Sentuhan Iman di Tengah Kematian

 

Kasih manusia memiliki batas,

tetapi kasih Allah menghidupkan.

Jangan takut, percaya saja.

👉 Baca selengkapnya :


Renungan Selasa, 03 Februari 2026 - Pekan Biasa IV

Peringatan Fakultatif: S. Ansgarius, Uskup • S. Blasius, Uskup dan Martir
Warna Liturgi: Hijau

  • Bacaan I: 2Sam 18:9-10.14b.24-25a.30–19:3
  • Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-2.3-4.5-6
  • Bait Pengantar Injil: Mat 8:17
  • Bacaan Injil: Mrk 5:21-43

Ayat Emas

“Jangan takut, percaya saja!”
(Mrk 5:36)


Renungan 

Ratapan Daud atas kematian Absalom memperlihatkan kedalaman kasih seorang ayah yang tidak pernah berhenti mencintai anaknya, sekalipun anak itu memberontak dan membawa kehancuran atas dirinya sendiri. 

Tangisan Daud bukan sekadar kesedihan pribadi, melainkan jeritan manusia di hadapan kenyataan pahit bahwa kasih manusia, betapapun tulusnya, memiliki batas. Daud ingin menggantikan nyawa anaknya, tetapi ia tidak berdaya di hadapan maut. Dalam kisah ini, Kitab Suci menampilkan penderitaan yang belum menemukan jalan keluar.

Jeritan itu menemukan jawabannya dalam Injil hari ini. Markus dengan sengaja menyusun kisah Yesus dengan dua peristiwa yang saling menjalin: seorang anak perempuan yang mati dan seorang perempuan yang dua belas tahun “mati perlahan” dalam penderitaan. 

Melalui susunan ini, kita diajak melihat bahwa Yesus adalah Tuhan atas seluruh kenyataan yang paling ditakuti manusia, yaitu sakit penyakit, kenajisan, ketakutan, dan kematian

Ia tidak menjauh dari duka, tetapi masuk ke dalamnya. Ia tidak meniadakan kenyataan pahit, tetapi mengubahnya dari dalam.

Ketika Tuhan Yesus berkata, “Anak ini tidak mati, melainkan tidur,” Ia tidak menyangkal kematian biologis, melainkan menyatakan pandangan iman: di hadapan Allah, kematian bukanlah akhir, melainkan keadaan sementara yang dapat dibangunkan oleh kuasa-Nya

Sabda ini mempersiapkan hati kita untuk memahami misteri Paskah, di mana maut akhirnya dikalahkan oleh kebangkitan. Apa yang dalam Perjanjian Lama hanya bisa diratapi, kini dalam Injil mulai dipulihkan.

Perempuan pendarahan yang menjamah jubah Tuhan Yesus dan anak Yairus yang dibangkitkan menunjukkan satu kebenaran penting: iman membuka ruang bagi karya Allah

Bukan status religius, bukan kekuatan manusia, melainkan kepercayaan yang penuh untuk berserah kepadaNya. Dalam diri Tuhan Yesus, kenajisan tidak menular, kematian tidak berkuasa, dan ketakutan tidak memiliki kata terakhir.

Renungan ini mengajak kita untuk menyerahkan seluruh hidup, termasuk luka yang belum sembuh, relasi yang terluka, harapan yang tampak mati kedalam tangan Allah. 

Seperti Daud, kita boleh menangis. Tetapi seperti Yairus, kita dipanggil untuk tetap percaya. Sebab apa yang tidak mampu diselamatkan oleh kasih manusia, digenapi oleh kasih Allah yang nyata dalam Kristus, yang masuk ke dalam penderitaan kita untuk membangkitkan kita kepada hidup yang baru.


Marilah Berdoa

Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau melihat air mata yang kami sembunyikan dan pergumulan yang sering tidak mampu kami ungkapkan.
Ajarlah kami untuk tetap percaya
ketika hidup membawa kami pada jalan yang gelap dan terasa terlambat.

Teguhkan iman kami agar kami berani menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu,
sebab Engkau adalah Allah yang berkuasa atas hidup dan mati, Allah yang membangkitkan harapan dan menghidupkan kembali yang telah padam.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.


Catatan Katekese Singkat

  • Ratapan Daud menegaskan bahwa iman tidak meniadakan duka; menangis adalah bagian dari perjalanan iman.
  • Injil Markus menampilkan Yesus sebagai Tuhan atas penyakit dan kematian, tanda bahwa Kerajaan Allah telah hadir.
  • Ungkapan “tidur” menunjuk pada harapan kebangkitan, yang mencapai kepenuhannya dalam misteri Paskah Kristus.
  • Iman Kristen memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai jalan menuju hidup baru bersama Allah.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati