Membangun Kerajaan Allah atau Kerajaan Diri?

Renungan Harian – Selasa, 25 November 2025

Pekan Biasa XXXIV
PF S. Katarina dr Aleksandria, Perawan dan Martir
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Dan 2:31-45
Mazmur Tanggapan: T.Dan 3:57.58.59.60.61
Bait Pengantar Injil: Why 2:10c
Bacaan Injil: Luk 21:5-11

Ayat Emas:

“Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan.”
(Lukas 21:8)


Renungan: 

Bacaan pertama dari Daniel 2 menggambarkan sebuah patung besar yang megah—kepala emas, dada perak, pinggang tembaga, kaki dari besi bercampur tanah liat. Patung itu melambangkan kerajaan-kerajaan dunia, yang tampak kuat, agung, dan tak tergoyahkan. 

Pada akhirnya, sebuah batu yang “terungkit tanpa tangan manusia” meremukkan semuanya, dan batu itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Itulah gambaran tentang Kerajaan Allah—kerajaan yang tidak dapat digoncangkan, tidak dapat diruntuhkan, dan bertahan selama-lamanya.


Sementara, kerajaan manusia, betapa pun megahnya, tetap rapuh. Kakinya terbuat dari campuran besi dan tanah liat—gambaran tentang ambisi manusia yang tampak kuat, namun pada kenyataannya mudah pecah.


Yesus Menegur Kekaguman pada Kemegahan Dunia

Dalam Injil hari ini (Luk 21:5-11), murid-murid terkagum-kagum pada bait Allah:

“Betapa indahnya batu-batu dan persembahan ini.”

Tetapi Yesus berkata dengan tegas:

“Tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain.”

Dengan kata lain:
Semua yang manusia bangun untuk meninggikan diri—pada akhirnya akan runtuh.
Kemegahan yang berfokus pada diri—tidak akan bertahan.

Yesus mengingatkan bahwa akan ada banyak hal yang mencemaskan: peperangan, pemberontakan, gempa, kelaparan, penyesatan.
Tapi inti dari semua itu adalah satu pesan:
Hati-hatilah, jangan disesatkan… termasuk oleh dirimu sendiri, tanpa sadar seakan kita sudah menjalani hidup Kristiani yang seimbang, tetapi ternyata jari-jari roda kehidupan kita ada sedikit bengkok yang membuat jalan kita serong


Kerajaan Diri atau Kerajaan Allah?

Inilah titik refleksi bagi kita:

Banyak orang memakai nama Yesus,

tetapi bukan untuk membesarkan Kerajaan Allah—melainkan membesarkan Kerajaan dirinya sendiri.

Mungkin melalui pelayanan, khotbah, komunitas, karya pastoral, aktivitas rohani, bahkan melalui konten digital rohani sekalipun.

Pertanyaannya:
Untuk siapa ini semua? Kerajaan Allah atau Kerajaan dirimu?

Jika tujuan kita adalah untuk dikenal, dihormati,dipuji,dicari orang,memperoleh keuntungan, maka sesungguhnya kita bukan membangun Kerajaan Allah, melainkan kamu sedang membangun kerajaan diriyang rapuh seperti kaki patung Nebukadnezar.

Karena itu kita harus kembali pada seruan Yohanes Pembaptis:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

(Yoh 3:30)

Inilah dasar pewartaan yang sejati, yaitu Membawa orang kepada perjumpaan pribadi dengan Yesus. Membiarkan hidup mereka diubah oleh Yesus, bukan oleh kita, inilah yang namanya Evangelisasi.

Inilah artinya kita berperan dalam membangun Kerajaan Allah.
Kerajaan yang tidak dapat diguncangkan,
kerajaan yang tidak bergantung pada popularitas manusia,
kerajaan yang tidak akan pernah runtuh selama-lamanya. 



Jika hari ini Tuhan bertanya:

Kerajaan mana yang sedang kamu bangun?
Kerajaan diri—yang megah tapi rapuh?
Atau Kerajaan Allah—yang tidak bisa diruntuhkan?




Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, terangilah hatiku agar aku tidak membangun kerajaan diriku sendiri, tetapi sungguh membangun Kerajaan-Mu yang kekal. Bebaskan aku dari ambisi pribadi, dari keinginan untuk dipuji, dan dari kecenderungan mencari kemuliaan bagi diri. Jadikan aku pewarta yang setia, yang membawa sesama kepada perjumpaan dengan Dikau. Mampukan aku untuk berkata dalam hidupku: Engkau harus makin besar, dan aku semakin kecil.
Amin.


Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maria, Hawa Baru yang Membuka Jalan Keselamatan

Abu di Dahi, Pertobatan di Hati