Kesempurnaan dalam Kasih, Bukan Sekadar Kata
Prapaskah mengajak kita mengasihi lebih jauh melampaui batas.
👉 Baca selengkapnya:
Renungan Harian – Sabtu, 28 Februari 2026 – Sabtu Prapaskah I
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Ul 26:16–19
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1–2.4–5.7–8
Bait Pengantar Injil: 2Kor 6:2b
Injil: Mat 5:43–48
Ayat Emas:
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”
(Mat 5:48)
Renungan:
Masa Prapaskah mengundang kita kembali ke jantung iman: perjanjian kasih antara Allah dan umat-Nya. Dalam Bacaan Pertama, TUHAN berbicara melalui Musa kepada bangsa yang sedang belajar menjadi umat pilihan.
Kekudusan yang diminta bukan sekadar ketaatan lahiriah, melainkan kesetiaan yang lahir dari segenap hati dan segenap jiwa. Menjadi umat TUHAN berarti memilih jalan-Nya setiap hari, bahkan ketika kesetiaan itu tidak terlihat dan tidak mendapat pengakuan.
Mazmur menanggapi panggilan tersebut dengan nada doa yang rendah hati dan jujur. Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat TUHAN, bukan karena ia tidak pernah jatuh, melainkan karena ia tidak berhenti mencari Allah.
Ada kerinduan batin yang tulus: keinginan untuk hidup benar, sekaligus kesadaran akan kerapuhan diri. “Janganlah tinggalkan aku sama sekali.” Inilah doa seorang peziarah iman yang bertahan dalam harapan.
Dalam Injil, Tuhan Yesus berbicara di tengah Khotbah di Bukit, sebuah pengajaran kepada murid-murid dan orang banyak yang hidup dalam tradisi Hukum Taurat.
Mereka terbiasa memahami kasih secara terbatas: mengasihi yang dekat dan menutup hati bagi musuh. Tuhan Yesus tidak meniadakan hukum, melainkan menggenapinya, dengan membawa hukum kasih sampai ke maksud terdalam Allah sendiri.
“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Sabda ini bukan sekadar nasihat moral yang lembut, melainkan undangan radikal untuk memahami bagaimana cara Allah mengasihi manusia.
Ketika Tuhan Yesus berkata, “Haruslah kamu sempurna,” Ia tidak menuntut kesempurnaan tanpa cela. Yang dimaksud adalah hati yang utuh, tidak terpecah oleh kebencian, dendam, atau penolakan.
Kesempurnaan kristiani adalah kasih yang matang, kasih yang tetap memilih kebaikan meski harus melalui luka dan pergulatan batin.
Di sinilah Prapaskah menjadi sangat konkret dan personal. Allah tidak pertama-tama menuntut iman yang berhenti pada kata-kata, melainkan iman yang menjelma dalam kasih.
Jika setiap hari kita mendoakan Doa Malaikat Tuhan dan mengucapkan, “Sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita,” maka marilah kita mendagingkan Sabda itu dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dengan menghidupi Injil hari ini: berani mengasihi lebih jauh dari batas kebiasaan.
Mungkin itu berarti mendoakan seseorang yang masih sulit kita terima, mereka yang oleh Injil disebut sebagai musuh. Setelah berdoa, ambillah langkah kecil yang konkret: menyapa mereka, baik dalam perjumpaan nyata maupun secara sederhana melalui ponsel atau sarana komunikasi yang kita miliki. Meski hati masih terluka, percayalah: ketika kita memilih sikap yang menyembuhkan dan membuka jalan rekonsiliasi, Tuhan sedang membentuk kita.
Dalam langkah-langkah kecil dan setia itulah kita dibentuk menjadi umat yang kudus, bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan oleh kasih Allah yang bekerja dalam kelemahan kita.
Hari ini adalah hari penyelamatan. Waktu perkenanan itu bukan nanti, tetapi sekarang, saat kita membuka hati dan membiarkan kasih Allah menyempurnakan kita perlahan.
Marilah Berdoa
Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau memanggil kami menjadi umat yang kudus dalam kasih yang setia dan utuh.
Di masa Prapaskah ini, ajarilah kami mengasihi seperti Engkau mengasihi:
tanpa syarat dan tanpa batas.
Sembuhkanlah hati kami yang terluka,
dan mampukanlah kami berjalan di jalan-Mu, meski harus melampaui kenyamanan diri.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Catatan Katekese Singkat
-
Kekudusan adalah panggilan semua orang beriman.
Kesempurnaan kristiani bukan privilese segelintir orang, melainkan tujuan hidup setiap murid Kristus.
(KGK 2013) -
Kasih kepada musuh adalah puncak kasih Injili.
Kasih ini meneladani cara Allah mengasihi dan menjadi tanda sejati anak-anak-Nya.
(KGK 1825) -
Pertobatan sejati menyentuh relasi dan cara hidup.
Pembaruan batin menuntun Gereja dan setiap orang beriman untuk hidup lebih seturut Injil.
(Evangelii Gaudium 26)
Terima kasih telah membaca renungan hari ini.
Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,
agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Komentar
Posting Komentar