Berjaga-jagalah disetiap waktu
Renungan Sabtu, 29 Nov 2025
Ayat Emas:
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu kuat…” (Lukas 21:36)
Yesus memberikan peringatan kepada murid-murid-Nya: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora, kemabukan dan kepentingan duniawi.”
Mengutip ajaran Paus Paulus VI, bahwa Evangelisasi pertama-tama adalah memberikan kesaksian… tentang Allah yang dinyatakan oleh Yesus Kristus… memberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia.(EN.26)
Kasih Bapa ini sungguh dinyatakan, melalui bacaan Injil hari ini, Yesus tahu betul bahwa tantangan terbesar manusia bukanlah kelelahan fisik, tetapi ketumpulan hati ketika kita tidak lagi peka terhadap suara Tuhan.
Panggilan untuk "berjaga-jaga" adalah panggilan untuk menjaga kejernihan hati agar peka akan kehadiran Nya, apa pun keadaan kita.
Dalam Bab 3 buku Misi Evangelisasi yang dipakai untuk pengajaran KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) diajarkan tentang bagaimana membuat grafik iman, yang menjadi gambaran seluruh perjalanan iman, dari kita 0-10 tahun, 10-20 tahun, dan sampai pada saat ini.
Grafik Iman ini berhubungan apa yang kita rasakan tentang Tuhan. Kadang ada naik, dan sering kali ada juga turunnya.
Ketika hidup sedang tenang, kita mudah mengarahkan hati kepada Tuhan, karena merasa sedang menerima berkat Tuhan, kita merasa Tuhan dekat, grafik kita naik.
Tetapi hidup terasa pahit, sedang sakit, kecewa dalam menjalani kehidupan, kita merasa Tuhan jauh, grafik kita dibawah.
Jika gambaran grafik iman itu dilihat dari rasa kita, tetapi sesungguhnya rasa Tuhan tidak demikian. Realitas kehadiran Tuhan itu selalu ada di setiap waktu untuk kita, baik saat kita di atas maupun kita di bawah.
Di sinilah makna terdalam dari perintah Yesus: “Berjaga-jagalah.”
Sebab berjaga-jaga bukan hanya untuk masa damai, tetapi juga saat kita dibawah, saat-saat yang paling rapuh, bahkan di dalam sakaratul mautpun kita harus menjaga realitas kehadiranNya yang menyelamatkan.
Tahun 2017 menjadi momen yang sangat membekas bagi saya.
Ketika kami sedang rapat persiapan Perayaan Misa Syukur 10 tahun berjalannya KEP di paroki, saya menerima sebuah video dari keponakan saya.
Di video itu, saya melihat wajah bapak saya yang memang saat itu sedang sakit, mukanya memerah, mungkin karena takut atau menahan sakit yang sangat berat.
Dalam kondisi seperti itu, siapa pun bisa kehilangan fokus, mudah membuat seseorang lupa kepada Tuhan.
Tetapi syukur kepada Allah, Gereja menyediakan sarana rahmat melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Setelah menerima sakramen itu, bapak saya menjadi jauh lebih tenang, dan lalu dibawa ke rumah sakit.
Saya segera izin meninggalkan rapat KEP malam itu dan langsung pulang ke Solo, Jawa Tengah.
Pagi harinya, ketika saya tiba dan menjumpai beliau, ia sudah mendapatkan perawatan dan bisa diajak berkomunikasi.
Adik saya bertanya kepadanya:
“Pak, iki sopo?” (Ini siapa?)
“Anakku lanang (laki-laki),” jawab beliau.
Kesadarannya baik, namun di tengah masa pemulihan dan rasa sakit, ada kalanya beliau mengaduh, "aduh biyung", ungkapan khas yang biasa digunakan.
Sebagai anak, kami bergantian mengajak doa singkat, mengajak komunikasi mengingatkan kita siapa dan kepada siapa kita meminta pertolongan.
Dan pada akhirnya, ketika rasa sakit datang, Bapak saya mengaduh dengan doa:
“Gusti, kulo nyuwun kawelasan.”
(Tuhan, kasihanilah aku.)
Doa itu menjadi tanda bahwa di tengah penderitaan, beliau tetap berjaga-jaga.
Tetap mengingat Tuhan.
Tetap berpegang pada rahmat.
Dan ketika akhirnya beliau dipanggil Tuhan, beliau berpulang dalam damai.
Bagi kita orang beriman, kematian bukan akhir.
Sama seperti Kristus yang mati dan bangkit, kita pun percaya bahwa pada akhir zaman kita akan bangkit bersama Dia.
Jika Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14).
Tetapi karena Dia bangkit, kita memiliki dasar pengharapan yang memiliki tujuan, dan berjaga-jaga kita memiliki makna.
Kita berjaga-jaga bukan dalam ketakutan, tetapi dalam pengharapan oleh karena kasihNya.
Firman Tuhan Yesus hari ini menjadi peringatan sekaligus undangan bagi kita:
- Berjaga-jagalah, karena hidup ini rapuh dan dunia mudah membuat hati tumpul.
- Berdoalah, agar kita kuat di masa sulit.
- Jangan pernah berhenti berharap, sebab Tuhan selalu ada, apa pun beban yang kita tanggung.
- Tetap fokus pada Tuhan, dalam keadaan sehat maupun dalam kondisi paling menyakitkan.
Jika hati kita terarah kepada-Nya, kita tidak akan hanyut oleh pesta pora, kemabukan, atau kesibukan dunia yang menguras jiwa, tetapi menjaga relasi untuk merasakan kasih Tuhan yang Ia sediakan bagi kita.
Marilah berdoa;
Tuhan Yesus, ajarlah kami berjaga-jaga dalam setiap waktu.
Utamanya ketika hati gelisah, ajarlah kami tetap memandang kepada-Mu.
Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, jadikan hati kami selalu terjaga di hadapan-Mu.
Dan ketika saat terakhir kami tiba, biarlah kami berpulang dalam damai, dalam pengharapan akan kebangkitan bersama Kristus.
Amin.
Terima kasih telah membaca renungan hari ini. Jika renungan ini memberkati Anda, silakan bagikan kepada teman atau keluarga agar lebih banyak orang mengalami sapaan-Nya. Tuhan memberkati.

Komentar
Posting Komentar