melainkan kekuatan untuk turun kembali ke lembah kehidupan, membawa terang itu ke dalam kenyataan yang sering gelap dan berat.

Suara dari awan menegaskan pusat iman kita: “Dengarkanlah Dia!” 

Mendengarkan Dia berarti membiarkan sabda-Nya membentuk cara berpikir, memilih, dan bertindak, bahkan ketika  itu menuntut salib kehidupan kita.

Surat kepada Timotius mengingatkan bahwa panggilan Allah bukan berdasarkan jasa kita, melainkan kasih karunia-Nya. Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup. Maka penderitaan dalam kesetiaan kepada Injil bukanlah kekalahan, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan sejati.

Sabda Tuhan ini adalah undangan lembut namun tegas: 

Ia menyentuh mereka sambil berkata,
"Berdirilah, jangan takut!"

Maka marilah berjalanlah seperti iman Abram, dengarkanlah Tuhan Yesus seperti para murid, dan jangan takut turun dari gunung untuk hidup setia di dunia nyata.

Marilah Berdoa

Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkau memanggil kami keluar dari kegelapan menuju terang-Mu.
Anugerahkanlah kepada kami hati yang berani melangkah dalam iman,
telinga yang peka untuk mendengarkan sabda Tuhan Yesus,
dan kesetiaan untuk menghidupi panggilan kami di tengah dunia.
Kuatkan kami dalam perjalanan pertobatan ini,
agar hidup kami sungguh menjadi berkat bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

  1. Panggilan Allah bersumber pada kasih karunia, bukan jasa manusia.
    Rahmat adalah bantuan cuma-cuma dari Allah yang memampukan kita menjawab panggilan-Nya. (KGK 1996)

  2. Kristus menyingkapkan kemuliaan-Nya untuk meneguhkan iman para murid.
    Transfigurasi mempersiapkan para murid menghadapi salib dengan harapan akan kebangkitan. (KGK 554–556) 

  3. Mendengarkan Kristus adalah inti pewartaan dan kehidupan Gereja.
    Pewartaan Injil berpusat pada Yesus Kristus yang hidup dan hadir, yang terus berbicara kepada umat-Nya. (Evangelii Gaudium 164)

  4. Menurut Santo Agustinus, panggilan Abraham melambangkan peralihan dari hidup yang terikat pada dunia menuju hidup yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah (lih. De Civitate Dei, XVI).


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

  1. Renungan hari ini begitu dekat dengan sy ambil hari Pergi keluar dsri zon selesa bersama keluarga teman dan pelayanan dan harus pergi ke tempat baru Penang yang tidak punya siapa2 tetapi Yea!! BerkatNya menyertai rupanya ounya misa yang harus sy jalani disni terima kasih Tuhan terima kasih penulis renungan ini benar memberi peneguhan bagi sy Amen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kesaksian iman yang begitu menyentuh.
      Panggilan untuk pergi keluar dari zona nyaman memang tidak mudah,
      namun Allah yang memanggil juga setia menyertai dan terus meneguhkan langkah Sis Aveil di Penang. Bertumbuhlah ditempat dimana kamu ditanam, syukur untuk pelayanan yang dipercayakan. Tuhan Memberkati.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati