Puasa yang Memulihkan Relasi dengan Allah dan Sesama

 

Puasa sejati bukan tentang menahan diri, melainkan membuka hati. Prapaskah mengajak kita kembali pada Kasih yang memulihkan.

👉 Baca selengkapnya:


Renungan Harian – Jumat, 20 Februari 2026 – Hari Jumat Sesudah Rabu Abu (Masa Prapaskah)

  • Bacaan I: Yesaya 58:1–9a
  • Mazmur Tanggapan: Mazmur 51:3–4.5–6a.18–19
  • Bait Pengantar Injil: Amos 5:14
  • Injil: Matius 9:14–15

Ayat Emas

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah membuka belenggu-belenggu kelaliman.”
(Yes 58:6)


Renungan 

Pada hari-hari awal Masa Prapaskah, Sabda Allah menuntun kita masuk ke kedalaman makna pertobatan. 

Dalam bacaan Injil dan Bacaan I dari Kitab Yesaya bab 58 menyampaikan gema yang sangat kuat berbicara tentang puasa, tetapi dari sudut yang lebih dalam: untuk siapa dan demi apa kita berpuasa.

Dalam konteks sejarahnya, umat Israel baru kembali dari pembuangan. Secara lahiriah, praktik religius kembali hidup: puasa, doa, ibadat.  Namun ada jurang yang lebar antara praktik rohani yang dilakukan dengan  kehidupan mereka. 

Mereka berpuasa, tetapi tetap menindas. Mereka merendahkan diri secara lahiriah, tetapi tetap menutup mata terhadap penderitaan sesama. 

Maka TUHAN menegaskan:
Puasa sejati selalu mengalir keluar, menuju pembebasan, kepedulian, dan solidaritas. Tanpa itu, puasa menjadi kehilangan makna rohani.

Puasa yang berkenan kepada TUHAN bukan pertama-tama soal menahan diri, melainkan soal membebaskan. Membebaskan orang dari belenggu ketidakadilan, membebaskan diri dari egoisme, membebaskan relasi dari kekerasan dan ketidakpedulian. Puasa sejati selalu bergerak ke luar: menuju orang lapar, miskin, telanjang, dan terlupakan.

Mazmur 51 membawa kita lebih dalam lagi. Di hadapan Allah, yang berharga bukanlah kurban yang sempurna, melainkan hati yang remuk redam. Hati yang tidak membela diri. Hati yang berani mengakui luka dan dosa. Di sanalah Allah berkenan tinggal.

Dalam Injil, Tuhan Yesus tidak menolak puasa. Ia hanya menempatkannya kembali pada konteks yang benar.

Dengan menyebut diri-Nya mempelai, Tuhan Yesus masuk ke dalam tradisi kenabian Perjanjian Lama:

  • Allah digambarkan sebagai mempelai umat-Nya
  • Relasi Allah–Israel adalah relasi cinta, bukan sekadar hukum

Selama Tuhan Yesus hadir, relasi itu penuh sukacita.
Ketika Ia “diambil” (melalui sengsara,wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya), puasa menjadi bahasa cinta, bahasa kerinduan akan hadirat-Nya.

Di sinilah kita sekarang berdiri, dimana Gereja hidup pada masa 'mempelai' itu  diambil, maka Puasa Prapaskah artinya kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus, mengambil bagian dalam salib-Nya, dan menantikan kepenuhan hidup baru yang telah dijanjikan-Nya.

Gereja juga selalu mengaitkan puasa dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang didalamnya ada aturan pantang dan puasa, doa, pendalaman iman, derma dan melakukan aksi nyata, buah dari Pertobatan yang renungkan, sesuai dengan tema tertentu dalam kebersamaan. 

Tanpa kasih, puasa kehilangan nadinya.
Tanpa keadilan, puasa menjadi kosong.
Tanpa relasi dengan Tuhan Yesus, puasa berubah menjadi kebiasaan belaka.

Hari ini, kita diajak memulai lagi dengan langkah kecil namun tulus:
menjadikan puasa sebagai  pemulihan relasi dengan Allah dan sesama.


Marilah Berdoa

Allah Bapa yang Maharahim,
Engkau mengenal hati kami lebih dalam
daripada apa pun yang kami tampakkan di hadapan manusia.
Ajarlah kami berpuasa bukan demi diri kami sendiri, melainkan demi kasih yang memulihkan.

Bentuklah hati kami menjadi hati yang lembut,yang rela diubah,yang berani berbagi,dan setia berjalan dalam terang kehendak-Mu.

Semoga Masa Prapaskah ini menjadi waktu rahmat di mana hidup kami semakin serupa dengan Putra-Mu terkasih.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


Catatan Katekese Singkat

  1. KGK 1434 – Puasa, doa, dan sedekah merupakan ungkapan pertobatan batin yang mengarahkan hidup kepada Allah dan kasih kepada sesama.
  2. KGK 2043 – Gereja menetapkan hari-hari puasa dan pantang sebagai latihan rohani untuk menyiapkan umat merayakan misteri Paskah.
  3. KGK 1969 – Hukum Injil menuntun umat beriman untuk melampaui praktik lahiriah menuju kasih yang aktif dan nyata.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini.

Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada keluarga atau sahabat,

agar semakin banyak orang mengalami sapaan kasih Tuhan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati