Jangan Pernah Menyerah dalam Doa

Renungan Kalender Liturgi 15 Nov 2025

Sabtu Pekan Biasa XXXII

PF S. Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Keb 18:14-16;19:6-9

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3.36-37.42-43

Bait Pengantar Injil: 2Tes 2:14

Bacaan Injil: Luk 18:1-8

 

Ayat Emas:

“Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (Lukas 18:7)

Renungan :

Yesus mengajarkan suatu perumpamaan tentang seorang janda yang terus-menerus datang kepada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli kepada siapa pun. Hakim itu lalim, tetapi akhirnya ia menyerah dan membela janda itu hanya karena ketekunannya.

Jika hakim yang tidak adil saja pada akhirnya bertindak, apalagi Allah yang penuh belas kasih dan keadilan? Yesus memakai kontras ini untuk menegaskan bahwa ketekunan dalam doa bukanlah sia-sia.

1. Ketekunan dalam doa menjaga iman tetap hidup

Yesus mengawali perumpamaan ini dengan maksud yang jelas:

"...bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya."

Doa yang tekun bukan bertujuan memaksa Tuhan, melainkan memelihara hubungan kita dengan-Nya. Ketika kita tetap berdoa meski belum melihat jawaban, itu menunjukkan bahwa kita tetap percaya pada Tuhan, bukan pada keadaan.

Doa yang tak henti-henti menunjukkan bahwa iman kita masih menyala.

2. Tuhan tidak mengulur-ulur waktu, Ia menjawab dengan cara dan waktu-Nya

Yesus berkata:

“Ia akan segera menolong mereka.”

“Segera” menurut Tuhan sering tidak sama dengan “segera” menurut kita.

Namun Tuhan bekerja dengan waktu yang paling tepat, bukan waktu yang paling cepat.

Kadang Tuhan memperlambat jawaban supaya:

- Hati kita lebih kuat,

- Iman kita bertambah matang,

- Kita siap menerima berkat-Nya.

3. Pertanyaan Yesus yang menggugah hati: “Adakah Ia menemukan iman?”

Yesus menutup pengajaran ini dengan pertanyaan yang menusuk:

“Jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan iman di bumi ini?”

Artinya:

ketekunan dalam doa adalah tanda bahwa iman kita tetap hidup.

Bukanlah jawaban doa yang menjadi ukuran iman, tetapi apakah kita tetap berdoa meskipun belum melihat jawaban.

Doa yang bertahan adalah iman yang teguh.

Refleksi Pribadi

1. Apakah aku tetap berdoa meski Tuhan terasa diam?

2. Apakah aku pernah menyerah karena merasa Tuhan terlalu lama menjawab?

3. Adakah doa yang perlu kuhidupkan kembali hari ini?

4. Apakah Yesus akan menemukan iman itu masih ada dalam diriku?


Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk berdoa tanpa jemu-jemu.

Berilah aku hati yang percaya, yang tidak menyerah, dan tetap berharap pada-Mu.

Biarlah Engkau selalu menemukan iman itu menyala dalam hidupku setiap hari.

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati