Jangan "MERASA" Berkuasa



Renungan Harian – Rabu, 26 November 2025

Pekan Biasa XXXIV

Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Mazmur Tanggapan: T.Dan 3:62.63.64.65.66.67
Bait Pengantar Injil: Why 2:10C
Bacaan Injil: Luk 21:12-19

Ayat Emas: 

“Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:19)


Renungan

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita melihat dua gambaran yang kontras tentang respon manusia terhadap Allah: kesombongan yang menutup mata terhadap kehendak Allah, dan kesetiaan yang teguh dalam menghadapi penderitaan.

Dalam bacaan pertama, Raja Belsyazar berpesta pora dengan angkuh. Ia menggunakan perkakas kudus dari Bait Allah untuk kepentingan duniawi dan memuji dewa-dewa buatan tangan manusia. Inilah simbol puncak kesombongan manusia yang merasa dirinya memegang kontrol atas segalanya.

Tetapi tulisan di dinding menyingkapkan kebenaran: “Mené, mené, tekél, ufarsin.”
Yang artinya Allah menghitung, menguji, dan mengakhiri apa yang tidak setia kepada-Nya.

Kesombongan membuat seseorang memakai apa yang suci demi kepentingan diri.
Kita pun dapat jatuh dalam godaan yang sama. 

Kamu harus tahu, arti "perkakas kudus dari Bait Allahmu"  yang tidak boleh dilanggar itu apa. 

Dalam hidup kita sekarang, "perkakas kudus" itu adalah segala sesuatu yang Allah percayakan dan kuduskan: yaitu hatimu, tubuhmu, panggilan hidupmu, sakramen, relasi, dan komitmen hidup – termasuk perkawinan, pelayanan, dan kesetiaanmu.

Contoh :  Hidup Dalam Sakramen Perkawinan

Kesetiaan dalam Sakramen Perkawinan adalah “perkakas suci” yang Allah amanatkan kepada suami dan istri.

Kesetiaan bukan hanya aturan; itu adalah ruang kudus tempat Allah sendiri hadir dan mempersatukan.

Namun jika kita seperti Belsyazar yang merasa berhak memakai perkakas suci sesukanya, kita pun bisa jatuh ke dalam kesombongan yang sama:

menganggap diri memegang otoritas penuh atas hati, keputusan, atau keinginan.

Ketika seseorang merasa bebas menggunakan kesetiaan sesukanya—misalnya dengan mengkhianati komitmen cinta, bermain-main dengan kepercayaan pasangan, atau menggunakan otoritas keluarga untuk kepentingan ego, ia sedang “memakai perkakas kudus” secara tidak pantas.

Dan sebagaimana terjadi pada Belsyazar,

“Mené, mené, tekél, ufarsin.” dapat terjadi juga dalam keluarga:

Mené: Allah menghitung hari-hari rumah tangga itu yang mulai retak.

Tekél: kesetiaan diuji dan ternyata terlalu ringan.

Ufarsin: keharmonisan dan kepercayaan pun pecah.

Kesetiaan—yang begitu kudus—bila disalahgunakan, membawa kejatuhan, bukan karena Allah menghukum, tetapi karena kita sendiri merusak yang kudus dalam hidup kita.



Tidak hanya dalam keluarga, hari ini diingatkan untuk menemukan  “perkakas kudus dari Bait Allahmu” yang harus dijaga.

Ketika kita tidak taat menjaga, kita sedang melakukan kesalahan yang sama seperti Belsyazar. Ingat renungan sebelumnya ketidaktaatan membuat tubuh mati, tetapi ketaatan membuat tubuh hidup.

https://titusuntoro.blogspot.com/2025/11/hidup-dalam-pengharapan-kebangkitan-dan.html


Pada akhirnya Yesus mengatakan bahwa kesetiaan kepada-Nya akan diuji dan bahkan “ditimbang.” Mereka yang bertahan, yang menjaga apa yang kudus di dalam hidupnya, akan memperoleh hidup.

Pertanyaan yang menusuk bagi kita, " Apakah kita masih menikmati “pesta” dunia dengan cara Belsyazar?

Mari taat dengan belajar setia. Kesetiaan bukan muncul tiba-tiba. Ia dibentuk dalam pilihan kecil setiap hari: berdoa ketika sibuk, jujur ketika semua orang tak jujur, bertahan ketika tidak dimengerti, dan tetap mengasihi ketika disakiti.

Yesus menutup Injil hari ini dengan janji yang penuh kuasa:
“Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu.”
Bukan hidup yang nyaman, tetapi hidup sejati dalam Allah.


Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk tidak jatuh dalam kesombongan, tetapi menyadari bahwa seluruh hidup kami adalah milik-Mu. Kuatkanlah kami untuk taat dan setia menjaga "perkakas yang Kudus" dalam diriku. Jadikan aku sebagai Bait Allah yang Kudus dan berkenan bagiMu. Amin.

Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati