Yerusalem bukan hanya KOTA, tetapi KITA
Kamis Pekan Biasa XXXIII
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 1 Makabe 2:15-29
Mazmur Tanggapan: Mazmur 50:1-2.5-6.14-15
Bait Pengantar Injil: Mazmur 95:8ab
Bacaan Injil: Luk 19:41-44
Ayat Emas:
“Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” (Luk 19:42)
Renungan:
Injil hari ini menyampaikan sebuah gambaran yang begitu menyentuh: Yesus menangisi Yerusalem bukan karena kota itu indah atau bersejarah, tetapi karena hati mereka telah tertutup. Ia melihat kota itu dan berkata dengan suara yang penuh kedalaman, “Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” Bukan karena Yesus lemah, tetapi karena kasih-Nya begitu besar. Ia datang membawa damai, namun mereka tidak mengenali saat Allah melawat mereka.
Yerusalem menjadi gambaran hati manusia, termasuk hati kita, yang kadang tertutup dan tidak peka terhadap kehadiran Tuhan. Pertanyaannya: kapan kita menjadi seperti Yerusalem?
1. Saat Kita Terlalu Sibuk Hingga Tidak Menyadari Tuhan Mengetuk
Yerusalem menjalani hari-harinya dengan ritme yang padat. Yesus berada sangat dekat, tetapi mereka tidak melihat-Nya. Begitu pula kita. Ada kalanya kesibukan membuat kita tidak peka: Tuhan berbicara lewat kejadian kecil, firman, atau orang lain, tetapi kita melewatinya begitu saja.
2. Saat kita mengabaikan kesempatan
Ada waktu-waktu tertentu ketika Tuhan mengetuk lebih kuat: dorongan untuk berdoa lebih dalam, keinginan memperbaiki diri, ajakan untuk mengampuni, teguran hati nurani. Ketika semua itu kita abaikan, kita seperti Yerusalem yang tidak mengenali kunjungan kasih Tuhan.
3. Saat kita terlalu mengandalkan kekuatan sendiri
Yerusalem merasa temboknya kokoh dan tradisinya cukup. Tetapi tanpa hati yang terbuka, semuanya runtuh. Kita pun bisa merasa “saya mampu,” “saya kuat,” “saya baik-baik saja,” padahal berjalan tanpa Tuhan. Hati yang merasa cukup, merasa sedang baik-baik saja, ini adalah Yerusalem yang rapuh.
4. Saat kita menolak suara Tuhan yang mengoreksi
Yerusalem menolak para nabi. Kita pun kadang menolak suara Tuhan—melalui Firman, nasihat, teguran, atau situasi yang menyentuh titik lemah kita. Bila kita terus mengeraskan hati, akhirnya kita seperti Yerusalem: tidak peka dan kehilangan damai.
Dalam EN 18, Paulus VI menjelaskan bahwa evangelisasi bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi harus menghasilkan perubahan batin yang nyata:
“Tujuan evangelisasi adalah perubahan dari dalam diri (interior transformation), oleh Kristus sehingga ia menjadi ciptaan baru.”
(Evangelii Nuntiandi 18)
Maka, marilah kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita, Ia selalu ingin memberi damai sejahtera, jangan menutup diri, pintu bagi Dia.
Semoga hari ini hati kita menjadi Yerusalem yang baru, ciptaan yang baru, yang lembut , peka,penuh Kasih dan selalu sukacita dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Marilah berdoa;
Tuhan Yesus yang penuh belas kasih, ampunilah saat-saat ketika aku menjadi seperti Yerusalem, sibuk, keras hati, menunda pertobatan, dan tidak peka terhadap sapaan-Mu. Lembutkan hatiku dan bukalah mataku, agar aku tidak melewatkan damai yang ingin Engkau berikan.
Amin.
------------------------
Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.
Terima kasih utk renungan hari ini...Yea sy sendrila Yurusalem Tuhan beri saya kesempatan untuk benar2 berbalik kepadaMu..
BalasHapusRitme itu apa maksudnya?
Kata “ritme” berarti irama, atau in English Rhythm, pola yang teratur.
HapusKalau dikatakan : “Yerusalem menjalani hari-harinya dengan ritme yang padat”,
Maksudnya adalah:
Kota itu memiliki pola kegiatan harian yang teratur namun sibuk.
Dalam konteks renungan diatas, ritme ini menggambarkan bagaimana kesibukan sehari-hari sering membuat manusia lupa memberi ruang bagi Tuhan, sama seperti Yerusalem di zaman Yesus yang ramai namun tidak mengenali “saat Allah melawatnya”.
Semoga menjawab.
Terimakasih telah sudi membaca dan share renungannya ke temen-temen di Sabah, semoga bermanfaat dan menjadi berkat buat semua. Tuhan Memberkati.