Ketika Iman Berseru Lebih Keras dari Keadaan
Kalender Liturgi 17 Nov 2025
Senin Pekan Biasa XXXIII
PW S. Elisabet dari Hungaria, Biarawati
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I: 1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53.61.134.150.155.158
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12
Bacaan Injil: Luk 18:35-43
Ayat Emas:
“Yesus berkata, ‘Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau!’” (Luk 18:42)
Renungan:
Bayangkan seseorang yang buta duduk di pinggir jalan. Ia mendengar langkah orang lain berlalu, tetapi ia sendiri tidak tahu arah hidupnya. Ia percaya bahwa Yesus itu Tuhan, tetapi ia tidak dapat melihat-Nya.
Inilah gambaran banyak dari kita hari ini. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi sering kali kita “duduk di pinggir jalan kehidupan” , tidak tahu harus melangkah ke mana, tidak jelas melihat maksud Tuhan, tidak merasakan kehadiran-Nya secara nyata. Iman itu ada, tetapi mata rohani kita masih buram.
Orang buta di Yerikho itu mendengar bahwa Yesus sedang lewat. Ia tidak melihat, tetapi telinganya menangkap sesuatu: harapan. Iman mulai menyala. Ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Demikian pula kita; Yesus sering “lewat” dalam hidup kita:
- lewat firman yang kita baca,
- lewat teguran batin,
- lewat peristiwa hidup yang mengguncang,
- lewat misa, sakramen, atau sapaan seseorang,
- lewat ajakan untuk bertobat atau kembali pada Tuhan.
Tetapi setiap kali ingin berseru kepada Tuhan, ada suara-suara yang menekan:
- Kesibukan: “Tidak ada waktu untuk Tuhan.”
- Kekhawatiran: “Percuma berdoa, masalahmu tidak akan berubah.”
- Rasa bersalah: “Kamu tidak layak datang kepada Tuhan.”
- Lingkungan: “Jangan terlalu religius, nanti kamu dikira aneh.”
- Keraguan: “Apa iya Tuhan peduli?”
Itulah “kerumunan” yang menyuruh si buta diam. Kerumunan yang juga ingin membuat kita berhenti mencari Tuhan.
Namun yang luar biasa adalah si buta itu tidak diam. Ia berseru lebih keras.
Dan inilah yang menggerakkan hati Yesus. Dalam kegelapan hidup kita, dalam kelumpuhan batin, dalam kebingungan, dalam luka yang belum sembuh, Yesus berhenti ketika kita berseru dengan iman yang tekun. Ia mendekat dan bertanya kepada kita seperti kepada orang buta itu:
“Apa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu?”
Pertanyaan ini bukan hanya untuk si buta tetapi juga untuk kita saat ini:
- Untuk hati kita yang lelah.
- Untuk hidup kita yang sedang mencari arah.
Dan jika kita berani berkata, “Tuhan, aku ingin melihat,”
Tuhan akan membuka mata rohani kita:
- untuk melihat kasih-Nya di tengah masalah,
- untuk melihat jalan yang Ia sediakan,
- untuk melihat kebaikan-Nya yang dulu tertutup oleh kekhawatiran,
- untuk melihat bahwa kita tidak pernah sendirian.
Ketika mata itu terbuka, seperti si buta itu, kita pun bisa bangkit, mengikuti Yesus, dan memuliakan Allah.
Dari seseorang yang duduk di pinggir jalan, kita menjadi seorang murid yang melangkah dalam terang.
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, terang dunia, kami datang kepada-Mu seperti orang buta di pinggir jalan. Kadang kami percaya, tetapi tidak dapat melihat dengan jelas kehadiran-Mu dalam hidup kami. Bukalah mata hati kami. Kuatkan kami untuk berseru lebih keras daripada suara dunia yang ingin membuat kami diam. Datanglah dan jamahlah kami, agar kami dapat melihat kasih-Mu, kehendak-Mu, dan jalan yang harus kami tempuh. Teguhkanlah iman kami, dan jadikan hidup kami pujian bagi nama-Mu. Amin.
Komentar
Posting Komentar