Antara Tanda Allah dan Keputusan Hati

 

Penduduk Niniwe bertobat hanya dengan mendengar seruan seorang nabi.

Kita bukan hanya mendengar tentang tanda itu, tetapi mengalami dan merayakan-Nya. 

Masihkah kita mau menunda pertobatan?

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Rabu, 25 Februari 2026 – Rabu Prapaskah I

Warna Liturgi: Ungu

  • Bacaan I: Yun 3:1–10
  • Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3–4.12–13.18–19
  • Bait Pengantar Injil: Yl 2:12–13
  • Bacaan Injil: Luk 11:29–32

Ayat Emas:

“Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”
(Mzm 51:19b)


Renungan:

Dalam masa Prapaskah, Gereja mengajak kita berhenti sejenak dari keramaian hidup dan memandang kembali arah perjalanan iman kita. Masa ini bukan sekadar waktu pantang dan puasa, melainkan kesempatan untuk membiarkan Allah menyentuh dan membarui hati.

Bacaan hari ini mempertemukan kita dengan tiga zaman, tiga pengalaman iman, namun satu panggilan yang sama: bertobat dan percaya kepada Allah.

Penduduk Niniwe hidup jauh dari perjanjian Allah. Mereka bukan umat pilihan, tidak mengenal Taurat, dan tidak menyaksikan mukjizat besar. Tanda yang mereka terima hanyalah kehadiran nabi Yunus dan pewartaannya. 

Tidak diceritakan bahwa mereka mengetahui pengalaman Yunus di dalam perut ikan. Namun ketika firman TUHAN disampaikan, hati mereka terbuka. Mereka percaya, berpuasa, dan berbalik dari tingkah laku yang jahat. Dan Allah, yang Maharahim, berkenan mengampuni mereka.

Dalam Injil, Tuhan Yesus berbicara kepada angkatan 'jahat' pada zaman-Nya. Tanda keselamatan sudah hadir di tengah mereka. Sang Sabda sendiri berdiri di hadapan mereka; mukjizat demi mukjizat dilakukan di depan mata mereka. Namun mereka masih menuntut bukti lain. Hati mereka belum sungguh terbuka untuk percaya.

Maka Tuhan Yesus menegaskan bahwa tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Di sini, tanda itu bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan pribadi Tuhan Yesus sendiri, yang kelak akan dimuliakan melalui wafat dan kebangkitan-Nya.

Kini, kita hidup pada zaman sesudah Paskah. Kita bukan hanya mendengar tentang tanda itu, tetapi telah merayakannya. Kita mengenal salib dan kebangkitan Tuhan Yesus, merayakan Ekaristi, menerima Roh Kudus, dan hidup dalam Gereja. Terang yang kita terima jauh lebih besar daripada yang diterima penduduk Niniwe.

Namun pada masa Prapaskah ini, kita dihadapkan pada pilihan: 

Dengan semua tanda yang telah kita terima, masihkah kita menunda pertobatan?

Apakah kita masih menunggu pengalaman tertentu seperti orang-orang 'angkatan jahat' itu, ataukah kita berani membuka hati seperti penduduk Niniwe dan membiarkan Allah memperbarui hidup kita?

Mazmur hari ini mengingatkan bahwa Allah tidak menghendaki kurban lahiriah semata, melainkan hati yang remuk redam. Pertobatan sejati bukan soal kesempurnaan, melainkan keberanian untuk berbalik dan memulai kembali bersama Allah.

Jika penduduk Niniwe bertobat hanya dengan mendengar seruan seorang nabi, apa alasan kita hari ini untuk tidak percaya, ketika Paskah Tuhan, wafat dan kebangkitan-Nya telah dinyatakan kepada kita?


Marilah Berdoa

Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau telah memberikan kepada kami tanda keselamatan
dalam wafat dan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan Yesus Kristus.
Bebaskanlah hati kami dari kekerasan dan penundaan,
agar kami sungguh bertobat dan percaya kepada kasih-Mu.

Dalam masa Prapaskah ini,
ajarilah kami mempersembahkan hati yang remuk redam,
dan memperbarui hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

  • Pertobatan adalah perubahan arah hidup yang lahir dari hati.
    “Pertobatan batin adalah perubahan radikal seluruh hidup.”
    (KGK 1431)

  • Allah selalu lebih dahulu menawarkan belas kasih-Nya.
    Pertobatan manusia adalah jawaban atas panggilan kasih Allah.
    (KGK 1428)

  • Paskah Kristus adalah tanda keselamatan yang definitif.
    Injil mengundang kita untuk percaya dan hidup baru dalam sukacita. (EG.11)


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati