Menjamah dengan Iman

 

Tidak semua yang dekat sungguh mengerti. Tidak semua yang jauh kehilangan harapan.

Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan iman, sebab yang menjamah-Nya dengan iman akan dipulihkan. 

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Senin, 09 Februari 2026 - Pekan Biasa V

Warna Liturgi: Hijau

  • Bacaan I: 1 Raja-raja 8:1–7.9–13
  • Mazmur Tanggapan: Mazmur 132:6–7.8–10
  • Bait Pengantar Injil: Matius 4:23
  • Bacaan Injil: Markus 6:53–56

Ayat Emas

“Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.”
(Markus 6:56)


Renungan 

Setelah rumah Allah selesai dibangun, tabut perjanjian dibawa masuk ke ruang Mahakudus. Saat para imam keluar, awan turun memenuhi rumah TUHAN. Kemuliaan-Nya begitu nyata hingga para imam tidak sanggup berdiri melayani. 

Allah berkenan hadir, bukan sebagai ide, melainkan sebagai Pribadi yang memenuhi ruang dan waktu umat-Nya. Namun Salomo menyadari satu hal penting: Allah tidak dapat dibatasi oleh bangunan. Ia memilih diam dalam kekelaman, dalam misteri yang melampaui pemahaman manusia.

Kehadiran itu kini menjadi jauh lebih dekat dalam Injil. Tuhan Yesus tiba di Genesaret. Ia tidak masuk ke Bait Allah, tidak berdiri di tempat terhormat, tetapi hadir di tengah desa, pasar, dan keramaian. 

Orang-orang sakit diusung, diletakkan di pinggir jalan. Mereka tidak menuntut mukjizat besar. Mereka hanya memohon satu hal: diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan Injil mencatat dengan sederhana namun kuat: semua yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Injil ini tidak berdiri sendiri. Ia datang setelah Yesus memberi makan lima ribu orang dan menenangkan badai di danau. Namun Markus menulis dengan jujur bahwa para murid belum memahami semua itu; hati mereka masih tertutup. 

Justru orang-orang sederhana yang merasa kecil dan jauh, segera mengenali Yesus dan datang dengan iman yang tulus. Di sinilah Injil menampilkan kontras yang tajam: murid dekat tetapi tidak mengerti, orang banyak jauh tetapi percaya.

Kalimat ini mengajak kita bercermin. Kedekatan lahiriah dengan hal-hal rohani, rutinitas doa, pelayanan, bahkan aktivitas gerejawi, tidak selalu berarti kedalaman iman. Kita bisa dekat secara fisik, tetapi hati tetap tertutup. Sebaliknya, orang-orang yang merasa rapuh, jauh, dan tak layak, justru sering datang dengan iman yang murni dan penuh harap.

Menjamah Tuhan Yesus hari ini bukan lagi soal menyentuh jubah-Nya secara fisik, tetapi keberanian untuk mendekat dengan iman: dalam doa yang jujur, dalam Sakramen yang dihayati, dalam pertobatan yang nyata. 

Allah yang dahulu berdiam dalam awan kemuliaan, kini tetap hadir dan bekerja dalam keheningan hidup kita. Satu sentuhan iman, sekecil apa pun, cukup bagi-Nya untuk memulihkan.

Iman bukan soal siapa yang merasa dekat dengan Tuhan, tetapi berani datang kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan hidup kepada-Nya.


Marilah Berdoa

Allah Bapa yang Mahahadir,
Engkau berkenan diam di tengah umat-Mu
dan menyatakan kasih-Mu dengan cara yang lembut namun penuh kuasa.
Ajarilah kami untuk tidak hanya merasa dekat dengan-Mu,
tetapi sungguh membuka hati agar Engkau kami pahami dan kami percayai.

Berilah kami iman yang sederhana dan tulus,
keberanian untuk mendekat kepada Tuhan Yesus,
dan kerendahan hati untuk menjamah-Nya
dalam doa, dalam Sakramen, dan dalam pertobatan hidup kami.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

  • Sejak awal, Allah tidak pernah jauh dari manusia. Dalam Perjanjian Lama, TUHAN menyatakan kehadiran-Nya melalui tabut perjanjian dan awan kemuliaan sebagai tanda bahwa Ia tinggal bersama umat-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Allah menjadi semakin dekat dengan hadir sebagai manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia (KGK 423). 
  • Beriman kepada Kristus bukan terutama soal banyak tahu, tetapi soal mempercayakan diri kepada Allah dan membuka hati untuk disentuh oleh kasih-Nya (KGK 150). Orang-orang dalam Injil disembuhkan bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena iman yang sederhana dan penuh harap. 
  • Hingga hari ini, Tuhan Yesus tetap hadir dan dapat kita jumpai melalui Sabda Allah, doa, dan Sakramen Gereja, terutama Ekaristi, tempat Kristus menyertai dan menguatkan umat-Nya (KGK 1324; 1373).


Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Tuhan memberkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati