Berakar dalam Kristus, Berbuah dalam Kehidupan
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Kamis, 19 Februari 2026 – Pekan Prapaskah I
- Bacaan I: Ul 30:15–20
- Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1–2.3.4.6
- Bait Pengantar Injil: Mat 4:17
- Bacaan Injil: Luk 9:22–25
Ayat Emas
“Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya.”
(Mzm 1:3)
Renungan
Liturgi Sabda hari ini mengajak kita masuk ke kedalaman kehidupan rohani, bukan lewat perintah yang keras, melainkan melalui gambaran akar yang tersembunyi dan tidak terlihat.
Dalam bacaan pertama, TUHAN menghadapkan kepada manusia dua kemungkinan: kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihan itu tidak netral, tetapi apa yang dipilih akan menentukan ke mana arah hidup bertumbuh.
Mazmur menolong kita memahami pilihan itu lewat kiasan rohani yang lembut namun kuat: pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon itu tidak digambarkan karena daunnya yang indah, tetapi karena akarnya yang tertanam dalam. Ia hidup, bertahan, dan berbuah bukan karena cuaca selalu baik, melainkan karena akarnya menemukan sumber air yang memberi hidup.
Injil hari ini menyingkapkan apa arti menanam akar itu secara konkret. Tuhan Yesus berkata bahwa siapa pun yang mau mengikuti Dia harus menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikuti-Nya. Tiga sikap ini bukan tuntutan yang mematikan, melainkan jalan agar hidup tidak layu.
Menyangkal diri berarti membiarkan akar hidup kita menembus lapisan ego dan kelekatan. Selama hidup hanya berputar pada diri sendiri, akar tidak akan pernah mencapai kedalaman.
Memikul salib setiap hari berarti tetap tinggal setia dalam kenyataan hidup, bahkan ketika berat dan tidak dipilih. Di sanalah akar iman dikuatkan.
Dan mengikuti Tuhan Yesus berarti mengarahkan seluruh hidup kepada Dia yang adalah sumber air hidup.
Prapaskah mengundang kita untuk bertanya dengan jujur dalam keheningan batin kita:
di mana selama ini aku menanam akarku?
pada kenyamanan, pengakuan, dan keberhasilan semata (yang menjadi tuhan-tuhan kecilku),
atau pada Tuhan Yesus Kristus yang setia meski harus melalui jalan salib?
Buah kehidupan: kasih, kesabaran, pengampunan, kesetiaan, tidak pernah lahir dari usaha manusia semata. Buah itu bertumbuh secara diam-diam dari akar yang setia berpaut pada Kristus. Maka memilih kehidupan, seperti dikatakan dalam Kitab Ulangan, berarti memilih untuk berakar dalam Dia, disepanjang peziarahan hidup kita.
Marilah Berdoa
Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkau memanggil kami untuk memilih kehidupan dan berbuah bagi sesama.
Sering kali kami ingin buah tetapi bukan buah hasil dari kedalaman yang mengakar kepada-Mu.
Tanamkanlah hidup kami semakin dalam dan kuat yang bersumber pada Tuhan Yesus, agar kami mampu menyangkal diri, setia memikul salib harian,
dan mengikuti-Nya dengan hati yang utuh.
Semoga dari hidup yang berakar didalam-Nya, lahir buah-buah kasih
yang memuliakan nama-Mu
dan menghidupkan sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
- Manusia yang dibenarkan oleh Kristus dipanggil untuk menghasilkan buah dalam hidup baru, bukan sebagai tuntutan hukum, melainkan sebagai buah rahmat. (KGK 1694)
- Iman yang sejati selalu menghasilkan buah dalam tindakan konkret, sebab Injil tidak berhenti pada batin, tetapi menjelma dalam kehidupan. (EG.24)
- Mengikuti Kristus berarti mengambil bagian dalam salib-Nya, sebab dari salib itulah kehidupan baru dan keselamatan mengalir bagi dunia. (RM.88)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar