Effata: Saat Allah Membuka Hati yang Tertutup
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Jumat, 13 Februari 2026 - Pekan Biasa V
Warna Liturgi: Hijau
- Bacaan I: 1Raj 11:29-32; 12:19
- Mazmur Tanggapan: Mzm 81:10-11ab.12-13.14-15
- Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b
- Bacaan Injil: Mrk 7:31-37
Ayat Emas:
“Effata!” artinya: Terbukalah! (Mrk 7:34)
Renungan
Nabi Ahia mengoyakkan kainnya menjadi dua belas bagian. Sepuluh bagian diberikan kepada Yerobeam sebagai tanda bahwa TUHAN mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo. Dan penulis Kitab Raja-Raja menutup kisah itu dengan kalimat yang getir:
“Demikianlah orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.”
Perpecahan itu bukan sekadar peristiwa politik. Itu adalah tanda dari hati yang tidak lagi mendengarkan TUHAN. Mazmur hari ini memperdengarkan suara ilahi yang penuh keprihatinan:
“Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku… Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku…”
Betapa menyentuhnya kerinduan Allah agar umat-Nya mau mendengarkan.
Dalam Injil, kita melihat seorang yang sungguh-sungguh tidak dapat mendengar. Ia tuli dan gagap. Ia dibawa kepada Tuhan Yesus. Lalu terjadi sesuatu yang sangat personal: Tuhan Yesus memisahkannya dari orang banyak, menyentuh telinganya, menyentuh lidahnya, menengadah ke langit dan berkata,
“Effata!” — Terbukalah!
Dan seketika itu juga, telinganya terbuka, lidahnya terlepas, dan ia dapat berbicara dengan baik.
Hari ini sabda Allah mempertemukan dua gambaran:
Israel yang tidak mau mendengarkan, dan seorang tuli yang dibukakan pendengarannya.
Sering kali kita tidak tuli secara fisik, tetapi hati kita bisa tertutup. Kita mendengar sabda setiap hari, tetapi belum tentu membiarkannya masuk ke dalam hati. Kita membaca Kitab Suci, tetapi belum tentu membiarkannya mengubah keputusan hidup kita.
Kadang-kadang kita berjalan menurut “kedegilan hati” seperti yang dikatakan Mazmur. Allah membiarkan manusia mengikuti angan-angannya sendiri — dan di situlah perpecahan, kekosongan, dan kerapuhan mulai tumbuh.
Tuhan Yesus hari ini ingin melakukan mukjizat yang sama dalam diri kita. Ia ingin menyentuh bagian hidup yang tertutup:
telinga batin yang tidak peka terhadap teguran,
lidah yang sulit bersaksi,
hati yang lambat untuk taat.
Sabda hari ini sederhana tetapi mendalam:
Biarkan Tuhan berkata atas hidup kita: Effata.
Terbukalah untuk kebenaran.
Terbukalah untuk pertobatan.
Terbukalah untuk kehendak Allah.
Sebab perpecahan lahir dari hati yang tertutup, tetapi keselamatan dimulai dari hati yang terbuka.
Marilah Berdoa
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau rindu agar kami mendengarkan suara-Mu.
Sering kali kami lebih mengikuti suara keinginan kami sendiri daripada kehendak-Mu.
Sentuhlah hati kami seperti Putra-Mu menyentuh orang tuli itu.
Bukalah telinga batin kami agar peka terhadap sabda-Mu.
Lepaskanlah lidah kami agar berani bersaksi tentang karya-Mu.
Jauhkan kami dari kedegilan hati dan tuntunlah kami pada ketaatan yang setia.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
- TUHAN adalah satu-satunya Allah dan umat dipanggil untuk mendengarkan serta menaati-Nya (bdk. KGK 2084-2086).
- Mukjizat Tuhan Yesus adalah tanda pemulihan manusia seutuhnya — jasmani dan rohani (bdk. KGK 1503-1505).
- Pertobatan adalah keterbukaan hati terhadap rahmat Allah (bdk. KGK 1430-1432).
- Iman tumbuh dari pendengaran sabda Allah dalam Gereja (bdk. KGK 1154).
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar