Dari Meja Cukai Menuju Hidup Baru
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Sabtu, 21 Februari 2026 – Sabtu Sesudah Rabu Abu
Peringatan Fakultatif: Santo Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja
- Bacaan I: Yesaya 58:9b–14
- Mazmur Tanggapan: Mazmur 86:1–2.3–4.5–6
- Bait Pengantar Injil: Yehezkiel 33:11
- Bacaan Injil: Lukas 5:27–32
Ayat Emas
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
(Luk 5:32)
Renungan
Masa Prapaskah membuka ruang hening bagi hati yang mau diperiksa. Bukan sekadar menahan diri dari yang lahiriah, tetapi terutama membiarkan Allah menata ulang batin kita. Bacaan hari ini menegaskan bahwa pertobatan sejati selalu menyentuh dua arah: relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama.
Melalui nabi Yesaya, TUHAN menyingkapkan puasa yang berkenan kepada-Nya: bukan ritual kosong, melainkan hidup yang memberi, memulihkan, dan membebaskan.
Menyerahkan kepada orang lapar apa yang kita inginkan sendiri adalah bentuk pertobatan yang konkret. Di sanalah dalam terang sabda Tuhan, Kasih itu dihadirkan, bukan dari kesalehan yang dipamerkan, tetapi dari kasih yang dijalani dalam pengorbanan yang nyata.
Injil hari ini menghadirkan Tuhan Yesus yang memanggil Lewi, seorang pemungut cukai. Ia tidak menunggu Lewi menjadi baik terlebih dahulu. Panggilan itu justru mengubahnya. Dari meja cukai menuju meja perjamuan, dari hidup lama menuju hidup baru. Tuhan Yesus masuk ke rumah Lewi, duduk makan bersama para pendosa, dan di situlah rahmat bekerja.
Sering kali kita merasa sedang baik-baik saja, bahkan merasa “cukup layak” , namun Injil menegaskan sebaliknya: justru karena kita sakit, kita membutuhkan Tabib. Pertobatan adalah buah dari perjumpaan dengan kasih Allah.
Prapaskah mengajak kita melihat dengan jujur, di mana “meja cukai” kita hari ini?
Menurut Santo Beda Venerabilis (±672–735), seorang biarawan Benediktin, imam, dan Pujangga Gereja, meja cukai melambangkan hidup lama yang terikat oleh dosa, terutama ketamakan dan keterlekatan pada keuntungan duniawi. Duduknya Lewi di meja cukai bukan sekadar posisi fisik, melainkan tanda keadaan batin yang masih tertawan oleh struktur dosa; maka dengan meninggalkannya, Lewi memutus pusat kehidupannya yang lama dan membuka diri sepenuhnya pada rahmat panggilan Tuhan Yesus (lih. Beda Venerabilis, In Lucae Evangelium Expositio, ad Luk. 5:27).
Di depan "meja cukai" itu saat ini Tuhan Yesus berdiri dan berkata dengan lembut namun tegas, “Ikutlah Aku.” Meninggalkan bukan berarti kehilangan, melainkan menemukan hidup yang dipulihkan, Seperti Lewi tidak menunda atau menawar panggilan Kristus, maka segera bangkitlah dan mengikuti-Nya.
Marilah Berdoa
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau mengenal kelemahan dan luka-luka batin kami.
Engkau tidak menjauh dari kami,
melainkan mendekat dan memanggil kami dengan kasih.
Dalam masa Prapaskah ini,
ajarilah kami bertobat dengan rendah hati,
membuka hati bagi sesama yang lapar, tertindas, dan terlupakan,
serta berani meninggalkan jalan lama yang menjauhkan kami dari-Mu.
Semoga hidup kami menjadi tanda terang-Mu
di tengah dunia yang sering gelap oleh ketidakpedulian.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
-
Pertobatan sebagai perubahan hidup
Pertobatan batin adalah pembaruan radikal seluruh hidup, kembali kepada Allah dengan segenap hati.(KGK 1431) -
Yesus datang bagi mereka yang tersingkir
Gereja dipanggil menjadi rumah bagi semua orang, terutama mereka yang merasa jauh dan berdosa.(EG.47) -
Kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata
Pewartaan Injil tak terpisahkan dari komitmen terhadap keadilan, pembebasan, dan solidaritas dengan yang miskin.(EN.31)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar